Tampilkan postingan dengan label Justice. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Justice. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 November 2013
Malpraktek oleh Terapis
![]() |
| Foto dari Facebook Flower Power |
Suami seorang teman membawa
istrinya, yang kondisinya semakin kritis, ke Rumah Sakit Mount Elizabeth
Singapore. Setelah pemeriksaan intensif oleh tim dokter di sana, ketahuan bahwa
diagnosis dokter di rumah sakit XYZ di Indonesia salah.
Menurut para dokter ahli disana
,” Kok bisa istri bapak didiagnosis stroke. Karena di diagnosis stroke maka
obat-obatan yang diberikan adalah untuk penderita stroke. Tidak heran bila kondisi
pasien menjadi semakin parah. Bila tidak cepat ditangani ,istri bapak bisa
lumpuh.”
Salah diagnosis bisa
mengakibatkan lumpuh hingga kematian. Namun suami teman ini tidak akan menuntut
para dokter atau rumah sakit XYZ di Indonesia. Siapa yang punya waktu untuk
berurusan dengan hukum? Tidak sepadan dengan waktu, tenaga, uang yang harus
dikeluarkan.
Dokter di Singapore itu
bercerita, “ Kami, para dokter di Singapore, harus hati-hati melakukan
diagnosis. Kalau tidak, izin praktek kami dicabut. Saya bisa jadi sopir taxi
karena saya tidak punya keahlian lain selain nyetir dan jadi dokter.”
Malpraktek ternyata tidak
dilakukan oleh dokter saja. Psikiater, psikolog, hipnoterapis juga bisa
melakukan mal praktek, antara lain dengan membuat pasien mendapatkan memori
palsu di pikirannya. Oleh karena itu ada perkumpulan di www.fmsf.com yang didirikan oleh Elizabeth
Loftus karena banyaknya mal praktek yang dilakukan oleh terapis.
Di Missouri tahun 1992, Beth
Rutherford menggugat ayah kandungnya atas tuduhan telah memperkosanya pada usia
7 hingga 14 tahun. Beth Rutherford juga menuduh ayahnya telah memaksanya untuk
melakukan aborsi selama 2 kali.
Ayahnya, mengundurkan diri dari
pekerjaannya sebagai Pendeta akibat tuduhan yang dilontarkan oleh Beth
Rutherford.
Rata-rata orang akan percaya pada
si gadis. Tidak mungkin dong seorang anak gadis berbohong mengenai ayah
kandungnya sendiri, atas tuduhan pemerkosaan lagi.
Ternyata menurut visum, Beth
Rutherford masih virgin pada usianya yang ke 22 tahun. Berarti Beth tidak
pernah diperkosa, dan pastinya tidak pernah dipaksa untuk aborsi oleh Bapaknya.
Mengapa Beth Rutherford yakin
bahwa dia diperkosa selama 7 tahun oleh ayah kandungnya? Karena dia telah
membuat false memory di pikirannya, karena “bimbingan” seorang terapis.
Silakan membaca website seorang Hipnoterapis terkemuka, Dr. Adi W Gunawan yang berjudul False Memory. Leading question pada
seorang terapis, terutama pada sesi hipnoterapi, akan membuat klien membuat
memori palsu di alam bawah sadarnya. Kemudian memori palsu ini akan direkam
oleh pikiran sadar.
Seorang terapis, psikiater,
psikolog, hipnoterapis yang beretika akan berhati-hati melontarkan pertanyaan
kepada klien.
Seorang hipnoterapis yang kurang
berhati-hati/ kurang beretika akan memakai leading question seperti : “Apakah
kamu dipeluk, dicium-cium?”. “Apakah kamu dilecehkan”. Pikiran bawah sadar
klien akan membayangkan satu kejadian yang tidak pernah terjadi. Dia akan
membayangkan dia dipeluk, dicium-cium secara paksa. Padahal kejadian yang
menyeramkan tersebut tidak pernah terjadi. Satu pertemuan biasa antara beberapa
orang bisa dibayangkan sebagai satu pertemuan dimana si klien diperkosa
sementara beberapa orang lain bisa menjadi pembantu pemerkosa.
