Tampilkan postingan dengan label Writer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Writer. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 Februari 2014

The Journey



Membaca buku The Journey 3 membuat saya tertohok. Selama ini saya menganggap tulisan perjalanan yang layak dibukukan adalah perjalanan ke daerah terpencil atau ke kota-kota cantik di Eropa, Amerika Serikat, Amerika Selatan, Jepang dll. Pokoknya ke suatu tempat yang sulit dicapai oleh orang kebanyakan. Di buku The Journey 3 ini, Windy Ariestanty menulis tentang perjalanannya ke Ubud. JFlow malah lebih lucu lagi. Perjalanan ke Kediri saudara-saudara!!! Ternyata tulisannya bagus juga.

Tidak perlu pergi ke daerah yang eksotis di Amerika Selatan nun jauh di sana untuk menulis buku!!! Yang penting adalah cerita yang menarik, cara bercerita yang menarik dan diksi yang menarik.

Saya jadi tertohok. Saya punya banyak pegalaman yang menarik namun saya belum bisa menulis sebagus Windy Ariestanty.

Saya pernah retreat di Anand Ashram Ubud. Pagi yang hening di kapel, mendengarkan musik sambil meditasi raasanya syahdu. Acara saat retreat seru-seru. Andai saya mencatat dengan teliti. Saya bisa menulis pengalaman saya yang luar biasa di sana. Pengalaman saya bisa dibukukan, minimal buku dengan self publishing. Cetak 30 buku dulu, teman-teman dirayu untuk beli hihihi.

Saya juga beberapa kali ikut retreat di One Earth Retreat Centre di Ciawi Bogor. Retreat Kundalini Yogo, Retreat Happy Family thru Kamasutra, Retreat Vippasana adalah beberapa retreat yang pernah saya ikuti. Retreatnya seru-seru. Nikmat rasanya kita meditasi pada pagi yang hening dengan musik yang indah. Rasanya syahdu. Jalan dari kamar menuju tempat meditasi juga menyenangkan bila di pagi hari. Dedaunan basah oleh embun, matahari belum terbit, suasana hening, kita jadinya berjalan dalam keheningan.

Intinya harus rajin menulis. Catatan harian perlu, bisa juga ditulis di blog. Lama-lama bisa dikumpulkan jadi buku deh. Penulis NH. Dini menghasilkan banyak buku dari catatan hariannya. Perjalanan sederhana bisa ditulis dengan menarik  oleh Nh. Dini. Penulis-penulis kaliber dunia juga banyak yang menulis berdasarkan perjalanan hidupnya.

Jadi, mari rajin menulis *ngomong ke diri sendiri.
TerimaKasih... Namaste _/l\_
Jumat, 15 November 2013

Cara Asyik Menulis Memoar / Travel Writing a la Agustinus Wibowo




Menarik membaca perbincangan LitBox @literarybox dengan Agustinus Wibowo @avgustin88 tentang menulis memoir pada tanggal 15 November 2013 di twitter;p

Agustinus Wibowo adalah salah satu penulis favorit saya. Rugi deh bila melewatkan buku-bukunya: Garis Batas, Selimut Debu, dan Titik Nol.

Berikut perbincangan LitBox dengan Agustinus Wibowo :

LitBox @literarybox: Apa alasan utama @avgustin88 menulis memoir? #WOTWQA

Agustinus Wibowo @avgustin88 :
1.1. Menulis memoir karena saya sadar memori itu tidak abadi, suatu saat pasti akan pudar dan mati, terkubur bersama pemiliknya.
1.2. Sebelum menulis, saya dibebani begitu banyak memori yang campur aduk, rasanya sangat menyiksa.
1.3. Memori yang campur aduk itu pun bagai masa lalu yang campur aduk, saya jadi penasaran apa makna hidup saya selama ini.
1.4. Memoar buat saya juga adalah perjalanan spiritual untuk menjawab berbagai pertanyaan filosofis dalam hidup, dan bikin saya tetap hidup.
1.5. Memoar terbaru saya tulis sebagai terapi psikologis, untuk membebaskan diri dari depresi karena kehilangan orang yang paling saya cintai.

LitBox @literarybox: 2. Memulis memoir = menuliskan hidup @avgustin88 untuk dibaca banyak orang. Apa saja pertimbangan Mas Agus sebelum menuliskannya?

