Tampilkan postingan dengan label Justice. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Justice. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 November 2013

Malpraktek oleh Terapis


Foto dari Facebook Flower Power


Suami seorang teman membawa istrinya, yang kondisinya semakin kritis, ke Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapore. Setelah pemeriksaan intensif oleh tim dokter di sana, ketahuan bahwa diagnosis dokter di rumah sakit XYZ di Indonesia salah.

Menurut para dokter ahli disana ,” Kok bisa istri bapak didiagnosis stroke. Karena di diagnosis stroke maka obat-obatan yang diberikan adalah untuk penderita stroke. Tidak heran bila kondisi pasien menjadi semakin parah. Bila tidak cepat ditangani ,istri bapak bisa lumpuh.”

Salah diagnosis bisa mengakibatkan lumpuh hingga kematian. Namun suami teman ini tidak akan menuntut para dokter atau rumah sakit XYZ di Indonesia. Siapa yang punya waktu untuk berurusan dengan hukum? Tidak sepadan dengan waktu, tenaga, uang yang harus dikeluarkan.

Dokter di Singapore itu bercerita, “ Kami, para dokter di Singapore, harus hati-hati melakukan diagnosis. Kalau tidak, izin praktek kami dicabut. Saya bisa jadi sopir taxi karena saya tidak punya keahlian lain selain nyetir dan jadi dokter.”

Malpraktek ternyata tidak dilakukan oleh dokter saja. Psikiater, psikolog, hipnoterapis juga bisa melakukan mal praktek, antara lain dengan membuat pasien mendapatkan memori palsu di pikirannya. Oleh karena itu ada perkumpulan di www.fmsf.com yang didirikan oleh Elizabeth Loftus karena banyaknya mal praktek yang dilakukan oleh terapis.

Di Missouri tahun 1992, Beth Rutherford menggugat ayah kandungnya atas tuduhan telah memperkosanya pada usia 7 hingga 14 tahun. Beth Rutherford juga menuduh ayahnya telah memaksanya untuk melakukan aborsi selama 2 kali.

Ayahnya, mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai Pendeta akibat tuduhan yang dilontarkan oleh Beth Rutherford.

Rata-rata orang akan percaya pada si gadis. Tidak mungkin dong seorang anak gadis berbohong mengenai ayah kandungnya sendiri, atas tuduhan pemerkosaan lagi.

Ternyata menurut visum, Beth Rutherford masih virgin pada usianya yang ke 22 tahun. Berarti Beth tidak pernah diperkosa, dan pastinya tidak pernah dipaksa untuk aborsi oleh Bapaknya.

Mengapa Beth Rutherford yakin bahwa dia diperkosa selama 7 tahun oleh ayah kandungnya? Karena dia telah membuat false memory di pikirannya, karena “bimbingan” seorang terapis.

Silakan membaca website  seorang Hipnoterapis terkemuka, Dr. Adi W Gunawan yang berjudul False Memory. Leading question pada seorang terapis, terutama pada sesi hipnoterapi, akan membuat klien membuat memori palsu di alam bawah sadarnya. Kemudian memori palsu ini akan direkam oleh pikiran sadar.

Seorang terapis, psikiater, psikolog, hipnoterapis yang beretika akan berhati-hati melontarkan pertanyaan kepada klien.

Seorang hipnoterapis yang kurang berhati-hati/ kurang beretika akan memakai leading question seperti : “Apakah kamu dipeluk, dicium-cium?”. “Apakah kamu dilecehkan”. Pikiran bawah sadar klien akan membayangkan satu kejadian yang tidak pernah terjadi. Dia akan membayangkan dia dipeluk, dicium-cium secara paksa. Padahal kejadian yang menyeramkan tersebut tidak pernah terjadi. Satu pertemuan biasa antara beberapa orang bisa dibayangkan sebagai satu pertemuan dimana si klien diperkosa sementara beberapa orang lain bisa menjadi pembantu pemerkosa.

Malpraktek ini juga terjadi di Indonesia. Saya heran membaca wawancara Dewi Yogo di VIVAnews bulan Februari 2010, juga dari pernyataan Dewi Yogo di Metro TV. Dewi Yogo menghipnosis Tara Pradipta Laksmi sebanyak 45 kali! Dan Dewi Yogo melakukan leading question kepada Tara seperti ini “Apa terjadi ini-itu?” maksudnya “Apa terjadi pelecehan?” Kemudian menurut Dewi Yogo, Tara menangis. Dan Dewi Yogo menyimpulkan bahwa Tara dilecehkan.

