Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 Oktober 2013
Belajar dari Soe Tjen Marching
Buku “Kubunuh Di Sini” merupakan
catatan perjalanan hidup Soe Tjen Marching, pengajar di universitas terkemuka
di Australia dan Inggris dalam bertarung dengan penyelinap ganas di tubuhnya.
Penggiat kelompok pluralisme, Lembaga Bhinneka, ini juga menuliskan tentang
kehidupan di negara dimana beliau tinggal.
Terimakasih untuk Soe Tjen
Marching yang telah menulis untuk membagikan pengalamannya. Dalam perjuangannya
menghadapi kanker, Soe Tjen dengan pengamatannya yg tajam membahas tentang layanan
kesehatan di tiga negara yaitu Indonesia, Australia, dan Inggris.
Soe Tjen juga bercerita tentang
pengalamannya tinggal di Indonesia, Selandia Baru, Australia, Inggris dan Jerman.
Buku ini juga membahas tentang perampokan manusia, tentang imigrasi, tentang
ketakutan manusia, tentang hubungan permainan politik dan kanker, tentang
penindasan dan hilangnya kemanusiaan.
London, 14 Februari 2011
Lampu jalan mulai dipadamkan tapi malam belum usai. rasa sakit
mengaburkan pandanganku. Ditambah dengan kabut, hampir semua tampak seperti
bayang-bayang tanpa ujud pasti. Terkadang sosok-sosok itu melebur menjadi satu.
Pesawatku mendarat di London pada hari Valentin, awal musim semi. Awal berita kematianku.
Tak lama mendarat, aku dijebloskan kerumah sakit karena kepedihan yang
luar biasa. Angus menjelma dari seorang suami menjadi induk yang merawat anak satu-satunya:
aku. Yang sudah begitu lemah, yang sudah sukar berdiri ataupun bergerak, yang
menjadi bayi lagi. Bayi raksasa yang cukup berat, dan selalu mengejang kesakitan.
Bayi yang lebih menyusahkan.
Hari itu, aku terbaring di Royal Marsden Hospital, rumah sakit khusus
penderita kanker.
Dokter Zafir, yang selalu tersenyum, menyodorkan menu penutup malam
ini: kematian. (halaman vii).
Berapa kali kamu harus bangkit dari kubur? Setelah mereka membasmimu
dengan cara yang brutal?
Kamu hidup lagi. Untuk yang keempat kali. Dan pada setiap kebangkitan,
kekuatanmu bertambah. Setelah tiga kali bersembunyi dalam rongga leherku,
sekarang kamu memutuskan untuk berpindah usaha yang luar biasa, dan fatal
bagiku. Mereka yang berdiri di sisi tempat tidur, yang bertugas membasmimu,
kini menyerah. Tidak ada jalan lain untuk memusnahkanmu.
Hidupku hanya bisa dipertahankan. Dengan segala cara yang paling
agresif sekalipun, mereka hanya akan memperlambat penjarahanmu di dalam
rongga-rongga tubuhku, dalam kerangka tulang belakang. Kemudian, kamu akan
tetap menyebar, melahap sel-sel di seputar perut dan dadaku, sampai akhirnya
merenggut semua sel itu sehingga kerja organ-organku terhenti dan persediaan
oksigen ke otak lenyap. Saat itulah manusia dinyatakan mati.
Apa yang dirasakan seseorang
mendengar kabar kematiannya? Antara ketidakpercayaan, penerimaan, keterkejutan,
dan kesedihan? (halaman ix)
Dalam buku ini, antara lain, Soe
Tjen bercerita tentang layanan kesehatan di Indonesia, Australia, dan Inggris.
Di negeri ini (Indonesia-noted)
semua harus dengan duit. Orang sakit yang tidak berduit dijamin cepat koit!
Begitulah negara yang katanya beradab yang menjunjung agama dan moralitas.
(halaman 2)
Hmm, benar juga ya. Kemana uang
pajak yang seharusnya menjadi uang pelayanan untuk kesehatan, pendidikan, dan
kesejahteraan masyarakat ya?
Masalahnya, aku sering tidak percaya dengan sistem kesehatan di
Indonesia. Dokter yang melakukan kesalahan seringkali lolos. Dulu, aku pernah
hampir mati hanya karena operasi gigi bungsu. Lampu tiba-tiba padam ketika aku tengah
dioperasi dan mesin dieselnya rusak.
