Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Selasa, 27 Januari 2015
Hotman Paris Hutapea
Nonton acara "Talk & Cook" di Sindo TV bersama Hotman Paris Hutapea.
Hotman bersaudara sukses semua. Setiap 2 minggu berkumpul utk makan bersama di Kelapa Gading. Akrab.
"Tampil beda" advis Pak Hotman. "BE THE BEST".
Mirip dgn inti buku " Blue Ocean Strategy", agar bisa "tampak", bisa diperhitungkan, tampillah beda.
Beda dengan inovasi yang menyegarkan, beda dengan skill dan knowledge yg oke banget, beda dengan disiplin, ketekunan, terus belajar...
Anak- anak bisa sukses dan akrab semua tentu ada rahasianya ya. Ibunya memasak sop ikan dan menaksa anak makan sayur pahit seperti sayur bunga pepaya. "Makan biar pintar" merupakan ucapan sekaligus doa Ibunya Hotman Paris.
Ibunya juga seseorang yang disiplin. Setiap anak mendapat giliran masak dan membersihkan rumah. Jadi anak- anak belajar ketrampilan hidup yang dasar.
Keluarga yang sering makan bersama biasanya akrab ya...
"Yang tak pernah saya lakukan adalah mengkhianati klien demi uang", Paris Hotman Hutapea.
Uang memang bukan segalanya. Terlepas dari pro dan kontra tentang pribadi Hotman, tak dapat dipungkiri beliau adalah salah satu pengacara papan atas.
Ibunya seorang yang hebat... Ibu yang hebat menghasilkan anak-anak yang hebat :)
Semoga kita menjadi ibu yang hebat.
TerimaKasih... Namaste
Sabtu, 16 November 2013
Karlina Supelli
![]() |
| Foto dari DewiMagazine.com |
Senang mendengar pidato
kebudayaan yang dilaksanakan setahun sekali oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk
tahun ini diisi oleh Ibu Dr. Karlina Supelli.
Saya mengenal Karlina Supelli
sejak zaman SMA saya. Saat itu Karlina banyak diliput oleh media massa karena
prestasinya sebagai mahasiswi pertama lulusan Astronomi ITB, dan mendapat predikat
cumlaude pula.
Saya sampai mendaftar ke jurusan
Astronomi ITB karena ngefans sama Karlina.
Wkkkkkk...syukur tak lulus. Bisa puyeng kepala saya berurusan dengan matematika
dan fisika tingkat tinggi. Mana tahaaaan wkwkwk.
Saya juga rajin mengkliping
tulisan Karlina di Kompas, rajin mengkliping majalah yang memuat wawancara
dengan Karlina. Gitu deh saya kalo lagi ngefans.
Lucu juga mengingat saya sampai merenungkan tulisan-tulisan Karlina di Kompas,
padahal mana mudeng saya dengan
filsafat. Sekarang saya bisa ngikik guling-guling mengenang hal ini, namun dulu
saya serius banget loh merenungkan tulisan Karlina di Kompas.
Ketika ada peringatan Hari Kartini
di Institut Teknologi 10 November tahun 80an, ada questioner yang antara lain menanyakan “siapa wanita idola anda”.
Tak ragu lagi saya tulis, La Rose dan Karlina Supelli. Wkkkk... jadi geli. Mana
sangka saya sekarang suka menulis juga seperti
La Rose, dan suka filsafat juga seperti Karlina. Walau tentu saja filsafat yang
saya suka adalah filsafat yang ringan-ringan. Saya suka baca tentang simbol.
Saya suka baca buku Dan Brown karena
menyangkut simbol. Haiah...ngomong apa sih saya ini, dari mana hingga kemana
wkkkkkk...
Beruntung pada pameran buku
November 2013 di Istora Jakarta saya menemukan buku “Dari Kosmologi ke Dialog, Mengenal Batas Pengetahuan, Menentang
Fanatisme” karya Karlina Supelli. Saya pernah membaca wawancara Karlina
Supelli dengan Kompas tentang bagaimana buku ini ditulis.