Cerita Tara ini teringat ketika saya membaca Inferno oleh Dan Brown. Ibu Tara percaya bahwa anaknya dilecehkan karena ada beberapa wanita bercerita bahwa mereka dilecehkan. Memang beberapa wanita ini terlibat dalam rekayasa untuk menjatuhkan guru spiritual.  Bertahun-tahun, pihak X mencari jalan untuk menjatuhkan menjatuhkan guru spiritual. Pihak X akhirnya mendapat jalan setelah mendapat sosok yang tepat, Ibu Wijarningsih dan anaknya Tara.

“Saya selama ini tidak tahu apa-apa. Saya baru tahu bahwa Tara dilecehkan setelah diberitahu oleh Psikiaternya (Dewi Yogo-noted)” demikian Ibu Wijarningsih kepada TV One.

Btw, Ibu Dewi Yogo ini bukan dokter, jadi pastinya dia bukan seorang Psikiater. Dewi Yogo bahkan menulis data fiktif di Linkedin. Untung sudah saya save data-datanya sebelum Dewi Yogo menghapus akun Linkedinnya karena ketahuan menulis data fiktif.

Bila Dewi Yogo ini betul-betul seorang pakar, mengapa harus menulis data fiktif di Linkedin. Dewi Yogo selalu berkilah, bahwa bila mau melihat ijazahnya silakan ke tempat prakteknya. Hahahahaha. Di zaman digital printing yang maju ini, saya bisa mendapatkan ijazah palsu dengan mudah. Mau ijazah palsu Master dan Ph.D dari Harvard, dari Yale?? Gampang!!! Namun orang mudah melacaknya ke universitas yang bersangkutan, kecuali bila mengaku lulusan dari Universitas Timbuktu.

Gila ya, seseorang seperti Dewi Yogo mendapat tempat di media. Yng lucu adalah Kapolri BHD menyebutkan Anand Krishna cabul berdasarkan kesaksian seorang Dewi Yogo. Ampun deh. Kapolri aja bisa tertipu apalagi orang kebanyakan hahahaha.

Jadi bila bangsa ini hancur, saya tidak heran. Kehancuran mulai dari persoalan penegakan hukum. Bagaimana bisa Guru Anand Krishna divonis penjara 2.5 tahun padahal tidak ada bukti dan saksi mata? Hakim bersih Albertina Ho sudah menvonis bebas pada Bapak Anand Krishna. Namun Hakim MA, Hakim Agung Yamanie yang telah dipecat, Hakim Agung Zaharuddin Utama yang terindikasi suap, menvonis Pak Anand Krishna selama 2.5 tahun penjara. Gilaaa banget memenjarakan seseorang tanpa bukti dan saksi mata. Pantas ada hadist yang menyatakan bahwa ,”2 dari 3 hakim masuk neraka”.

Teman saya yang hampir mati karena salah diagnosis oleh dokter di Indonesia saja tidak mau buang waktu untuk menuntut. Kok Tara Pradipta Laksmi, yang menurut visum Dr Mun’im Idris “virgin mulus” menuntut dilecehkan. Yang lebih lucu lagi, Tara tampil di TV One dulu. Bikin roadshow yang diliput oleh TV One dulu baru lapor Polisi. Aneh banget. Hmmm, siapa sponsornya ya...

Begitulah... Tidak ada negara yang bisa jaya bila para penegak hukumnya tidak menjunjung keadilan.
Terimakasih... Namaste _/l\_
Rabu, 08 Mei 2013

Bila Fitnah Merajalela



Kitab suci menyatakan bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Orang akan berpikir-pikir dulu untuk melakukan pembunuhan. Bila ketahuan, bisa mendapatkan hukuman mati. Bila menyebarkan fitnah, apa hukumannya? Kecuali bila yang difitnah adalah orang yang berkuasa dan berduit. Orang yang menfitnah akan disomasi, mungkin digebukin sampai kapok oleh tukang pukul, dan bisa penjara beberapa tahun.

Padahal fitnah lebih kejam daripada pembunuhan...