Malpraktek ini juga terjadi di
Indonesia. Saya heran membaca wawancara Dewi Yogo di VIVAnews bulan Februari
2010, juga dari pernyataan Dewi Yogo di Metro TV. Dewi Yogo menghipnosis Tara
Pradipta Laksmi sebanyak 45 kali! Dan Dewi Yogo melakukan leading question kepada Tara seperti ini
“Apa terjadi ini-itu?” maksudnya “Apa terjadi pelecehan?” Kemudian menurut Dewi
Yogo, Tara menangis. Dan Dewi Yogo menyimpulkan bahwa Tara dilecehkan.
Cerita Tara ini teringat ketika saya
membaca Inferno oleh Dan Brown. Ibu Tara percaya bahwa
anaknya dilecehkan karena ada beberapa wanita bercerita bahwa mereka
dilecehkan. Memang beberapa wanita ini terlibat dalam rekayasa untuk
menjatuhkan guru spiritual. Bertahun-tahun, pihak X mencari jalan untuk
menjatuhkan menjatuhkan guru spiritual. Pihak X akhirnya mendapat jalan setelah
mendapat sosok yang tepat, Ibu Wijarningsih dan anaknya Tara.
“Saya selama ini tidak tahu
apa-apa. Saya baru tahu bahwa Tara dilecehkan setelah diberitahu oleh Psikiaternya
(Dewi Yogo-noted)” demikian Ibu
Wijarningsih kepada TV One.
Btw, Ibu Dewi Yogo ini bukan dokter,
jadi pastinya dia bukan seorang Psikiater. Dewi Yogo bahkan menulis data fiktif
di Linkedin. Untung sudah saya save
data-datanya sebelum Dewi Yogo menghapus akun Linkedinnya karena ketahuan
menulis data fiktif.
Bila Dewi Yogo ini betul-betul
seorang pakar, mengapa harus menulis data fiktif di Linkedin. Dewi Yogo selalu
berkilah, bahwa bila mau melihat ijazahnya silakan ke tempat prakteknya.
Hahahahaha. Di zaman digital printing yang maju ini, saya bisa mendapatkan
ijazah palsu dengan mudah. Mau ijazah palsu Master dan Ph.D dari Harvard, dari
Yale?? Gampang!!! Namun orang mudah melacaknya ke universitas yang
bersangkutan, kecuali bila mengaku lulusan dari Universitas Timbuktu.
Gila ya, seseorang seperti Dewi
Yogo mendapat tempat di media. Yng lucu adalah Kapolri BHD menyebutkan Anand Krishna
cabul berdasarkan kesaksian seorang Dewi Yogo. Ampun deh. Kapolri aja bisa
tertipu apalagi orang kebanyakan hahahaha.
Jadi bila bangsa ini hancur, saya
tidak heran. Kehancuran mulai dari persoalan penegakan hukum. Bagaimana bisa
Guru Anand Krishna divonis penjara 2.5 tahun padahal tidak ada bukti dan saksi
mata? Hakim bersih Albertina Ho sudah menvonis bebas pada Bapak Anand Krishna.
Namun Hakim MA, Hakim Agung Yamanie yang telah dipecat, Hakim Agung Zaharuddin
Utama yang terindikasi suap, menvonis Pak Anand Krishna selama 2.5 tahun
penjara. Gilaaa banget memenjarakan seseorang tanpa bukti dan saksi mata.
Pantas ada hadist yang menyatakan bahwa ,”2 dari 3 hakim masuk neraka”.
Teman saya yang hampir mati
karena salah diagnosis oleh dokter di Indonesia saja tidak mau buang waktu
untuk menuntut. Kok Tara Pradipta Laksmi, yang menurut visum Dr Mun’im Idris “virgin
mulus” menuntut dilecehkan. Yang lebih lucu lagi, Tara tampil di TV One dulu.
Bikin roadshow yang diliput oleh TV One dulu baru lapor Polisi. Aneh banget.
Hmmm, siapa sponsornya ya...
Begitulah... Tidak ada negara
yang bisa jaya bila para penegak hukumnya tidak menjunjung keadilan.