Agustinus Wibowo @avgustin88:
2.1. Pertimbangan pertama adalah alasan personal, untuk pribadi saya sendiri. mengabadikan memori dan menjawab misteri hidup.
2.2. Dengan menulis memoar, masa lalu yang berantakan itu ditata ulang, seperti puzzle, sehingga menjadi berwujud nyata.
2.3. Menulis memoar juga menyadarkan saya bahwa perjalanan hidup yang telah saya lewati adalah hidup yang layak dijalani.
2.4. Dengan menulis memoar, saya bisa semakin menghargai hidup, menghargai masa lalu, masa kini, dan impian masa depan.
2.5. Alasan kedua, adalah berbagi. Supaya pembaca bisa mendapat hikmah dari perjalanan saya tanpa harus menjalani hidup saya.
2.6. Pertanyaan paling penting dalam menulis memoar adalah “How far would you go?”, “Sejauh mana bisa kau bagikan hidupmu untuk publik?”
2.7. Kurang detail bisa menjadikan memoar kering, tidak nyata. Terlalu detail malah bikin boring dan ga penting.
2.8. Tantangan memoar adalah bagaimana merangkum hidup dalam space yang terbatas. Pembaca juga tak perlu& tidak ingin tahu semua hal.
2.9. Semakin dirangkum, yang kita dapatkan adalah hal-hal yang paling esensial dari hidup kita. Kadang kita gak dapatkan ini kalau bukan untuk berbagi.

LitBox @literarybox: Apakah semua pengalaman yang ditulis @avgustin88 itu nyata, atau untuk alasan tertentu ada yang “diperhalus/disamarkan”?

Agustinus Wibowo @avgustin88:
3.1. Memoar adalah karya non fiksi, jadi semua harus realita, tidak boleh menciptakan realita.
3.2. Memoar yang ada unsur fiksinya,walaupun sedikit, sudah bukan memoar, harus dilabeli sebagai novel/fiksi.
3.3 Intinya adalah penulis memoar harus berusaha semaksimal mungkin setia pada kebenaran memorinya, walaupun memori takselalu benar.
3.4. Memoar juga tidak berarti semua hal harus dituliskan, bisa dipilah, bisa dikurangi detail untuk hal-hal tertentu dsb.
3.5. Banyak pertimbangan untuk menentukan mana yang harus ditulis, mana yang dihapus, tokoh mana yang harus dijaga privasinya.
3.6. Beberapa tokoh saya juga menggunakan nama/identitas samaran, demi melindungi privasi mereka. Dalam memoar  tak masalah.

LitBox @literarybox: 4. Banyak yang suka dan terharu dengan kisah Mama di Titik Nol, @avgustin88. What drive did you have at that time to write & share it in ur book?

Agustinus Wibowo @avgustin88:
4.1. Di saat-saat terakhir, baru saya menyadari kisah  Mama ternyata adalah bagian penting dalam perjalanan saya.
4.2. Perjalanan untuk kebanyakan orang adalah tentang pergi. Tapi pertemuan dengan Mama saat beliau sakit menyadarkan saya perjalanan adalah untuk pulang.
4.3. Saat-saat menemani orang tua yang hendak meninggal adalah saat-saat paling berat sekaligus paling membahagiakan.
4.4. Setelah perjalanan jauh dan pulang untuk melihat rumah/keluarga, saya belajar melihat dari sisi yang berbeda.
4.5. Kita biasa take-for-granted rumah/keluarga, padahal begitu banyak hak yang tidak kita ketahui tentang rumah/keluarga kita sendiri.
4.6. Pada saat ini saya baru mengenal masa kecil mama, mimpinya, cintanya, cemburunya, marahnya, rahasianya, kebahagiaannya dll
4.7. Sosok ibu yang dulu saya  kira  sudah saya kenal dekat, ternyata masih begitu asing. Saya beruntung masih punya sedikit kesempatan mengenal beliau.
4.8. Hikmah inilah yang ingin saya bagikan untuk pembaca. Perjalanan bukan hanya tentang tempat jauh, perjalanan bisa di rumahmu sendiri.