Ketika Jaksa Agung Baharuddin Lopa meninggal, beredar issue bahwa beliau meninggal di racun. Tentu pihak yang berkepentingan membunuh beliau adalah pihak yang akan mendapatkan hukuman berat akibat pelanggaran hukum yang merugikan masyarakat banyak. Jaksa Agung Baharuddin Lopa meninggal dengan nama harum. Beliau adalah contoh penegak hukum yang berani menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Jaksa Agung Baharuddin Lopa adalah teladan bagi pejabat dan penegak hukum karena beliau menolak gratifikasi dalam bentuk apapun, beliau hidup sangat sederhana.

Bagaimana bila Jaksa Agung Baharuddin Lopa “dibunuh” dengan fitnah ? Misalkan beliau di issue kan melakukan pelecehan seksual, menerima suap dll. Masyarakat yang akan rugi bila “memakan” fitnah tersebut. Tidak ada lagi sosok penegak hukum yang berintegritas, bersih dan dipercaya. Masyarakat yang tidak percaya lagi pada penegakan hukum akan cenderung main hakim sendiri, karena merasa percuma untuk memproses satu kasus secara hukum. Hanya akan membuang-buang duit dan waktu saja! Masyarakat yang kacau tanpa penegakan hukum akan hancur, dan biasanya hanya bisa dikendalikan oleh pemerintahan militer.

Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan...

Misalkan Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini difitnah. Misalkan beliau difitnah selingkuh dengan suami orang atau dengan brondong (amit-amit). Beliau dan keluarganya akan depresi. Masyarakat rugi karena kehilangan sosok pejabat teladan seperti Ibu Tri Rismaharini. Masyarakat akan kehilangan pejabat yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani rakyat, kehilangan pejabat yang hidup sederhana dan menolak gratifikasi...

Demikian pula bila pejabat yang bagus seperti Jokowi dan Ahok difitnah. Masyarakat yang akan rugi karena kehilangan pejabat yang berintegritas.

Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Sebab itu kitab suci mengajarkan, bila ada berita yang sampai pada kita harap diperiksa dulu kebenarannya. Jangan sampai kita berbuat zalim kepada orang yang tidak bersalah. Dan bersikap adil lah kepada siapapun tidak pandang bulu.

Sikap adil adalah syarat utama masyarakat madani atau sipil. Para penegak hukum dan media harus berlaku adil demi kelangsungan masyarakat madani. Bila penegak hukum menerima gratifikasi, pemilik media tidak adil, kehancuran masyarakat sudah bisa ditebak. Masyarakat yang tidak adil akan menjadi bangsa budak atau menjadi masyarakat di bawah pemerintahan militer.

Masyarakat umum tampaknya biasa-biasa saja ketika Pak Anand Krishna difitnah dan kemudian dipenjara. Karena banyak media tidak berlaku adil dengan pemberitaan yang memihak. Padahal fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Satu masyarakat bisa hancur karena fitnah.

Tahukah masyarakat bahwa Bapak Anand Krishna menemukan metode ampuh untuk menyembuhkan kecanduan pada narkoba, obat-obat anti depresi, trauma berkepanjangan.

Punya kerabat yang anaknya narkoba? Langit seakan runtuh bila anak kecanduan narkoba. Anak akan hancur hidupnya, tidak mau belajar, tidak mau bekerja, butuh duit terus-terusan untuk membeli narkoba. Pecandu narkoba akan melakukan apa saja, menipu, mencuri demi mendapatkan narkoba.

Suatu kebahagiaan yang luar biasa bila seorang anak bisa bersih dari kecanduan narkoba. Banyak peserta di Anand Ashram yang sembuh dari kecanduan narkoba, dan dari kecanduan obat anti depresi.
Pak Anand Krishna telah menulis sekitar 150 buku dengan berbagai tema. Ada buku yang membahas tentang kesehatan, tentang pendidikan, tentang budaya, tentang nasionalisme, tentang apresiasi berbagai ajaran agama dan kepercayaan. Buku beliau bagus sekali untuk self empowerment & wellbeing.

Rugi sekali satu bangsa yang melempar tai pada seorang guru spiritual. Bagaimana mungkin Metro TV menayangkan cerita Dewi Yogo yang mendiagnosa bahwa Pak Anand Krishna melakukan pelecehan, melakukan cuci otak bla bla bla. Tahukah masyarakat bahwa si pakar Dewi Yogo itu bukan seorang psikiater bukan psikolog klinis,  namun dia berani mendiagnosa orang seperti seorang Psikiater! Dan Metro TV membiarkan pelanggaran etika jurnalisme, demikian pula dengan TV One. Tayangan pada tv lain tidak sempat saya tonton.