Hidup terlalu berharga sehingga
harus diperjuangkan, Karlina pun bangkit menulis buku dalam keadaan sakit.
Syukurlah, Karlina sembuh dari kanker. Saya baca Karlina terkena kanker pada 6
bulan setelah saudara soulmate nya, Alex
Supelli, meninggal karena kecelakaan pesawat. Biasanya duka mendalam bisa
mencetus kanker...
Saya mengikuti tulisan Karlina di
Majalah Pesona walau kadang saya tak mengerti. Filsafat tingkat tinggi boo. Dan
saya pernah bertemu muka dengan Karlina saat Karlina menjadi pembicara pada
acara Happy Saturday yang diselenggarakan oleh Majalah Pesona.
Beruntung ya saya... Saya sudah bertemu
dengan penulis-penulis idola saya, mulai dari Almarhumah La Rose, Karlina, Cak
Nun, Anand Krishna, Alberthiene Endah, Dee Lestari, Raditya Dika dll. Pamer
booo wkkkkk
Bahkan saya tahu gosip tentang
Ibu Karlina. Saudara saya yang mengenal Karlina di ITB bercerita, “Saya tidak
sangka Karlina bisa berpisah dengan Ninok Leksono mengingat bagaimana Ninok
dulu menguber-nguber Karlina. Mas kawin untuk Karlina saat menikah adalah pembacaan
Asmaul Husna oleh Ninok Leksono. Sungguh menyentuh hati.”
Begitulah. Jalan hidup kita tidak
tahu. Perjalanan cinta, berapa lama seseorang terikat dalam ikatan suami istri
tidak lepas dari utang piutang karma atau takdir.
Yang pasti, Karlina Supelli adalah
salah satu wanita idola saya...
TerimaKasih... Namaste _/l\_
Selasa, 08 Oktober 2013
Belajar dari Penulis Serba Bisa: Dewi Lestari
Tulisan ini saya kutip dari buku
“My Life as Writer” karya Haqi Achmad dan Ribka Anastasia Setiawan.
Namanya juga kutipan, isinya hanya sedikit dong dibandingkan dengan bukunya.
Yang penasaran silakan beli di toko buku ya...
Penulis fenomenal. Mungkin itu sebutan yang paling pas untuk seorang
Dewi Lestari. Awalnya publik lebih mengenal sosoknya sebagai seorang musisi
sampai akhirnya di 2001, Dewi melakukan gebrakan besar dengan menerbitkan novel
pertamanya Supernova: Ksatria, Puteri,
dan Bintang Jatuh.
Setelah novel pertama, langkah Dewi di dunia tulis-menulis seakan tidak
dapat dibendung. Dewi melanjutkan langkahnya dengan menerbitkan Supernova: Akar di 2002 dan pada 2005 ia melanjutkan
seri Supernova dengan menerbitkan buku berikutnya yang diberi judul Petir.
Dewi menerbitkan kumpulan cerpen Filosofi
Kopi di 2006. Di 2007, Dewi membuat novel digital pertama berjudul Perahu Kertas. Pada 2008, Dewi membuat Rectoverso dan di 2009 Perahu Kertas
diterbitkan dalam format buku. Tahun 2011 Dewi kembali menerbitkan kumpulan
cerpen yang diberi judul Madre dan
setahun setelahnya ia menerbitkan buku keempat dari seri Supernova yang
berjudul Partikel. Perjalanan Dewi
sebagai penulis memasuki titik baru ketika ia menulis skenario film Perahu
Kertas yang disutradarai Hanung Bramantyo.
Dewi Lestari terus membuat banyak orang kagum dengan karya-karyanya.
Dewi terus membuat semua orang yakin bahwa ia memang juaranya, bahwa apa pun
yang dihasilkannya akan selalu menjadi magnet yang menarik banyak orang. (halaman
86).