LitBix @literarybox: 5. Ceritain pengalamannya nyamar jadi penduduk Cina supaya bisa masuk ke Tibet dong, @avgustin88. Buat ngejar story?

Agustinus Wibowo @avgustin88:
5.1. Bukan buat ngejar story, tapi terpaksa menyelundup ke Tibet karena aturan yang anti pengunjung asing.
5.2. Jadi orang asing yang ke Tibet harus pake guide dan penerjemah, urus permit yang mahal, sewa mobil dsb. Saya tak ada dana itu.
5.3. Dan saya tidak suka perjalanan yang didikte, saya suka petualangan saya sendiri, jadi saya pilih menyelundup.
5.4. Menyamar jadi warga Cina. Paling takut kalo ada pos milisi/militer karena bisa dihukum/dideportasi . Pernah hampir ketangkap.
5.5. Untunglah karena faktor wajah dan bahasa, saya masih bisa selamat dengan menyamar sebagai warga Cina Selatan.
5.6. Tibet yang menegangkan, di masa awal perjalanan saya adalah proses mengalahkan ketakutan, pembuktian diri, penaklukan tantangan.

6.1. Buku harian, itu kuncinya. Tiap hari dalam perjalanan saya mencatat. Ini kemudian jadi harta karun tak terhingga.
6.2. Saat menulis memori keluarga, saya juga mewawancara banyak orang yang terlibat, sebagai verifikasi apa yang saya ingat.
6.3. Di zaman sekarang ada banyak teknologi untuk membantu memori: kamera, smartphone, videocam, dll. Alat bantu no 1 masih kertas + pena.
6.4. Karena kertas dan pena bisa mencatat detail emosi, perasaan, pemikiran kita saat itu. Alat bantu lain tidak bisa.
6.5. Saat membaca ulang oret-oretan saya dibuku harian, saya sering takjub karena banyak hal sebenarnya sudah  hilang di memori saya.
6.6. Memori tidak abadi. Saya mending kehilangan uang daripada kehilangan buku harian di jalan.
6.7. Saat nulis memori Mama, saya banyak terbantu oleh buku harian & surat-surat yang ditulis Mama. Memori paling otentik adalah tulisan.

7.1. Sementara ini masih fokus di non fiksi, jadi penulis perjalanan. Pengen sih belajar fiksi tapi tidak harus jadi penulis fiksi.
7.2. Lagipula memoar itu bukan biografi, bukan perjalanan kita seumur hidup, tapi hanya satu fragmen saja dari perjalanan.
7.3. Kita hidup 30 tahun, 40 tahun, kalo semua pengalaman/kisah hidup ditulis bisa jadi 10 buku kalo bener mau digali.
7.4. Saya menulis memoar melalui travel writing/narasi perjalanan. Kuncinya adalah tetap melakukan perjalanan.

LitBox @literarybox: 8. Sejauh ini, dimana tempat favorit yang pernah @avgustin88 kunjungi dan kenapa?

8.1. Kalo ini, sebenarnya yang favorit bukan masalah tempat, tapi rasa. Tiap tempat menyisakan rasa berbeda.
8.2. Buat saya, pengalaman paling berkesan adalah ketika jadi relawan di daerah bencana, misal di Aceh dan Kashmir.
8.3. Karena di situ saya bertatapan dengan sifat dasar manusia, bagaimana jika harus dihempaskan ke titik terendah dalam hidup.
8.4. Daerah bencana juga mengajarkan saya akan kehangatan kemanusiaan, semangat berbagi, dan semangat bangkit  dari kehancuran.

LitBox @literarybox 9. Berdasarkan pengalaman @avgustin88, apa resep untuk jadi travel (and memoir) writer yang baik?

Agustinus Wibowo @avgustin88:
9.1. Yang pertama adalah keingintahuan yang besar, banyak bertanya terhadap hal-hal yang bahkan kamu kira kamu sudah tahu.
9.2. Berpikir kritis ini adalah yang paling vital. Tanpa pemikiran, memoar dan catatan perjalanan jadi tidak ada artinya.
9.3. Hal lain adalah menghindari generalisasi. Ingat semua orang unik, punya kisah masing-masing, tidak boleh dipukul rata.
9.4. Terutama dalam tulisan travel, generalisasi sangat berbahaya dan memuakkan, menunjukkan  pemikiran yang sempit dari penulisnya.
9.5. Hal berikutnya adalah jujur. Kalo tulisan kamu ada unsur fiksi, sebutlah novel, jangan dilabeli sebagai catatan perjalanan atau memoar.
9.6. Kebohongan dalam tulisan nonfiksi adalah fatal, merusak kredibilitas. Kalo di LN bisa dituntut.
9.7. Catatan perjalanan yang bagus dari interaksi yang bagus, memoar yang bagus dari perenungan yang dalam. Soal teknik itu urusan belakangan.