Masih banyak kisah seram dari operasi disini akibat fasilitas atau pun
tenaga yang kacau. (halaman 3)
Soe Tjen bercerita juga tentang
pengalamannya untuk menjadi warga negara Australia, negara suaminya, Angus.
Beginilah cara negeri (Australia-noted) ini memilih penduduknya. Mirip dengan menyortir ternak di pasar.
Binatang mana yang bisa menghasilkan paling banyak, yang paling menguntungkan
si petani yang tamak?
Kalau ternak ini terbeli dan ternyata sakit, apa boleh buat, negeri ini
akan merawatmu, karena makhluk yang sakit sukar sekali menghasilkan apa-apa. Jadi
mereka harus sembuh. Tapi kalau ternak ini ketahuan mempunyai cacat atau sakit
sebelum terbeli, negeri ini akan menolakmu, karena ternak seperti ini sudah
afkiran. Tidak lagi bisa dihargai. (halaman 54)
Pemerintah Inggris memutuskan untuk membuat koloni baru di tanah ini
dengan memperlakukan Aborigin seperti binatang buruan –mereka disekap,
dipekerjakan, dan diperlakukan dengan keji. Mereka juga diracun dengan arsenik,
bahkan tidak jarang diburu seperti kangguru, untuk taruhan atau sekedar iseng,
sehigga populasi mereka menurun drastis. Tambang-tambang emas yang ditemukan
seringkali meningkatkan kerakusan.
Kekejaman yang luar biasa seringkali menimbulkan ketakutan, paranoia
bahwa yang lain akan berbuat serupa terhadap mereka. Pada tahun yang sama, para
migran yang sudah “menggagahi” tanah baru ini membatasi migrasi ke tempat itu:
migran yang membatasi migran—maling yang ketakutan akan dimalingi. (halaman
63).
Angus dan Soe Tjen pindah ke
Britania karena hukum imigrasi di Britania jauh lebih manusiawi daripada di
Australia. Tidak ada diskriminasi bagi yang sakit.
Soe Tjen menjadi pengajar di University of London yang bergengsi itu...
“Sungguh, menjadi pembicara di SOAS (University of London-noted) tidak semewah dan sesulit yang mereka kira.
(halaman 134)
Dunia akademik seringkali penuh dengan intrik, bahkan kekejaman. (halaman
135)
Indonesia, Januari 2010
Sekarang aku pulang. Ke Indonesia. Tapi apakah hidupku hanya untuk ini?
Bertahan dan bertahan selama mungkin. Dan kemudian, aku habis –tak bersisa
lagi?
Karena ini, aku begitu bersemangat dan bahkan memaksa tubuhku untuk
terus bekerja, dengan kondisi yang sudah hampir sekarat. Karena aku merasa
hidupku tidak akan lama. Terkadang inilah yang membuatku selalu terburu. Seolah
mencari apa yang harus kulakukan sebelum aku tidak bisa apa-apa lagi.
Aku sudah menjelma menjadi tukang sapu yang hanya punya waktu lima
menit untuk membersihkan seantero rumah megah. (halaman 144).
Soe Tjen ikut serta mendirikan
Masyarakat Bebas-Bising, yang diprakarsai oleh Slamet A. Sjukur.
Masyarakat Bebas-Bising adalah bentuk kepedulian terhadap masyarakat
akan adanya polusi kebisingan, terutama di kota-kota besar. Kita mengupayakan
supaya masyarakat lebih sadar dan pemerintah lebih sigap atas masalah ini. (halaman
147)
Menarik pembahasan Soe Tjen
tentang ketakutan yang merupakan musuh besar manusia. Peresmian Lembaga
Bhinneka sempat dibatalkan karena ketakutan terhadap organisasi massa sudah
terlanjur menyebar.