Dewi mulai menulis sejak ia kelas 5 SD. Pada waktu itu, Dewi memiliki
khayalan yang kemudian menggerakkannya untuk mulai menulis.
Jika ada hal paling rutin yang aku lakukan seumur hidupku, selain makan dan minum, hal itu
adalah menulis buku harian.
Dewi rutin menulis buku harian, menuliskan ceritanya dengan tulisan
tangan hingga 1995.
Dimuatnya cerpen di majalah Mode dan kemenangan pada lomba menulis di
majalah Gadis membuat motivasi Dewi untuk menulis menjadi lebih kuat. Dari motivasi
tersebut, Dewi melangkah lebih lanjut.
Penulis handal tidak muncul
tiba-tiba. Dia rajin melatih diri. Bisa dengan rajin menulis buku harian
seperti Dewi. Bisa dengan rajin membayangkan sebuah cerita dan mulai merangkai
cerita itu dengan tekun seperti yang dilakukan oleh JK. Rowling.
Apa yang membuat Dewi memutuskan untuk menjadi penulis?
Pertama, karena menulis adalah sesuatu yang aku bayangkan akan terus
aku lakukan sampai tua nanti. Di satu sisi, menulis adalah profesi yang sangat
langgeng dibandingkan dengan industri hiburan atau dunia olahraga. Atlet
hidupnya sangat terbatas, penyanyi terbatas, model juga terbatas. Tapi kalau
menulis, sampai seseorang tua renta, selama fisik dan otaknya dapat bekerja, ia
dapat terus menulis. Bahkan ketika seseorang tidak lagi dapat mengetik, ia
dapat menyuruh orang untuk mengetik.
Kedua, menulis memberikan kemerdekaan untuk lebih banyak di rumah.
Menulis tidak mengharuskanku terjebak macet di jalan. Menulis membuatku tidak
perlu tampil menjadi orang lain yang bukan diriku. Dalam artian aku nggak perlu
make up atau dandan heboh untuk menunjukkan aku penulis. Sebagai penulis, aku
berbicara lewat bukuku.
Kamu ingin menjadi penulis?
Menurut Dewi ada beberapa syarat yang wajib dipunya jika kamu ingin
menjadi penulis:
1.
Berani
Gagal
2.
Berani
Berhasil
3.
Menjadi
Pengamat yang Baik.
4.
Jujur
dengan diri sendiri.
Kalau dari parameter luar, kesuksesan penulis dapat dilihat ketika
bukunya masuk ke kategori bestseller dan dia bisa mandiri dari royalti menulis.
Menurutku, itu adalah tolak ukur yang sangat jelas.
Kamu ingin menjadi penulis tapi merasa bahwa kamu tidak memiliki bakat
menulis? Jangan sedih! Menurut Dewi, faktor
untuk menjadi penulis bukan bakat, melainkan kerja keras.
Ingin mengintip cara Dewi Lestari dalam menyelesaikan buku?
“Tiap ada proyek atau buku yang
sedang aku kerjakan, aku harus pakai target, kalau nggak ada target semuanya
bisa molor.”
“Menurut aku, kunci jawaban dari
segala distraksi ketika menulis adalah tenggat. Kalau ada deadline, kamu
akan menemukan berbagai macam cara untuk menyelesaikan tulisanmu. Kalau nggak
ada tenggat bisa saja kamu berhenti menulis”
“FYI, aku tidak menulis setiap hari. Aku punya jadwal menulis ketika
aku sedang punya proyek atau sedang menyelesaikan buku. Sifatnya lebih ke
project based. Aku juga pengin punya rasa bebas dan tidak tiap hari menulis.”
“Karena sesungguhnya aku pun
punya masalah dengan rutinitas. Seperti sekolah misalnya. Aku, tuh, selalu
bertanya-tanya, why do I have to be at the same place at the same time,
everyday? Bagiku itu neraka.”