Terimakasih... Namaste _/l\_
Rabu, 08 Mei 2013
Bila Fitnah Merajalela
Kitab suci menyatakan bahwa
fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Orang akan berpikir-pikir dulu untuk
melakukan pembunuhan. Bila ketahuan, bisa mendapatkan hukuman mati. Bila
menyebarkan fitnah, apa hukumannya? Kecuali bila yang difitnah adalah orang
yang berkuasa dan berduit. Orang yang menfitnah akan disomasi, mungkin
digebukin sampai kapok oleh tukang pukul, dan bisa penjara beberapa tahun.
Padahal fitnah lebih kejam
daripada pembunuhan...
Ketika Jaksa Agung Baharuddin Lopa
meninggal, beredar issue bahwa beliau
meninggal di racun. Tentu pihak yang berkepentingan membunuh beliau adalah
pihak yang akan mendapatkan hukuman berat akibat pelanggaran hukum yang
merugikan masyarakat banyak. Jaksa Agung Baharuddin Lopa meninggal dengan nama
harum. Beliau adalah contoh penegak hukum yang berani menegakkan keadilan tanpa
pandang bulu. Jaksa Agung Baharuddin Lopa adalah teladan bagi pejabat dan
penegak hukum karena beliau menolak gratifikasi dalam bentuk apapun, beliau
hidup sangat sederhana.
Bagaimana bila Jaksa Agung Baharuddin Lopa “dibunuh”
dengan fitnah ? Misalkan beliau di issue kan
melakukan pelecehan seksual, menerima suap dll. Masyarakat yang akan rugi bila
“memakan” fitnah tersebut. Tidak ada lagi sosok penegak hukum yang berintegritas,
bersih dan dipercaya. Masyarakat yang tidak percaya lagi pada penegakan hukum
akan cenderung main hakim sendiri, karena merasa percuma untuk memproses satu
kasus secara hukum. Hanya akan membuang-buang duit dan waktu saja! Masyarakat
yang kacau tanpa penegakan hukum akan hancur, dan biasanya hanya bisa
dikendalikan oleh pemerintahan militer.
Fitnah lebih kejam daripada
pembunuhan...
Misalkan Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini difitnah. Misalkan
beliau difitnah selingkuh dengan suami orang atau dengan brondong (amit-amit). Beliau dan keluarganya akan
depresi. Masyarakat rugi karena kehilangan sosok pejabat teladan seperti Ibu
Tri Rismaharini. Masyarakat akan kehilangan pejabat yang mendedikasikan
hidupnya untuk melayani rakyat, kehilangan pejabat yang hidup sederhana dan
menolak gratifikasi...
Demikian pula bila pejabat yang
bagus seperti Jokowi dan Ahok difitnah. Masyarakat yang akan rugi karena kehilangan
pejabat yang berintegritas.
Fitnah lebih kejam daripada
pembunuhan. Sebab itu kitab suci mengajarkan, bila ada berita yang sampai pada
kita harap diperiksa dulu kebenarannya. Jangan sampai kita berbuat zalim kepada
orang yang tidak bersalah. Dan bersikap adil lah kepada siapapun tidak pandang
bulu.
Sikap adil adalah syarat utama
masyarakat madani atau sipil. Para
penegak hukum dan media harus berlaku adil demi kelangsungan masyarakat madani. Bila penegak hukum menerima
gratifikasi, pemilik media tidak adil, kehancuran masyarakat sudah bisa
ditebak. Masyarakat yang tidak adil akan menjadi bangsa budak atau menjadi
masyarakat di bawah pemerintahan militer.
Masyarakat umum tampaknya
biasa-biasa saja ketika Pak Anand Krishna difitnah dan kemudian dipenjara. Karena
banyak media tidak berlaku adil dengan pemberitaan yang memihak. Padahal fitnah
lebih kejam daripada pembunuhan. Satu masyarakat bisa hancur karena fitnah.
Tahukah masyarakat bahwa Bapak Anand Krishna menemukan metode ampuh
untuk menyembuhkan kecanduan pada narkoba, obat-obat anti depresi, trauma
berkepanjangan.