LitBox @literarybox: 10. Minta rekomendasi 5 buku memoir yang oke menurutmu dong.

Agustinus Wibowo @avgustin88:
10.1. Pastinya Imperium, karya Ryzard Kapuscinski, memoar + travelwriting tentang Uni Soviet.
10.2. Disini Kapuscinski yang orang Polandia memandang masa kecilnya di zaman perang, lalu dia menjelajahi garis batas Soviet.
10.3. Berikut, Tidak Ada Jalan yang Sama karya Yu Hua.
10.4. Yu Hua adalah novelis China. Buku ini adalah kumpulan tulisan buku harian, dimulai dari kelahiran anak lelakinya.
10.5. Dia menulis perjalanan hidup dirinya, diparalelkan dengan anaknya yang bertumbuh dari bayi jadi dewasa.
10.6. Baghdad without A Map karya Tony Horwitz. Kisah perjalanan jurnalis US berdarah Yahudi di negara-negara Timur Tengah.
10.7. From Beirut to Jerusalem, Thomas Friedman, kisah jurnalis di medan perang Timur Tengah. Evocative banget.
10.9. Even Silence Has an End, Ingrid Betancourt. Kisah capres perempuan Columbia yang ditulis pemberontak, 6 tahun di hutan.

Agustinus Wibowo @avgustin88:
@literarybox dan semoga teman-teman terinspirasi nulis memoar. You don’t need to be somebody to write a memoar, coz everybody has unique story.

Horeeee... Terimakasih telah berbagi Koh Agustinus Wibowo dan Literary Box.
Terimakasih... Namaste _/l\_
Sabtu, 27 April 2013

Biaya Riset Menulis: dari "Antologi Rasa" hingga "Hermes Temptation"



Masih dalam rangka memperingati Hari Buku dan Hari Hak Cipta sedunia, saya akan membahas biaya riset seorang  penulis. Memang modal utama seorang penulis adalah kepekaan dia terhadap kejadian di sekeliling, kepekaan dalam menangkap emosi seseorang, tekad yang kuat untuk merangkai kata menuangkan ide, pemikiran menjadi sebuah cerita. Namun tetap ada biaya riset!

Saya membaca dari salah satu buku Pak Anand Krishna, bahwa untuk menulis satu buku, minimal seseorang telah membaca 20 buah buku. Membaca, terinspirasi, menjadikan referensi tidak berarti copas karya orang lain. Perhatikan deh buku hasil copas, aliran cerita semacam dipaksakan. Sebagai orang lebay saya berpendapat bahwa buku yang ditulis sepenuh hati itu menjadikan sebuah buku bernyawa. Buku hasil copas bagaikan buku zombie qiqiqi.

Seseorang bisa saja menulis cerita dengan latar belakang satu tempat misalkan Swiss padahal belum pernah berkunjung ke Swiss. Penulis bisa riset dengan banyak membaca dan googling tentang Swiss, melihat foto tentang Swiss, membaca tentang budaya Swiss, tempat hang out yang hips di Swiss dll. Penulis kudu mengeluarkan biaya untuk koneksi internet dan untuk beli buku atau majalah kan. Riset perlu biaya booo!

Bagaimana seorang Agustinus Wibowo menulis buku-buku “Garis Batas”, “Selimut Debu” atau “Titik Nol” ? Dengan berkelana ke tempat-tempat menantang yang diceritakannya. Menulis buku-buku tersebut membutuhkan waktu, tenaga, pikiran, keberanian bertualang dan yang pasti duit binti hepeng. Memangnya bisa beli tiket dan membayar akomodasi dengan senyum saja?