“Menulis pun sama. Tapi ketika aku sudah set up, misalnya,” Oke aku mau
nulis proyek baru”, aku benar-benar dalam sekian bulan akan terus menulis dan menjadikannya
ritual. Tapi setelah proyek itu selesai aku mau menikmati masa-masa tanpa menulis,
hanya baca, main sama anak, dan melakukan hal lain tanpa harus dikejar-kejar
nulis.”
Apa manfaat menulis yang telah Dewi dapat?
“Jika ditanya apakah menulis bisa membuat hidupku lebih berkualitas,
bermutu, dan berbahagia, jawabanku, ya. Karena ini memang hal yang aku inginkan
banget. Dan di sini aku berkembang. Aku bertemu banyak orang karena menulis.
“Dan saat ini bisa dibilang menulis adalah nafkahku, profesiku. Aku
tidak banyak lagi ambil job musik yang banyak keluar rumah. Aku lebih banyak
nulis di rumah dan sebagian besar pendapatanku adalah dari royalti. Jadi,
menulis adalah tempatku mencari nafkah.
Demikian kutipan tentang Dewi Lestari dari buku My Life as a Writer. Kutipan ini tidak sampai 3 halaman, sementara
bukunya setebal iv + 192 halaman. Buku ini berkisah tentang pengalaman Alanda
Kariza, Farida, Clara Ng, Vabyo, dan Dewi Lestari dalam meniti karir dan
menjalani profesi sebagai penulis.
Keren kan...
TerimaKasih... Namaste _/l\_
Belajar dari Penulis Produktif: Clara Ng
Saya suka rubrik “Aku &
Rumahku” pada Harian Kompas Minggu, 6 Oktober 2013, yang menampilkan rumah
Clara Ng. Yang menarik sih adalah cerita penghuninya karena penataan rumah
Clara tampak sederhana. Yang unik mungkin koleksi ribuan buku pada ruangan
kerja Clara.
“Saya menulis di satu laptop, tetapi mengerjakan tulisan itu dengan mengakses
dua laptop dan ribuan buku di ruangan ini,” katanya tertawa.
Sisanya, Clara sendirian. Ia memang selalu menganggap proses kreatifnya
adalah kerja soliter. Kesendirian memberinya ruang dan waktu untuk
bercengkerama dengan tokoh-tokoh rekaannya, melintaskan mereka dari ruang dan
waktu rekaan yang satu ke ruang dan waktu rekaan lainnya.
Menulis memang pekerjaan yang
menuntut kesendirian. Walau ada yang penulis yang suka menulis di cafe, tetap
saja dia “menyendiri” dalam dunia menulis. Hanya ada dia dan tulisannya.
Gemericik air dari kolam di samping ruang keluarga itu lebih sering
terdengar dibanding suara televisi gara-gara “no tv rule” yang diberlakukan
bagi Elysa dan Catrina.
“Sudah tiga tahun kami dilarang
menyalakan televisi,” tutur Elysa tersenyum-senyum. Hasilnya, Elysa lebih
banyak membaca, bahkan mulai melahap dan menulis resensi karya para peraih
Nobel Sastra, seperti Ernest Hemingway atau William Faulkner, di dalam blognya.
Semua, lagi-lagi dari kamar kerja Clara.
Televisi banyak menyita waktu ya.
Karena tidak menonton televisi, Elysa dan Catrina jadi banyak membaca, dan
menulis di blog! Membaca membuat seseorang lebih cerdas, beda dengan menonton
televisi yang membuat otak tidak berimajinasi.
Saya terkesan dengan blog Elysa
Ng. Elysa masih berusia 11 tahun namun sudah bisa menulis resensi buku yang
berbobot, dengan bahasa Inggris yang lancar pula.