Berapa lamanya para calon
proklamator Indonesia harus mengadakan pertemuan rahasia, dalam ruang tamu
kecil, tidak saja untuk melindungi diri dari penjajah namun juga dari rakyat
yang ketakutan, dan yang siap mengkhianati mereka? Bahkan ketakutan ini menjadi musuh yang lebih besar daripada sang
penjajah. Sang penjajah sendiri tidak usah berbuat apa-apa, rakyatlah yang
bergerak untuk membungkam kebebasan berpendapat satu sama lain. Merekalah yang
menjadi agen-agen yang menggagalkan perjuangan melawan sumber teror yang
sesungguhnya. (halaman 159)
Kegagalan perjuangan melawan kekerasan seringkali disebabkan bukan oleh
penguasa atau peneror itu sendiri, tapi oleh karena masyarakat atau rakyat yang
ketakutan. Rakyat yang tidak bersedia melawan penjajah karena ketakutan itu,
dan siap untuk menghambat perjuangan bahkan mengkhianati mereka. Rakyat yang
kemudian turut menikmati kemerdekaan.(halaman 159)
Buku ini perlu dibaca dan
direnungkan. Satu hal yang kurang menurut saya adalah, buku ini tidak memuat
foto Soe Tjen. Minimal foto diri saat mengajar atau foto pernikahan. Rupanya
foto diri dan keluarga tidak untuk dipublikasikan.
TerimaKasih... Namaste _/l\_
DATA BUKU :
Judul : Kubunuh Di Sini
Penulis: Soe Tjen Marching
Tebal : ix + 250 halaman
Penerbit : Kepustakaan Populer
Gramedia, 2013
Selasa, 01 Oktober 2013
Review Buku: Kemaharajaan Sriwijaya, Lingkar Laksman
Novel Sejarah karya David Ezsar Purba
ini bercerita tentang ksatria melayu pelindung Dinasti Syailendra. Semacam
pasukan elite khusus untuk menjaga keamanan Dinasti Syailendra, yang memimpin
Kemaharajaan Sriwijaya.
Kemaharajaan Sriwijaya bertahta
di pusat Jayadvipa – kotaraja Maja
Tengah. Kemaharajaan Sriwijaya melayani dan memimpin 108 kadatuan yang
berada dalam persekutuan Banjaran Nagara,
yang membentang hingga ke negeri Siam dan Langkasuka di sebelah utara, hingga
ke Pulau Papua di sebelah timur.
Penguasa Syailendra berasal dari Kadatuan Indragiri, menyandang gelar Kemaharajaan Shri Wijaya (Sriwijaya), yang merupakan amanah
pemberian para Tetua dari Kabuyutan
Banjaran Nagara/ Tatar Sunda.
Dalam novel sejarah ini, penulis
melakukan rekonstruktif imajinatif tentang sistem mandala yang membuat
Sriwijaya bertahan lama, sejak pertengahan abad ke 7 hingga abad ke 14 masehi.
Bagaimana Ksatria dari Lingkar
Laksman mempertahankan keamanan dan memastikan agar regenerasi bisa berjalan
dengan baik ? Silakan simak novel yang seru ini.
Saya suka novel thriller seperti novel Dan Brown atau
novel Greg Iles. Saya juga suka novel sejarah bernapaskan thriller seperti novel karya David Purba ini. Namun dalam novel ini
ada “hikmah” yang patut direnungkan. Pasti ada ajaran mulia yang membuat satu
kerajaan bisa berjaya berabad-abad lamanya.
Ketika manusia Eropa belum kenal
mandi, ketika manusia Timur Tengah mencari penghidupan dengan menjarah harta
para saudagar, Kemaharajaan Sriwijaya telah melintasi lautan untuk berdagang
rempah-rempah hingga ke Madagaskar dengan kapal laut buatan sendiri.
Nenek moyang kita begitu hebat.
Pastinya DNA yang hebat itu telah diturunkan pada kita. Tetapi mengapa saat ini
kita begitu terpuruk sebagai bangsa ?
Marilah belajar dari sejarah.
Kita bisa belajar mengapa kita bisa berjaya, juga bisa belajar mengapa kita
bisa terpuruk. Mari membaca novel sejarah antara lain karya David Purba ini.
Novelnya seru, ditanggung tidak membosankan...
Bila ingin membeli novel ini,
sila hubungi David Purba.
TerimaKasih... Namaste _/l\_
DATA BUKU:
*Judul : Kemaharajaan Sriwijaya:
Lingkar Laksman
*Penulis : David Ezsar Purba
*Tebal : xvi + 376 halaman
*Penerbit : Indie Publishing,
2013
Kamis, 29 Agustus 2013
Warisan menjadi Malapetaka
Oei Hui Lan terlahir dengan
kemewahan dan kehidupan yang sempurna. Ayahnya, Oei Tiong Ham adalah orang
terkaya di Asia Tenggara, dikenal sebagai Raja Gula dari Semarang. Suami Oei
Hui Lan, Wellington Koo adalah politikus handal, ia menjabat sebagai Menteri
Luar Negeri China yang ikut serta dalam pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ibu Oei Hui Lan yang ambisius berhasil membawa Oei Hui Lan bergabung dengan
kalangan jet set Eropa yang sejajar dengan keluarga kerajaan di Eropa.