Silakan klik FreeAnandKrishna.com untuk mengetahui kejanggalan-kejanggalan pada kasus Anand Krishna. Silakan mendengar rekaman sidang Hakim Albertina Ho dengan saksi-saksi Tara yang absurd. Bila anak gadis anda mengalami pelecehan seksual, siapa yang mengurus? Anda atau orang lain yang bukan kerabat bukan sahabat? Yang mengurus kasus Tara ini adalah seorang mafia kasus yang memberi uang pada saksi-saksi, membiayai operasional penyerangan fitnah, membayar demo FPI, mencarikan pengacara dll. Ada seorang gadis, yang menurut visum virgin, tanpa bukti dan saksi mata tampil di TV One mengatakan bahwa dia dilecehkan. Setelah tampil di TV One baru lah Tara Pradipta Laksmi lapor polisi. Hmmmm...

Berhatilah-hatilah masyarakat yang berlaku zalim kepada seseorang yang tidak bersalah. Mau percaya atau tidak, silakan. Namun kita semua saling terkait. Kehancuran satu bangsa bukan karena adanya sekelompok penjahat. Namun karena orang-orang baik di negara itu diam saja atau tidak peduli. Quote Swami Vivekananda dan Edmund Burke ini relevan dan terbukti benar.

TerimaKasih... Namaste _/l\_
Rabu, 20 Maret 2013

Bangsa yang Suka Memelihara Kebodohan, Maruk & Mudah Tersinggung


Bab 26 novel Manjali dan Cakrabirawa tulisan Ayu Utami rupanya terinspirasi oleh pendapat Mochtar Lubis tentang “Manusia Indonesia”. Menarik untuk direnungkan. Mochtar Lubis mengajak kita semua berkaca. Pendapat Mochtar Lubis yang dilontarkan pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki ini masih relevan hingga saat ini. Manusia Indonesia belum berubah.

Berikut kutipan novel “Manjali dan Cakrabirawa” tentang ketololan manusia Indonesia yang percaya pada seseorang yang mengaku dihipnotis:

“Pegawai dinas kepurbakalaan yang membawa temuan kita itu dirampok di perjalanan,” kata Parang Jati sambil menyimpan telepon.

“Bapak minta saya kembali ke candi, “kata Parang Jati.

Jacques terdiam. Marja juga terdiam. Ia mulai mengenal Jacques. Meskipun pria itu seorang ilmuwan yang rasional, ada sisi lain padanya yang terbuka bagi hal-hal supranatural. Tidak. Jacques tidak menggunakan kata itu: supranatural. Jacques menyebutnya metafisik. Meta, dalam bahasa Yunani, artinya di atas atau melampaui. Metafisik adalah sesuatu yang melampaui alam benda. Orang Jawa menyebutnya sebagai perkara gaib. Hal-hal gaib atau metafisik ini barangkali bagian dari natur, alam, juga.

Jacques terbuka pada kemungkinan bahwa Suhubudi dekat dengan dunia metafisik. Suhubudi dekat dengan dunia para roh dan makhluk halus, dekat dengan dimensi lain. Karena itu, jika guru spiritual itu menyuruh anaknya untuk kembali ke candi, barangkali dia tidak mengada-ngada. Agaknya tak cukup hanya orang-orang desa yang berjaga-jaga di sana. Meskipun demikian, Jacques jauh dari percaya penuh. Apalagi untuk sesuatu yang tidak bisa diukur. Karena itu ia selalu berkata, “Hm-mh. Kita lihat saja nanti.”

Kali ini Jacques agaknya sangat geram dengan perampokan itu.

“Dasar maling!” lelaki tua itu mengumpat. “Menurut kamu, ini perampokan biasa atau bukan, jati?”

Dasar bangsa maling!” umpat Jacques lagi. “Dari dulu saya tidak terlalu percaya pada orang-orang dinas kepurbakalaan.”