“Saya hanya keluar rumah jika
memiliki tujuan pasti dan tidak mengundang kawan ke rumah. Tidak ada
pelatihan menulis di rumah, tidak ada perbincangan dengan kolega di rumah. Tamu
yang paling sering datang adalah kurir pembawa kontrak kerja penulisan,” tawa
Clara lepas.
Jarang keluar rumah dan rajin
bekerja adalah rahasia mengapa Clara begitu produktif. Saya pernah membaca twit
Alberthiene Endah, penulis yang sangat produktif, bahwa beliau mengurangi acara pergi-pergi, main ke mall, agar bisa produktif menulis. Nongkrong di cafe atau sering ke mall memang
membuang-buang waktu.
Ada “kemewahan” lain Clara, sesuatu yang selalu menautkan dengan
kenangan masa kecilnya. Di rumah Clara, sang ayah “menyita” sebuah ruang di lantai
atas untuk menaruh ratusan koleksi guci dan keramik yang diselamatkan dari 16
kapal dagang yang berabad-abad silam tenggelam di berbagai laut perairan Nusantara.
“Saya mengumpulkannya selama lebih dari 30 tahun,” kata sang ayah, Atma Djuana,
yang Selasa sore singgah di rumah Clara.
“Koleksi itu adalah bagian dari masa kecil saya,” katanya tertawa. “Masa
kecil saya hidup dengan kegemaran ayah saya memburu keramik dan guci kuno.
Karena hobi ayah saya akan barang bersejarah, setiap minggu saya dibawa jalan-jalan
ke museum di seluruh Jawa dan Sumatera,” ujarnya.
Tak aneh kalau Clara Ng selalu kaya khayalan, masa kecilnya memang kaya
warna. “Ah, saya malah belum pernah membuat cerita dari pengalaman masa kecil
keluar masuk museum itu,” katanya, lagi-lagi tertawa. Tertawa yang kemudian
menandakan keluarga ini selalu dilimpahi kebahagiaan.
Kekayaan seorang penulis memang
imajinasi. Dan kekuatan Clara adalah giat bekerja. Tanpa giat bekerja, mustahil
untuk menjadi penulis produktif.
Menarik bukan?
TerimaKasih...Namaste _/l\_
Sabtu, 14 September 2013
Belajar dari Perempuan Titik Nol
Sosialita Kompas Minggu, 15
September 2013, Marianty Indira ini
menarik. Menarik karena dia berjuang mulai dari titik nol, sebagai anak yatim
piatu di panti asuhan hingga menjadi wanita karir yang sukses saat ini.
Tanggal 28 Juli 1988, ibu dari
Anty (Marianty Indira) meninggal dunia setelah bertahun-tahun menderita kanker.
Sang ayah telah meninggal tiga tahun sebelumnya.
“Beberapa hari kemudian saya dibawa keluar rumah oleh saudara yang
tadinya saya pikir akan mengadopsi dan merawat saya. Saya tidak membawa
apa-apa., hanya dengan baju di badan. Saya ternyata dibawa ke panti asuhan di
daerah Pamulang Pondok Cabe. Saya ditinggal disana, tanpa bekal apa pun,”
kenang Anty.
Kerabat Anty tega sekali ya.
Bukannya memperhatikan anak-anak yatim piatu tapi membawa mereka ke panti
asuhan tanpa bekal apa pun. Namun manusia tetap diberi
rezeki oleh Yang Maha Penyayang. Toh Anty mendapatkan rezeki dalam bentuk lain.
Benar kata pepatah “rezeki tak lari
kemana”.-note
“Rumah saya dulu besar di daerah Pakubuwono, Kebayoran Baru, dan
Pejompongan, sementara di panti asuhan saya tidur beralas tanah. Di rumah, baju
saya sangat banyak, tapi di panti saya hanya punya baju yang saya kenakan.
Makan juga tidak gampang. Sementara dulu saya kalau makan sering tidak habis,”
ujarnya mengenang masa-masa sulit di panti asuhan.