Punya kerabat yang anaknya
narkoba? Langit seakan runtuh bila anak kecanduan narkoba. Anak akan hancur
hidupnya, tidak mau belajar, tidak mau bekerja, butuh duit terus-terusan untuk
membeli narkoba. Pecandu narkoba akan melakukan apa saja, menipu, mencuri demi
mendapatkan narkoba.
Suatu kebahagiaan yang luar biasa
bila seorang anak bisa bersih dari kecanduan narkoba. Banyak peserta di Anand Ashram yang sembuh dari kecanduan
narkoba, dan dari kecanduan obat anti depresi.
Pak Anand Krishna telah menulis
sekitar 150 buku dengan berbagai tema. Ada buku yang membahas tentang
kesehatan, tentang pendidikan, tentang budaya, tentang nasionalisme, tentang
apresiasi berbagai ajaran agama dan kepercayaan. Buku beliau bagus sekali untuk
self
empowerment & wellbeing.
Rugi sekali satu bangsa yang
melempar tai pada seorang guru spiritual. Bagaimana mungkin Metro TV
menayangkan cerita Dewi Yogo yang
mendiagnosa bahwa Pak Anand Krishna melakukan pelecehan, melakukan cuci otak
bla bla bla. Tahukah masyarakat bahwa si pakar Dewi Yogo itu bukan seorang
psikiater bukan psikolog klinis, namun
dia berani mendiagnosa orang seperti seorang Psikiater! Dan Metro TV membiarkan
pelanggaran etika jurnalisme, demikian pula dengan TV One. Tayangan pada tv
lain tidak sempat saya tonton.
Silakan klik FreeAnandKrishna.com untuk mengetahui kejanggalan-kejanggalan pada
kasus Anand Krishna. Silakan mendengar rekaman sidang Hakim Albertina Ho dengan saksi-saksi Tara yang absurd. Bila anak gadis anda mengalami
pelecehan seksual, siapa yang mengurus? Anda atau orang lain yang bukan kerabat
bukan sahabat? Yang mengurus kasus Tara ini adalah seorang mafia kasus yang
memberi uang pada saksi-saksi, membiayai operasional penyerangan fitnah,
membayar demo FPI, mencarikan pengacara dll. Ada seorang gadis, yang menurut
visum virgin, tanpa bukti dan saksi mata tampil di TV One mengatakan bahwa dia
dilecehkan. Setelah tampil di TV One baru lah Tara Pradipta Laksmi lapor
polisi. Hmmmm...
Berhatilah-hatilah masyarakat
yang berlaku zalim kepada seseorang yang tidak bersalah. Mau percaya atau
tidak, silakan. Namun kita semua saling terkait. Kehancuran satu bangsa bukan
karena adanya sekelompok penjahat. Namun karena orang-orang baik di negara itu
diam saja atau tidak peduli. Quote Swami
Vivekananda dan Edmund Burke ini
relevan dan terbukti benar.
TerimaKasih... Namaste _/l\_
Rabu, 20 Maret 2013
Bangsa yang Suka Memelihara Kebodohan, Maruk & Mudah Tersinggung
Bab 26 novel Manjali
dan Cakrabirawa tulisan Ayu Utami
rupanya terinspirasi oleh pendapat Mochtar
Lubis tentang “Manusia Indonesia”.
Menarik untuk direnungkan. Mochtar Lubis mengajak kita semua berkaca. Pendapat
Mochtar Lubis yang dilontarkan pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki ini
masih relevan hingga saat ini. Manusia Indonesia belum berubah.
Berikut kutipan novel “Manjali dan Cakrabirawa” tentang ketololan manusia Indonesia yang percaya
pada seseorang yang mengaku dihipnotis:
“Pegawai dinas kepurbakalaan yang membawa temuan kita itu
dirampok di perjalanan,” kata Parang Jati sambil menyimpan telepon.
“Bapak minta saya kembali ke candi, “kata Parang Jati.
Jacques terdiam. Marja juga terdiam. Ia mulai mengenal Jacques.