Parang Jati tidak bisa membantah Jacques bahwa perampokan ini bukan perampokan pada umumnya, meskipun modusnya biasa. Mobil mengalami pecah ban. Ketika pengendara berhenti untuk mengganti ban, mereka didatangi beberapa orang dan, begitulah, mereka dirampok.
Ketika mampir di bengkel tempat mobil itu telah diderek, mereka melihat ban yang pecah itu. Si pegawai dinas kepurbakalaan ada di sana untuk mengurus mobilnya setelah melapor pada polisi. Lelaki kurus kecil itu tampak baik-baik saja. Hanya sedikit gugup. Jacques menyalaminya sambil mengatakan keprihatinan.

“Jadi, orang-orang itu membius anda?’ tanya Jacques.

“S-sayatidak dibius. S-saya dihipnotis,” jawab orang itu dengan gugup.

“Dihipnotis? Oh lala!”

Marja sering mendengar tentang perampokan dengan hipnotis. Si perampok menepuk bahu dan mengajak korban mengobrol. Setelah itu, korban akan menyerahkan segala yang diminta. Bahkan, korban bisa melakukan yang paling gila. Seperti pulang ke rumah, mengambil buku tabungan atau kartu deposito, mencairkan uangnya di bank dan menyerahkannya pada si perampok.

“Saya dihipnotis. Lalu orang itu bilang bahwa dia akan mengantar semua artefak yang baru saya terima itu ke kantor dinas.”

“Dan Anda percaya?”

“Sudah saya bilang, saya dihipnotis.”

Mereka kembali ke pelataran candi Calwanarang untuk menginap lagi di sana, seperti diminta Suhubudi. Di sekitar api unggun Jacques tua masih terus mencemooh pengakuan si pegawai dinas kepurbakalaan. “Dihipnotis, katanya? Oh la la! Mana mungkin orang bisa percaya pada pengakuan seperti itu. Tolol betul orang di sini bisa percaya!”

“Tapi memang banyak kok kejadian begitu di Indonesia,” kata Marja sungguh-sungguh. “Tantenya temanku ada yang kena. Dia sedang jalan kaki ke pasar, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya. Terus, habis semuanya. Perhiasan, deposito...”

O ya? Mungkin saja itu terjadi hanya pada orang tolol. Tapi, ahli hipnotis tidak akan mencari korban di tengah hutan. Mereka akan beroperasi ditengah kota. Bukan begitu, nona?”

“Iya juga sih.”

Mengaku dihipnotis adalah cara paling aman untuk persekongkolan. Korban tidak perlu menunjukkan bekas kekerasan. Apalagi, hipnotis memang dianggap modus kejahatan yang ada di Indonesia. Bahkan polisi menerima itu. “Di Prancis, pengakuan seperti itu pasti dianggap kebohongan oleh polisi. Mana ada perusahaan asuransi bersedia membayar ganti kehilangan jika korbannya mengaku dihipnotis?”

Saya kira orang Indonesia memang suka memelihara kebodohan,“ Jacques melanjutkan omelannya.

Jacques tua terus mengoceh, ‘Pada gilirannya, relasi orang-orang Indonesia dengan roh-roh halus menjelma relasi yang fungsional dan materialistis belaka. Dulu, hubungan manusia di Tanah Jawa ini dengan leluhur serta makhluk halus bersifat timbal-balik. Orang-orang Jawa menghormati roh-roh dan roh-roh menjaga alam. Sekarang, hal-hal gaib dan metafisik itu cuma dipercaya untuk mencari keuntungan. Menyantet. Pesugihan. Hipnotis.

“Hipnotis kan tidak ada hubungannya dengan dunia halus, Jacques!” Parang Jati menyela dengan nada tidak sabar.

“Ya betul. Tapi saya sedang bicara tentang pola pikir bangsa ini, Parang Jati,” bantah Jacques. “Ini bangsa yang aneh. Di satu pihak, perbuatan mereka sama sekali tidak menghormati leluhurnya. Lihatlah, mereka tak peduli sejarah, merusak candi dan banyak peninggalan lain, merampok dan menjualnya untuk  kepentingan sendiri. Seperti orang dinas kepurbakalaan itu.

“Di pihak lain, mereka sangat ideologis. Contohnya, para arkeolog Jawa itu. Arkeolog di tanah ini didominasi orang-orang yang menyukai klenik. Mereka mencari-cari kebenaran yang menyenangkan ideologi dan harga diri mereka saja.”

“Itu tidak benar, Jacques!” tukas Parang Jati. Marja melihat bahwa Parang Jati jengkel dengan pendapat-pendapat Jacques.