Saya membaca tweet penulis Ika Natassa @ikanatassa yang menulis cerita tentang proses riset pembuatan buku. Penulis novel laris “A Very Yuppy Wedding”, “Antologi Rasa”, “Divortiare”, “Twivortiare” ini menulis bahwa komisi dari penjualan novel dia dipergunakan untuk biaya riset. Ika Natassa hidup mapan sebagai Bankir berprestasi. Toh Ika perlu juga duit komisi penjualan buku untuk riset buku berikutnya. Bankir yang menulis untuk fun tetap perlu duit komisi apalagi penulis yang hidup sepenuhnya dari hasil penjualan buku.

Ika menulis di twitter bahwa riset pembuatan novelnya “Antologi Rasa” memakan biaya yang besar. Antara lain riset beli tiket untuk melihat langsung balap F1 di Marina Bay Circuit Singapore. Harga tiket nonton  sama dengan harga sebuah sepeda motor, belum tiket pesawat Jakarta-Singapore pp, biaya hotel, biaya makan di sana.

Ika juga terbang ke Bangkok untuk menonton langsung konser John Mayer. Yak bisa diperkirakan biaya tiket nonton konser, biaya tiket pesawat Jakarta-Bangkok pp plus akomodasi...

Menurut Ika, bisa saja menulis berdasarkan hasil baca dan googling. Namun Ika memilih untuk mengalami langsung agar merasakan bagaimana rambut berkibar diterpa angin saat menonton balap F 1 yang legendaris itu. Dengan mengalami sendiri satu peristiwa, cerita yang ditulis bisa lebih bernyawa.

Jelas sekali bila kita membeli buku bajakan maka penulis tidak mendapatkan uang komisi. Otomatis tidak ada biaya riset yang membuat penulis patah arang tidak mau menulis lagi. Yang rugi adalah kita para pembaca karena tidak mendapat hiburan/pengetahuan/kebijakan dari sebuah buku yang menarik.

Saya baca buku terbaru Miss Jinjing Amelia MasniariBelanja Sampai Mati di Turkey” bahwa Miss Jinjing perlu berkali-kali datang ke Turkey dalam rangka menulis bukunya. Miss Jinjing –MJ- harus merasakan menginap di beberapa hotel terbaik, mencoba tempat2 hang out yang lagi hips (happening), mendatangi tempat-tempat belanja yang hips disana, dan pastinya menjinjing belanjaan.

Saat menulis “Belanja Sampai Mati di China”, MJ perlu beberapa kali ke China, menyusuri tempat-tempat belanja yang terkenal atau yang unik. Hitung saja tiket pp Jakarta-China, ongkos menginap di hotel, ongkos high tea di cafe atau hotel bintang lima, ongkos lunch atau dinner di restoran hips tempat Tai-Tai (Nyonya-nyonya Besar) hang out. Dan pastinya ongkos belanja selama disana. Tak mungkin lah MJ datang ke tempat belanja yang oke kemudian pulang tanpa menjinjing.

Demikian pula saat pembuatan buku-buku yang lain, “Miss Jinjing Belanja Sampai Mati di Paris”, “Miss Jinjing Belanja Sampai Mati di Korea”, “Miss Jinjing Belanja Sampai Mati di Dubai”, “Miss Jinjing Belanja Sampai Mati di Jepang”. Semuanya perlu biaya riset yang besar. Coba renungkan wahai pembajak dan pembeli buku bajakan.

Coba baca deh buku ‘Hermes Temptation” yang ditulis Fitria Yusuf dan Alexandra Dewi. Dewi berkali-kali terbang ke Paris untuk belanja  di butik eksklusif Hermes. Tiket pesawat bussiness class Jakarta-Paris pp, beli tas-tas Hermes, hotel dan akomodasi selama di Paris pastinya besar biayanya. Syukurlah kita tidak perlu mengeluarkan duit segitu banyaknya untuk mengetahui lika-liku pembelanja Hermes. Cukup menukarkan duit 125 ribu di toko buku, kita mendapatkan pengalaman itu hihihi. Terimakasih kepada para penulis.

Mari membeli buku asli. Buku bajakan? Tidaaakkk!!!