Meskipun pria itu seorang ilmuwan yang rasional, ada sisi lain padanya yang
terbuka bagi hal-hal supranatural. Tidak. Jacques tidak menggunakan kata itu:
supranatural. Jacques menyebutnya metafisik. Meta, dalam bahasa Yunani, artinya
di atas atau melampaui. Metafisik adalah sesuatu yang melampaui alam benda.
Orang Jawa menyebutnya sebagai perkara gaib. Hal-hal gaib atau metafisik ini
barangkali bagian dari natur, alam, juga.
Jacques terbuka pada kemungkinan bahwa Suhubudi dekat dengan
dunia metafisik. Suhubudi dekat dengan dunia para roh dan makhluk halus, dekat
dengan dimensi lain. Karena itu, jika guru spiritual itu menyuruh anaknya untuk
kembali ke candi, barangkali dia tidak mengada-ngada. Agaknya tak cukup hanya
orang-orang desa yang berjaga-jaga di sana. Meskipun demikian, Jacques jauh
dari percaya penuh. Apalagi untuk sesuatu yang tidak bisa diukur. Karena itu ia
selalu berkata, “Hm-mh. Kita lihat saja nanti.”
Kali ini Jacques agaknya sangat geram dengan perampokan itu.
“Dasar maling!” lelaki tua itu mengumpat. “Menurut kamu, ini
perampokan biasa atau bukan, jati?”
“Dasar bangsa maling!”
umpat Jacques lagi. “Dari dulu saya tidak terlalu percaya pada orang-orang
dinas kepurbakalaan.”
Parang Jati tidak bisa membantah Jacques bahwa perampokan ini
bukan perampokan pada umumnya, meskipun modusnya biasa. Mobil mengalami pecah
ban. Ketika pengendara berhenti untuk mengganti ban, mereka didatangi beberapa
orang dan, begitulah, mereka dirampok.
Ketika mampir di bengkel tempat mobil itu telah diderek,
mereka melihat ban yang pecah itu. Si pegawai dinas kepurbakalaan ada di sana
untuk mengurus mobilnya setelah melapor pada polisi. Lelaki kurus kecil itu
tampak baik-baik saja. Hanya sedikit gugup. Jacques menyalaminya sambil mengatakan
keprihatinan.
“Jadi, orang-orang itu membius anda?’ tanya Jacques.
“S-sayatidak dibius. S-saya dihipnotis,” jawab orang itu
dengan gugup.
“Dihipnotis? Oh lala!”
Marja sering mendengar tentang perampokan dengan hipnotis. Si
perampok menepuk bahu dan mengajak korban mengobrol. Setelah itu, korban akan menyerahkan
segala yang diminta. Bahkan, korban bisa melakukan yang paling gila. Seperti
pulang ke rumah, mengambil buku tabungan atau kartu deposito, mencairkan
uangnya di bank dan menyerahkannya pada si perampok.
“Saya dihipnotis. Lalu orang itu bilang bahwa dia akan
mengantar semua artefak yang baru saya terima itu ke kantor dinas.”
“Dan Anda percaya?”
“Sudah saya bilang, saya dihipnotis.”
Mereka kembali ke pelataran candi Calwanarang untuk menginap
lagi di sana, seperti diminta Suhubudi. Di sekitar api unggun Jacques tua masih
terus mencemooh pengakuan si pegawai dinas kepurbakalaan. “Dihipnotis, katanya? Oh la la! Mana mungkin orang bisa percaya pada
pengakuan seperti itu. Tolol betul orang di sini bisa percaya!”
“Tapi memang banyak kok kejadian begitu di Indonesia,” kata Marja
sungguh-sungguh. “Tantenya temanku ada yang kena. Dia sedang jalan kaki ke
pasar, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya. Terus, habis semuanya. Perhiasan,
deposito...”
“O ya? Mungkin saja
itu terjadi hanya pada orang tolol. Tapi, ahli hipnotis tidak akan mencari
korban di tengah hutan. Mereka akan beroperasi ditengah kota. Bukan begitu,
nona?”
“Iya juga sih.”