Tapi Parang Jati tidak bisa membantah ketika Jacques berkata bahwa arkeologi di Indonesia tidak berhubungan dengan ilmu-ilmu lain. Arkeologi terpenjara pada ilmu sastra kuno dan klenik. “Misalnya, mana ada penelitian teknik sipil atau industri terhadap candi-candi oleh peneliti Indonesia?” kata Jacques. Parang Jati tidak bisa menjawab karena memang ia tidak tahu. Jacques melanjutkan serangannya tentang karakter bangsa ini yang disebutnya malas, mau gampang, dan doyan takhayul.

Akhirnya Parang Jati berdiri dan berkata bahwa ia tidak ingin melanjutkan percakapan. “Satu hal, Jacques. Data-data saya memang kurang. Tapi, malam ini kamu betul-betul seorang esensialis! Kamu bilang karakter orang Indonesia begini-begitu, seolah-olah saya dan maling artefak itu punya karakter yang sama. Yaitu karakter bangsa Indonesia.”

Oui. Bukankah sebuah bangsa memang harus punya karakter? Kalau tidak, namanya bangsa tidak berkarakter?”

Marja tak mengerti mengapa Jacques juga sedang berpanas hati. Ia merasa perdebatan ini telah menjadi tidak bermutu. Jacques tua mencarut tanpa arah, tetapi Parang Jati juga terlalu peka dan mudah merasa diserang. Parang Jati meninggalkan api unggun itu dan pergi melihat-lihat keadaan candi Calwanarang dengan senter, sebelum masuk ke dalam tenda. Jacques mengangkat alis sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan arogan, seolah-olah dia baru membuktikan satu lagi karakter orang Indonesia yang mudah tersinggung dan mutung dalam perdebatan. Marja merasa  bahwa energi negatif sedang menguasai tempat ini. Kemudian ia teringat tentang hantu hutan banaspati, yang diceritakan ibu tua itu, sesungguhnya karena kesedihan. Ia menyadari dirinya banyak merenung dalam perjalanan ini.”
...
Ya, bangsa yang suka memelihara kebodohan, malas, mau gampang, doyan tahayul, mudah tersinggung dan mutung dalam perdebatan! Mari kita berkaca untuk melihat keburukan kita sendiri agar bisa memperbaikinya.

Akhir-akhir ini saya membaca tentang RUU Santet yang sedang digarap oleh DPR. Menarik sekali...Rancangan Undang-Undang tentang sesuatu yang gaib!

Bila yang dihukum adalah benar pelaku santet atau hipnotis, tentu tidak masalah. Bagaimana bila orang yang tidak bersalah dihukum karena dilaporkan oleh orang yang tidak suka? Negeri ini punya sejarah dendam yang panjang. Contohnya pada tragedi G30S 65. Banyak guru-guru dan orang-orang yang tidak tahu apa-apa ikut terbunuh disebabkan oleh laporan orang yang tidak suka. Dan kita semua sebagai satu bangsa saat ini sedang menuai badai akibat pembunuhan ratusan ribu orang yang tidak bersalah. Antara lain, pendidikan kita yang kurang berkualitas akibat terbunuhnya guru-guru yang bagus! Dan lihatlah akibat pendidikan yang kurang berkualitas itu. Lihatlah tingkah pejabat-pejabat kita saat ini. Kebanyakan maruk harta dan jabatan! Tengoklah sejarah. Bagaimana para pahlawan kemerdekaan kita hidup sangat sederhana. Bagaimana seorang Bung Hatta tidak mau membocorkan rahasia “akan diberlakukan sanering” pada istrinya. Ibu Rachmi Hatta sampai menangis karena, akibat sanering itu, beliau tidak bisa membeli mesin jahit dengan tabungan yang sudah dikumpulkannya dengan susah payah.

Semoga kita semua tidak memelihara kebodohan. Marilah kita belajar dari sejarah, agar kita semua tidak dikutuk untuk mengulangi sejarah itu.
 
Terimakasih...Namaste _/l\_
Minggu, 17 Maret 2013

Jago Akting di Sekitar Kita


Teman saya, dr Ira, terbirit-birit pulang begitu mendapat telpon dari Mbak ART nya. Padahal dr Ira baru saja sampai di kantor, masih pukul 9 pagi. Di perjalanan pulang, Ira menelpon suaminya agar segera pulang ke rumah, “Gawat,  si Mbak diperkosa!”