Awalnya, malam demi malam di
panti asuhan diisi tangis. Apalagi ia juga tidak tahu kemana harus menghubungi
beberapa kakaknya yang sudah lebih dulu diadopsi. Sampai akhirnya, di usia yang
masih belia itu ia membuat keputusan penting: ia harus melupakan masa lalunya, harus meneruskan sekolah dan menjadi
yang terbaik. Karena hanya itu cara untuk bertahan hidup.
Hebat ya, Anty kecil sudah
mendapatkan ilham berupa kebijaksanaan. Percuma menangisi nasib, Anty menerima
keadaan, dan berjuang untuk hidup. Bayangkan bila Anty terpuruk dalam
kesedihan, terpuruk dengan dendam pada saudaranya, dia hanya akan menjadi orang
“sakit”, “bitter” yang menangisi
nasib.-noted
Anty lulus sekolah dasar dengan
mudah, diterima di SMP dengan beasiswa, begitu juga ketika masuk SMA. Ketika
duduk di kelas 1 SMA, Anty berhasil mendapatkan beasiswa TMG (Tokyo
Metropolitan Government) dan bisa masuk sekolah swasta terbaik di Jepang, Aoyama
Gakuin, pada tahun 1994.
Di Jepang Anty bisa merasakan
kehangatan sebuah keluarga. Ia tinggal bersama orang tua angkat, Kanji Iwabuchi
dan Mariko Iwabuchi yang memiliki tiga anak.
“Tuhan sangat baik mempertemukan saya dengan keluarga ini. Saya
menganggap merekalah orang tua saya. Mereka sangat sayang kepada saya,” kata
Anty.
Dengan limpahan kasih sayang dari
keluarga Iwabuchi, talenta Anty makin berkembang. Ia bisa menguasai bahasa Jepang,
baik lisan maupun tulisan, hanya dalam waktu yang tergolong singkat.
“Saya sempat kuliah satu tahun (di Aoyama Gaukin University jurusan Fisika).
Ayah saya (Iwabuchi) ingin agar saya menyelesaikan kuliah di Jepang. Tapi
Depdikbud meminta saya pulang ke Indonesia karena izin beasiswa saya hanya dua
tahun,” lanjutnya.
Kembali ke Indonesia, Anty
diterima di Sekolah Tinggi Telkom jurusan Teknik Industri, yang sengaja
dipilihnya agar bisa cepat bekerja. Ia lulus dengan memborong tiga gelar
sekaligus, yaitu termuda, tercepat, dan terbaik. Pintu karier pun terbuka luas.
Ia membangun karier dari bawah dan kini sampai pada posisi tinggi di sebuah
perusahaan asuransi.
Di titik puncak, Anty kini bisa
menengok ke belakang. Adakah perjalanan hidup yang disesalinya? “Tidak ada,” katanya. “Uang
bukanlah segalanya. Tanpa cobaan itu, saya tidak akan seperti sekarang.”
Cobaan membuat seseorang kuat ya.
Rata-rata orang sukses adalah orang-orang yang harus berjuang, tidak dimanjakan
atau bermalas-malasan. –note to myself
“Ibu dan ayah kandung saya pastilah orang baik. Karena dalam setiap
persoalan yang saya hadapi, saya selalu diberi jalan keluar dan kemudahan dalam
hidup, “ kata Anty.
Kita menuai apa yang kita tanam
dalam kehidupan ini atau dalam kehidupan lalu. We reap what we sow...
TerimaKasih... Namaste _/l\_
Langganan:
Postingan (Atom)
Translate
About Me
- Guruntala
- 🌹A dam mast qalandar. #BlessingsClinic 🌹Give some workshops: Meridian Face & Body Massage, Aromatherapy Massage with Essential Oils, Make up. 🌹Selling my blendid Face Serum. IG & twitter: @guruntala