Mengaku dihipnotis
adalah cara paling aman untuk persekongkolan. Korban tidak perlu menunjukkan
bekas kekerasan. Apalagi, hipnotis memang dianggap modus kejahatan yang ada di
Indonesia. Bahkan polisi menerima itu. “Di Prancis, pengakuan seperti itu pasti
dianggap kebohongan oleh polisi. Mana ada perusahaan asuransi bersedia membayar
ganti kehilangan jika korbannya mengaku dihipnotis?”
“Saya kira orang
Indonesia memang suka memelihara kebodohan,“ Jacques melanjutkan omelannya.
Jacques tua terus mengoceh, ‘Pada gilirannya, relasi
orang-orang Indonesia dengan roh-roh halus menjelma relasi yang fungsional dan
materialistis belaka. Dulu, hubungan manusia di Tanah Jawa ini dengan leluhur
serta makhluk halus bersifat timbal-balik. Orang-orang Jawa menghormati roh-roh
dan roh-roh menjaga alam. Sekarang, hal-hal gaib dan metafisik itu cuma dipercaya
untuk mencari keuntungan. Menyantet. Pesugihan. Hipnotis.
“Hipnotis kan tidak ada hubungannya dengan dunia halus,
Jacques!” Parang Jati menyela dengan nada tidak sabar.
“Ya betul. Tapi saya sedang bicara tentang pola pikir bangsa
ini, Parang Jati,” bantah Jacques. “Ini
bangsa yang aneh. Di satu pihak, perbuatan mereka sama sekali tidak menghormati
leluhurnya. Lihatlah, mereka tak peduli sejarah, merusak candi dan banyak
peninggalan lain, merampok dan menjualnya untuk
kepentingan sendiri. Seperti orang dinas kepurbakalaan itu.
“Di pihak lain, mereka sangat ideologis. Contohnya, para
arkeolog Jawa itu. Arkeolog di tanah ini didominasi orang-orang yang menyukai
klenik. Mereka mencari-cari kebenaran yang menyenangkan ideologi dan harga diri
mereka saja.”
“Itu tidak benar, Jacques!” tukas Parang Jati. Marja melihat
bahwa Parang Jati jengkel dengan pendapat-pendapat Jacques.
Tapi Parang Jati tidak bisa membantah ketika Jacques berkata
bahwa arkeologi di Indonesia tidak berhubungan dengan ilmu-ilmu lain. Arkeologi
terpenjara pada ilmu sastra kuno dan klenik. “Misalnya, mana ada penelitian
teknik sipil atau industri terhadap candi-candi oleh peneliti Indonesia?” kata
Jacques. Parang Jati tidak bisa menjawab karena memang ia tidak tahu. Jacques melanjutkan serangannya tentang
karakter bangsa ini yang disebutnya malas, mau gampang, dan doyan takhayul.
Akhirnya Parang Jati berdiri dan berkata bahwa ia tidak ingin
melanjutkan percakapan. “Satu hal, Jacques. Data-data saya memang kurang. Tapi, malam ini kamu betul-betul seorang
esensialis! Kamu bilang karakter orang Indonesia begini-begitu, seolah-olah
saya dan maling artefak itu punya karakter yang sama. Yaitu karakter bangsa
Indonesia.”
“Oui. Bukankah sebuah bangsa memang harus punya karakter? Kalau
tidak, namanya bangsa tidak berkarakter?”
Marja tak mengerti mengapa Jacques juga sedang berpanas hati.
Ia merasa perdebatan ini telah menjadi tidak bermutu. Jacques tua mencarut
tanpa arah, tetapi Parang Jati juga terlalu peka dan mudah merasa diserang. Parang
Jati meninggalkan api unggun itu dan pergi melihat-lihat keadaan candi
Calwanarang dengan senter, sebelum masuk ke dalam tenda. Jacques mengangkat
alis sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan arogan, seolah-olah dia baru
membuktikan satu lagi karakter orang
Indonesia yang mudah tersinggung dan mutung dalam perdebatan. Marja
merasa bahwa energi negatif sedang
menguasai tempat ini. Kemudian ia teringat tentang hantu hutan banaspati, yang
diceritakan ibu tua itu, sesungguhnya karena kesedihan. Ia menyadari dirinya
banyak merenung dalam perjalanan ini.”
...