“Perampok tadi datang Bu. Mereka memperkosa saya,” lapor si Mbak sambil menangis tersedu-sedu. “Ayo ke dokter untuk visum!” ajak Ira. “Buat apa Bu? Saya mau pulang aja,” tangisan si Mbak semakin kencang.

Suami Ira, Pak Zul datang dengan wajah tegang. “Wah tak boleh dibiarkan ini. Mari kita langsung lapor polisi!”

Polisi di Polsek tersenyum saat menerima laporan Pak Zul. “Perampokan kok tak ada tanda-tandanya. Jadi ada perampok datang untuk memperkosa si Mbak ART? Tindak kekerasan biasanya menyisakan jejak, sementara tidak ada jejak tindakan paksa di rumah Bapak, “ Pak Polisi menerangkan.

Akhirnya si Mbak ART ngaku juga. Dia tidak mau ke dokter untuk di visum. “ Saya diajak saudara saya untuk jadi TKI, Bu. Kalau saya pamit pulang, pasti tak boleh sama Ibu, “ si Mbak akhirnya ngaku.

“Bukan main si Mbak ART ku ini ya. Kok sebelum pulang sempat berakting dulu. Aku sama suami sampe tidak bisa kerja seharian karena ngurus dia, “ Ira curhat.

Begitulah...jago akting ada di sekitar kita. Mulai dari si Mbak ART hingga pejabat. Lama-lama saya hapal akting orang hihihi.

Saya pernah dikerjain penyalur ART. “Ibu, saya Ibu Ujang. Permisi Ibu, ini ibu mertua Mbak Sum mau bicara, “kata Ibu Ujang di telpon. “Assalam ‘alaikum Ibu. Saya mertua Mbak Sum. Suami saya baru saja meninggal, Bu. Boleh Mbak Sum izin pulang? Nanti balik lagi kok ke tempat Ibu. Terimakasih Ibu,” kata mertua si Mbak Sum.

Walaupun sedang demam, saya tetap mengantar si Mbak ke tempat bis sehabis Magrib. Tidak lupa saya ke atm untuk memberi gaji si Mbak 1 bulan, ongkos pulang dan uang duka sekedarnya. Padahal si Mbak belum sebulan bekerja di rumah saya. Sebagai orang Timur, rasanya tidak tega untuk hitung-hitungan gaji pada orang yang sedang berduka.

Sepuluh hari setelah si Mbak pulang kampung, saya menelpon suaminya. Kebetulan si Mbak pernah memakai telpon saya, jadi nomor hp suaminya terekam.

“Permisi Mas. Saya mau nanya. Mbak Sum itu mau balik ke rumah saya atau tidak? Kok sudah sepuluh hari tidak ada kabar. Kalau memang tidak balik, tolong beritahu agar saya bisa cari Mbak baru”.

“Saya tidak tahu Bu. Kan saya belum ketemu istri saya, “ jawab suaminya.

Kok aneh ya. Bapaknya meninggal kok dia tidak pulang untuk memakamkan. Padahal dekat.

“Memangnya yang meninggal siapa Mas?” saya memancing.

“Ibunya, Bu, “ jawab si suami.

“Ibunya siapa?” lanjut saya.

“Ibunya istri saya, “ jawab suami Mbak Sum.

Jelas bohong toh. Langsung deh saya ceramah tentang “jangan ngerjain orang”. Tak lupa penyalurnya juga saya telpon dengan tema “ceramah” yang sama. Mereka mau dengar atau tidak, yang penting unek–unek saya keluar hihihi...

Si Mbak aja bisa akting apalagi orang “pintar”. Saya geleng-geleng kepala menyaksikan seorang “pakar” bicara dengan meyakinkan di tv. Bila tidak memegang data-data kebohongan dia, mungkin saya akan percaya pada dia. Aktingnya meyakinkan! Mungkin dia tidak merasa berbohong karena sudah terlalu lama hidup di dunia kebohongan.

Bagaimana pendapat teman-teman mengenai hukuman pada seseorang yang tidak berdasarkan saksi mata atau bukti terkait? Contoh pada kasus Anand Krishna. Tidak ada bukti apapun! Hasil visum dr Mun’im Idris menyatakan Tara virgin dengan tubuh mulus tanpa tanda kekerasan. Bukti tidak ada, baik berupa foto, rekaman suara atau video yang terkait dengan kasus. Saksi mata tidak ada. Yang ada adalah 4 saksi ibu-ibu usia 40 an yang mengaku pernah dipegang payudara sekitar 5 tahun yang lalu.