TerimaKasih... Namaste _/l\_
Kamis, 03 Mei 2012

Kiat Menulis Biografi a la Alberthiene Endah


       Tulisan ini sudah lama tersimpan, sayang bila dibuang. Bahan-bahannya dikutip dari materi Writing Workshop #wordisme 19 November 2011 yang dibawakan Mbak Alberthiene Endah. Juga dikutip dari twitter @AlberthieneE tentang kiat menulis biografi.

Oleh-oleh dari workshop #wordisme:
      
       Biografi adalah sejarah perjalanan hidup seseorang, menceritakan kehidupan seseorang, pesan kehidupan seseorang yang sarat dengan emosi.
       Dalam buku biografi kita dapat menemukan nilai-nilai yang dimiliki seseorang yang membuatnya dari nothing menjadi something.

Yang diperlukan seorang Biografer:
1.     Wawancara
2.     5 W + 1 H. Siapa tokoh ini, bagaimana tokoh ini. Dalam hal ini Biografer perlu dalam keadaan emosi yang prima sehingga tidak mudah tersinggung.
3.     Menulis konfigurasi perasaan seseorang.
4.     Peka, care, empati pada orang lain.
5.     Lagi dan lagi, kepekaan rasa.

Tokoh yang menarik untuk dibuatkan biografinya:
1.     Memiliki kekayaan hidup, memiliki sesuatu yang perlu dicontoh, contoh hidup yang bisa ditiru, berjuang dari nothing to something.
2.     Memiliki human interest.
3.     Punya agenda. Agenda nara sumber dan agenda penulis.
Contoh: saat penulisan biografi Pak Probosutejo, agenda Pak Probo dalam penulisan biografinya adalah menggambarkan hubungan Probosutejo dan Pak Harto yang hangat.
Penulis memiliki agenda ingin tahu versi kisah PKI dari sudut rumah Pak Harto.
Jumat, 02 Desember 2011

Modal Penulis


Seseorang mention @ikanatassa, pengarang novel A Very Yuppy Wedding, mengapa isi novel-novel Ika Natassa selalu menceritakan diri sendiri. Mungkin maksud seseorang tersebut, tokoh-tokoh dalam novel-novel Ika Natassa adalah seorang Banker seperti Ika Natassa.

Mira W menulis novel yang tokoh-tokohnya seorang dokter seperti profesi Mira W. Pengarang NH. Dini menulis seri novel tentang kehidupan yang dijalaninya mulai kecil, jadi pramugari, istri Diplomat Perancis, hingga menjalani masa tua di Ungaran. John Grisham yang terkenal dengan novel-novel best seller, A Time to Kill, The Firm, Pelican Brief, The Client dll bercerita seputar dunia John Grisham, dunia seorang Lawyer.

Kamis, 01 Desember 2011

Alexandra Dewi


Saya baru saja membaca buku “Pernikahan Antar Bangsa” dimana ada beberapa pasangan yang menikah dalam kondisi “baru-kenal”. Mereka punya visi-misi yang sama, menurut mereka, yaitu menomor-satukan Allah dalam pernikahan mereka. Punya tujuan yang sama merupakan point yang bagus, namun bagaimana jalan bersama menuju tujuan itu. Apakah membahagiakan ? Mungkin Ibu-ibu yang mengisahkan kisahnya begitu ikhlas sehingga menerima apapun onak dan duri dalam pernikahannya.

Saya membaca juga kisah pernikahan antar-bangsa dalam majalah Pesona edisi Oktober 2011. Ibu yang menuliskan kisahnya dalam majalah Pesona ini lebih terbuka dimana dia menceritakan bahwa kehidupan perkawinannya tak mudah. Walaupun dia -Hartati Nurwijaya- menikah karena cinta, namun dia tetap mengalami masa-masa penuh stress, bagaimana dia harus berjuang menghadapi culture shock dan post power syndrome. Dari wanita yang memiliki penghasilan sendiri, menjadi peminta uang pada suami. Hartati berhasil memulihkan kepercayaan-dirinya dan bisa menjalani hari-harinya dengan bahagia. Dia menjadi penulis dan menjadi tour leader paruh waktu. Buku pertama Hartati berjudul “Love and Shock: Perkawinan Antar Bangsa” laris dan dicetak ulang.