Perjalanan hidup Hui Lan bagaikan
sebuah kisah telenovela yang tidak pernah berhenti dengan konflik,
perselingkuhan dan tragedi kehidupan. Sang ayah tiba-tiba meninggal dan
menyisakan warisan yang menjadi petaka di antara 8 istri dan 42 anak-anaknya.
Warisan yang sejatinya membawa berkah berubah menjadi pertikaian yang tidak
pernah berhenti sampai detik ini.
Kami sekeluarga tinggal di kota
Semarang tepatnya di Jalan Gergaji. Rumah keluarga kami sangat besar dan
berasitektur klasik Eropa dengan campuran etnik China seperti negeri asal kami.
Dengan luas tanah 9,2 hektar, ayah
seperti mendirikan sebuah istana ditengah-tengah kota Semarang. (halaman 19)
Rumah kami mempunyai tampak fisik
bergaya khas Italia dengan lapisan lantai keramik putih. Tapi di setiap ruangan
terdapat sekat bambu yang menyerupai istana kerajaan di China. Rumah kami memiliki 200 ruangan, ditambah dapur, vila pribadi dan 2 paviliun besar
yang biasa digunakan untuk menjadi ruang pesta keluarga. Ditambah satu lagi, kebun binatang pribadi. (halaman 20)
Di ujung tanah belakang kami,
ayah membangun rumah yang diperuntukkan bagi pelayan kami dari etnis pribumi.
Di sebelah selatan rumah kami menjadi tempat khusus dapur dan ruangan kesehatan
tempat ibu saya biasa melakukan pijit. Kami memiliki 40 pembantu rumah tangga yang diurus oleh kepala pelayan atau majordomo, 50 tukang kebun yang bertugas mengurus tanaman serta rumput di
sekitar rumah kami. Kami juga memiliki dua
koki yang berasal dari China dan Eropa. (halaman 20)
Ibu tidak begitu menyukai masakan
Eropa, sama seperti Tjong Lan (kakak
perempuan Hui Lan –noted), ia lebih menyukai masakan Indonesia. Ia juga memiliki
koki pribadi khusus asal Jawa dan mempunyai seorang tukang cuci pribadi. Ia
tidak ingin baju mewahnya rusak oleh pembantu yang asal. Setiap hari ibu selalu
menghabiskan waktunya untuk menyenangkan diri. Kalau sudah lelah, maka seorang
tukang pijit asal China akan datang untuk memijitnya. Biasanya ia akan pijit
dipondok vila kami. Saya menyukai tempat itu, sebab terkadang terdapat wangi opium
yang sangat menyenangkan. Ibu memang suka menghisap opium saat stress. (halaman
21)
Ibunya Hui Lan setiap hari kerjanya bersenang-senang. Punya koki
pribadi, tukang cuci pribadi, tukang pijit pribadi. Rumah mewah, duit melimpah,
tetap stress juga ya. Buktinya suka menghisap opium alias narkoba. Duit dan
kesenangan hidup berlimpah ternyata tidak menjamin seseorang hidup bahagia. –noted
Selang waktu berlalu, saya jadi
tahu ternyata opium itu sejenis narkoba yang bisa menenangkan pikiran. Dan ayah
adalah salah satu penjual opium terkenal di Jawa. Ia juga mengekspor semua
hasil bumi di Jawa seperti kopi, cengkeh, karet ke Eropa dan Asia. Ayah juga
suka menghisap opium bila sedang senggang.
Perdagangan yang sukses membuat seseorang kaya raya, apalagi menjual
opium a.k.a narkoba. Hingga saat ini penjual (bandar) narkoba jelas kaya raya.
Oei Tiong Ham, pria kaya raya, memiliki banyak istri dan anak, rumah mewah,
bisnis lancar, tetap stress juga ya. Buktinya suka menghirup opium untuk
menenangkan pikiran.-noted
Bagaimana Oei Tiong Ham menjadi
Raja Gula yang kaya-raya? Ceritanya ada pada halaman 115-118.