Aktivis-aktivis perempuan berASUMSI bahwa tidak mungkin seorang wanita berbohong dalam melaporkan kejadian pelecehan terhadap dirinya. ASUMSI bisa salah, bisa benar.

Bila memang terjadi pelecehan, pelaku wajib dihukum. Bagaimana bila tidak terjadi pelecehan? Bagaimana dengan seseorang yang terlanjur dipenjara padahal tidak bersalah?

Bagaimana bila kasus Anand Krishna ini terjadi pada Tokoh yang kita cintai, pada Jokowi atau Ahok misalnya? Saya tidak rela!!! Amit-amit jabang bayi...

Rekayasa pembunuhan saja bisa dilakukan oleh pihak yang kepentingannya terusik oleh sepak terjang tokoh tertentu. Apalagi kasus pelecehan. Tidak perlu bukti dan saksi mata! Hanya perlu 5 suara wanita!

Kisah yang terkenal tentang kisah pelecehan adalah kisah Nabi Yusuf. Wanita yang marah, wanita yang dendam bisa menjebloskan seseorang yang tak bersalah ke dalam penjara dengan kesaksian palsu. Wanita tidak 100 % benar. Wanita bisa digunakan, bisa dikipas, bisa bersaksi palsu dengan motif berbeda-beda. Motif wanita melakukan kesaksian palsu bisa karena dendam akibat tersinggung, bisa karena motif ekonomi, bisa bermacam-macam.

Kompas Sabtu 16 Maret 2013 menayangkan artikel menarik “Kita Lihat Perempuan Hakim Memimpin”.

Berikut kutipannya:

Lihatlah perempuan hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Cantik, anggun, lembut, dan tidak kurang tegasnya. Kepalsuan para terdakwa di depan mereka mudah tercium.

Sebut saja Tati Hadianti yang memimpin sidang Neneng Sri Wahyuni dan Sudharwatiningsih yang memimpin sidang dugaan korupsi bioremediasi PT Chevron Pasific Indonesia.

Di tengah dominasi pria, perempuan hakim ini menarik karena kuatnya karakter mereka. Mereka lihai menguber pertanyaan secara rinci yang kerap terlupakan pria hakim.

Perempuan hakim tidak mudah ditundukkan dengan kesaksian berbelit-belit. Kepalsuan dapat mereka baca karena psikologi dan gerak tubuh mereka pelajari. Lembut, perhatian, dan tegas bersenyawa jadi satu. Namun, ketika kepalsuan tercium, tak akan ada belas kasihan. Terdakwa Neneng yang selalu “manja” di persidangan kena batunya.

Btw, Anand Krishna di vonis bebas dan dikembalikan harkat dan kedudukannya di mata hukum oleh Srikandi Hukum, Hakim Albertina Ho. Namun Jaksa Martha keukeuh mengajukan kasasi padahal kasasi atas vonis bebas tidak dikenal di negara-negara beradab. Kasasi yang berisi copas kasus orang lain (kasus sengketa merk) dikabulkan oleh MA. Dua dari tiga hakim MA yang memberi vonis 2.5 tahun pada Anand Krishna telah mundur dari jabatan Hakim Agung. Hakim ZU terindikasi suap, Hakim Yamanie terbukti curang karena mengubah vonis untuk terdakwa narkoba. Kajari  Jaksel telah mengeksekusi paksa Anand Krishna dengan membawa 50 preman padahal vonis MA #CacatHukum dan #BataldemiHukum karena tak memenuhi pasal 197 KUHAP.

Mohon doanya teman-teman. Free Anand Krishna for Justice. Sila mampir ke FreeAnandKrishna.com
TerimaKasih... Namaste _/l\_

Translate

About Me

Foto Saya
Guruntala
🌹A dam mast qalandar. #BlessingsClinic 🌹Give some workshops: Meridian Face & Body Massage, Aromatherapy Massage with Essential Oils, Make up. 🌹Selling my blendid Face Serum. IG & twitter: @guruntala
Lihat profil lengkapku

Followers

Komentar Terbaru

Visitors

free counters