Kisah pernikahan yang happily ever after hanya ada dalam Kisah Cinderella. Kenyataan dalam hidup tidak sesederhana itu. Untuk itu orang harus terus belajar, dari pengalaman hidup, dari buku-buku. Buku-buku karya Alexandra Dewi antara lain “the heart inside the heart” dan “It’s Complicated” very recommended untuk wanita yang mau menikah maupun yang sudah menikah. Tulisan-tulisan di buku Alexandra Dewi ini bagai teman yang sharing pengalaman tanpa menghakimi.

Rabu, 30 November 2011

Word Is Me


     Sangat bersyukur mendapat kesempatan mengikuti Workshop sehari #wordisme 19 November 2011 di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta. Workshop ini digagas oleh Mbak Alberthiene Endah dan didukung oleh para penulis kondang , yang sudah membuktikan bisa “write for life”. Para penulis ini berbagi untuk mereka yang berbakat dan berminat mengembangkan diri melalui kemampuan menulis. Karena banyak sekali anak muda yang ingin menulis, ingin berkarir di bidang tulis menulis, namun tak mengerti bagaimana jalannya, atau karena dibelenggu oleh rasa tak percaya diri. Demikian pengantar dari Mbak Alberthiene Endah mengawali Workshop Menulis WORDISME, “Menulis untuk hidup dan menghidupkan”.
  
      Kita, 300 peserta yang beruntung ini bisa bertatap-muka dan mendengarkan sharing dari Petty S. Fatimah (Pemred majalah Femina), Reda Gaudiamo (Pemimpin Grup Majalah Lifestyle Gramedia), Alberthiene Endah (Penulis Biografi, Novelis), Raditya Dika (Blogger sukses, Penulis), Ollie Salsabeela (Blogger, Entrepreneur Penerbitan), Djenar Maesa Ayu (novelis, cerpenis), Clara Ng (novelis, cerpenis), Salman Aristo (penulis skenario film layar lebar), Alexander Thian (penulis skenario sinetron dan editor), Aditya Gumay (sutradara, penulis skenario), Windy Ariestanty (editor penerbit Gagas Media), Hetih Rusli (editor penerbit Gramedia Utama).

     
Selasa, 18 Oktober 2011

AMY TAN

Salah satu penulis favoritku adalah Amy Tan. Karyanya menarik sekali, unik, segar. Menarik sekali kehidupan wanita Amerika keturunan China yang mengalami dua budaya, China dan Amerika.

Keluarga Amy Tan juga special. Ibunya penuh trauma, antara lain karena menyaksikan ibu kandungnya bunuh diri di depan dia. Ibunya juga trauma karena mengalami penderitaan dengan suami pertamanya.
Buku-buku Amy Tan yang terkenal adalah “The Joy Luck Club” dan “The Kitchen God’s Wife”.

“The Joy Luck Club” menarik karena memaparkan sudut pandang wanita-wanita yang lahir di China kemudian imigrasi ke Amerika. Ibu-ibu ini Suyuan Woo, An-Mei Hsu, Lindo Jong, Ying-ying St. Clair punya perspektif berbeda tentang hidup dan kehidupan dengan anak-anak perempuan mereka yang lahir dan besar di Amerika, Jing-mei Woo, Rose Hsu Jordan, Waverly Jong, Lena St Clair.

Amy Tan sangat jeli menggambarkan perspektif hidup Ibu–Anak yang hidup dalam dua budaya berbeda.
Namun, yang paling menarik adalah kehidupan Amy Tan sendiri yang ditulisnya dalam buku “The Opposite of Fate”.

Ibunya yang penuh trauma, yang memandang kehidupan dengan kaca mata suram, yang sangat moody mendorong Amy Tan untuk menjadi seorang penulis. Mungkin bila dibesarkan oleh seorang Ibu normal, yang memandang dunia dengan kaca-mata cerah ceria, menurut Amy Tan, mungkin dia sudah menjadi dokter atau pemain piano profesional.

Translate

About Me

Foto Saya
Guruntala
🌹A dam mast qalandar. #BlessingsClinic 🌹Give some workshops: Meridian Face & Body Massage, Aromatherapy Massage with Essential Oils, Make up. 🌹Selling my blendid Face Serum. IG & twitter: @guruntala
Lihat profil lengkapku

Followers

Komentar Terbaru

Visitors

free counters