Dengan bantuan Konsul Jerman (Mr. Thendor- noted) yang menolongnya,
Oei Tiong Ham mengirimkan pemuda-pemuda ke Eropa untuk belajar menjalankan
mesin (pabrik gula-noted) dan
mereparasi bila terjadi kerusakan. Dan
terbukti nalurinya benar. Sukses ayah berkesinambungan sebab ia tidak pernah
puas. Kuncinya adalah ia peka terhadap setiap pembaharuan dan gagasan sehingga
tidak pernah berhenti menyekolahkan karyawan ke luar negeri supaya bisa
mempelajari hal-hal yang baru.
Buku ini juga bercerita tentang
perjalanan hidup rumah tangga Oei Hui Lan dan Wellington Koo. Oei Hui Lan
memutuskan untuk meninggalkan Wellington Koo setelah suaminya membawa seorang
wanita lain bernama Laura serta mengakui wanita itu sebagai istri sah.
Ibu juga memberikan sebagian
warisan yang ia miliki kepada saya dan sebuah rumah di Paris. Saya pun
menghabiskan hidup saya untuk sekali lagi berkeliling-keliling dunia untuk
melupakan akhir tragis pernikahan saya dengan Wellington. (halaman 275)
Uang tidak bisa memenangkan cinta dan kesetiaan seorang suami (dan
istri juga;p).- noted
Sepertinya cobaan yang terjadi
karena harta warisan ayah tidak berhenti sampai di sana saja. Satu per satu
keluarga keturunan Lucy Ho dan Haow masih memperebutkan aset-aset mereka di
luar negeri yang terbagi-bagi. Karena saat Haow meninggal, ia mengatas namakan
semua perusahaan itu dengan namanya. Lucunya dalam keluarga Lucy Ho sendiri,
anak tertuanya Tjong Le dan Tjong Tjay saling mengklaim aset-aset mereka yang
berujung di meja pengadilan. Saya tidak
pernah mengerti keluarga macam apa kami ini, uang yang seharusnya membuat kami
hidup bahagia kini berbalik menjadi petaka diantara kami sendiri. (halaman
286)
Sepanjang hari usai peristiwa
menakutkan itu (Oei Hui Lan dirampok di
apartemennya di New York –noted), saya terus merenung dan akhirnya mengerti
mengapa saya tidak pernah bersyukur dalam kehidupan saya. Tuhan memberikan saya kehidupan yang sepatutnya saya hargai dengan suka
cita tapi ternyata saya tidak pernah puas dan ketidakpuasan itulah yang
akhirnya menjadi letak kehancuran keluarga kami dan ayah kami khususnya.
Kalau saya kaji hidup saya kembali, kami seharusnya menjadi orang bahagia
karena memiliki semua yang kami kehendaki tapi itu menjadi sebaliknya. Harta
yang berlimpah tidak dapat memberikan kebahagiaan yang seharusnya kami
dapatkan. (halaman 303)
Kisah tragis Oei Hui Lan ini
menarik untuk dibaca dan direnungkan.
TerimaKasih... Namaste _/l\_
DATA BUKU:
Judul: Kisah Tragis Oei Hui Lan,
Putri Orang Terkaya di Indonesia
Penulis: Agnes Danovar
Tebal: 309 halaman
Penerbit: AD PUBLISHER, 2012
ISBN: 978- 602- 19390-4-8
Sabtu, 17 Agustus 2013
Menjelajahi Diri bersama Siddhartha
Buku “Seni Memberdaya Diri 2,
Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran” ini merupakan salah satu favorit saya
dari sekitar 150 buah buku yang ditulis Bapak Anand Krishna. Buku ini membuat saya sangat terkesan karena sangat indah...
Buku ini merupakan re-rendering
kisah Siddhartha karya seorang
Master, Herman Hesse.
“Saya tidak sedang bercerita
tentang Siddhartha yang lahir dan mati kurang lebih 500-an tahun sebelum
Masehi, sebagaimana diriwayatkan oleh Hermann Hesse. Saya ingin bercerita
tentang Siddhartha yang masih hidup dan berada di tengah-tengahkita. Dan untuk
itu, saya meminjamkan “nyawa” saya kepadanya. Siddhartha yang akan Anda jumpai
adalah Siddhartha yang masih hidup. Pengalamannya masih sangat
relevan.”...halaman 7
“Latihan-latihan dalam buku ini
bersumber dari berbagai tradisi – sufi, yoga, tantra dan lain sebagainya.
Sumber inspirasi utama adalah Osho.
Selanjutnya, sistematika latihan-latihan ini serta penyusunannya sangat
dipengaruhi oleh pengalaman batin “Siddhartha”, tokoh utama dalam buku Hermann Hesse. Dan oleh karena itu,
kepada Osho dan Hermann Hesse, kupersembahkan karya ini.”...halaman 6
“Sesungguhnya, pengalaman batin
Siddhartha juga merupakan pengalaman batin Anda—pengalaman batin setiap
pelancong spiritual. Itu sebabnya, disela-sela karya ini, antara satu tahap dan
tahap yang lain, Anda akan bertemu dengan Siddhartha. Salami dia, sapa dia, dan
yang lebih penting dengarkan pengalamannya. Bersahabatlah dengan dia,
bertemanlah dengan dia. Ia bersedia menemani Anda sampai tujuan
akhir.”...halaman 7
“Lewat buku ini saya (Anand
Krishna-noted) mengundang Anda untuk menjelajahi
diri, mengolah diri, dan pada
akhirnya meleburkan diri dalam Kemuliaan
Ilahi. Lewat buku ini, saya mengajak Anda untuk mengikuti jejak Siddhartha.
Undangan telah saya sampaikan. Janji yang pernah saya berikan telah saya
tepati. Selanjutnya terserah Anda!”...halaman 7
Buku pertama adalah kisah
Siddhartha mencari jati diri. Kisah Siddhartha, putra seorang pendeta yang
saleh, menjadi seorang Samana, lalu pertemuannya dengan Gotama Buddha.
Buku kedua adalah kisah Siddhartha mengolah
diri. Bagaimana Siddhartha bertemu Kamala, seorang wanita penghibur terkenal di
kota. Siddhartha belajar seni bercinta dari Kamala. Cerita berlanjut dengan
kisah Siddhartha di tengah keramaian dunia dan berada dalam lautan samsara.
Buku ketiga adalah kisah
Siddhartha menggapai kesadaran. Bagaimana Siddhartha belajar dari sungai,
belajar dari tukang tambang yang bijak, hingga pertemuannya kembali dengan
Govinda, sahabat masa kecilnya.
“Siddharta baru menyadari
ketololannya. Menjadi Samana dan belajar menguasai panca indra, dan lain-lain,
sesungguhnya tidak membantu. “Ah, itu sebabnya aku harus bertemu dengan Kamala
dan Kawiswami,” pikirnya, “untuk belajar melepaskan mind, untuk membebaskan diri dari alam bawah sadar, untuk
terlepaskan, terbebaskan dari arogansi yang disebabkan oleh pengetahuan yang
terakumulasi selama bertahun-tahun.”...halaman 196
“Siddhartha yang lama, yang
berpengetahuan tinggi, yang sibuk mencari, kini mati sudah. Dan Siddhartha yang
lahir kembali sangat polos, lugu, tidak mencari sesuatu apa pun.”...halaman 196
“Ya, ia bisa belajar banyak dari
sungai. Hari itu, ia memperoleh pelajaran yang baru. Sungai tidak pernah
berhenti mengalir. Ia mengalir terus. Dan setiap aliran adalah aliran yang
baru. Tidak terjadi pengulangan. Kendati demikian, sesungguhnya sungai itu
tidak pernah kemana-mana. Ia selalu ada di sana. Siapa yang dapat memahami rahasianya?
Siddhartha tidak dapat memahaminya dan tidak
ingin memahaminya. Ia hanya mengamati sungai itu. Ia sudah berhenti mengambil
kesimpulan.”...halaman 197.
Indah banget...Intinya buku ini
wajib dimiliki, dibaca, latihan dalam buku ini dipraktekkan ;p Bila ingin
melatih diri dengan latihan seperti dalam buku ini, silakan menghubungi Anand Ashram.
TerimaKasih... Namaste _/l\_
DATA BUKU:
Judul: Seni Memberdaya Diri 2,
Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran
Penulis: Anand Krishna
Tebal: xvi + 242 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka
Utama, 1999
Langganan:
Postingan (Atom)
Translate
About Me
- Guruntala
- 🌹A dam mast qalandar. #BlessingsClinic 🌹Give some workshops: Meridian Face & Body Massage, Aromatherapy Massage with Essential Oils, Make up. 🌹Selling my blendid Face Serum. IG & twitter: @guruntala