Ya, bangsa yang suka
memelihara kebodohan, malas, mau gampang, doyan tahayul, mudah tersinggung dan
mutung dalam perdebatan! Mari kita berkaca untuk melihat keburukan kita sendiri agar bisa
memperbaikinya.
Akhir-akhir ini saya membaca tentang RUU Santet yang sedang
digarap oleh DPR. Menarik sekali...Rancangan Undang-Undang tentang sesuatu yang
gaib!
Bila yang dihukum adalah benar pelaku santet atau hipnotis,
tentu tidak masalah. Bagaimana bila orang yang tidak bersalah dihukum karena
dilaporkan oleh orang yang tidak suka? Negeri ini punya sejarah dendam yang
panjang. Contohnya pada tragedi G30S 65. Banyak
guru-guru dan orang-orang yang tidak tahu apa-apa ikut terbunuh disebabkan oleh
laporan orang yang tidak suka. Dan kita semua sebagai satu bangsa saat ini
sedang menuai badai akibat pembunuhan ratusan ribu orang yang tidak bersalah.
Antara lain, pendidikan kita yang kurang berkualitas akibat terbunuhnya
guru-guru yang bagus! Dan lihatlah akibat pendidikan yang kurang berkualitas
itu. Lihatlah tingkah pejabat-pejabat kita saat ini. Kebanyakan maruk harta dan
jabatan! Tengoklah sejarah. Bagaimana para pahlawan kemerdekaan kita hidup
sangat sederhana. Bagaimana seorang Bung Hatta tidak mau membocorkan rahasia
“akan diberlakukan sanering” pada istrinya. Ibu Rachmi Hatta sampai menangis
karena, akibat sanering itu, beliau tidak bisa membeli mesin jahit dengan
tabungan yang sudah dikumpulkannya dengan susah payah.
Semoga kita semua tidak memelihara kebodohan. Marilah kita
belajar dari sejarah, agar kita semua tidak dikutuk untuk mengulangi sejarah
itu.
Terimakasih...Namaste _/l\_
Minggu, 17 Maret 2013
Jago Akting di Sekitar Kita
Teman saya, dr Ira, terbirit-birit pulang begitu mendapat
telpon dari Mbak ART nya. Padahal dr Ira baru saja sampai di kantor, masih
pukul 9 pagi. Di perjalanan pulang, Ira menelpon suaminya agar segera pulang ke
rumah, “Gawat, si Mbak diperkosa!”
“Perampok tadi datang Bu. Mereka memperkosa saya,” lapor si
Mbak sambil menangis tersedu-sedu. “Ayo ke dokter untuk visum!” ajak Ira. “Buat
apa Bu? Saya mau pulang aja,” tangisan si Mbak semakin kencang.
Suami Ira, Pak Zul datang dengan wajah tegang. “Wah tak boleh
dibiarkan ini. Mari kita langsung lapor polisi!”
Polisi di Polsek tersenyum saat menerima laporan Pak Zul.
“Perampokan kok tak ada tanda-tandanya. Jadi ada perampok datang untuk
memperkosa si Mbak ART? Tindak kekerasan biasanya menyisakan jejak, sementara
tidak ada jejak tindakan paksa di rumah Bapak, “ Pak Polisi menerangkan.
Akhirnya si Mbak ART ngaku juga. Dia tidak mau ke dokter
untuk di visum. “ Saya diajak saudara
saya untuk jadi TKI, Bu. Kalau saya pamit pulang, pasti tak boleh sama Ibu, “
si Mbak akhirnya ngaku.
“Bukan main si Mbak ART ku ini ya. Kok sebelum pulang sempat
berakting dulu. Aku sama suami sampe tidak bisa kerja seharian karena ngurus
dia, “ Ira curhat.
Begitulah...jago akting ada di sekitar kita. Mulai dari si
Mbak ART hingga pejabat. Lama-lama saya hapal akting orang hihihi.
Saya pernah dikerjain penyalur ART. “Ibu, saya Ibu Ujang.
Permisi Ibu, ini ibu mertua Mbak Sum mau bicara, “kata Ibu Ujang di telpon. “Assalam
‘alaikum Ibu. Saya mertua Mbak Sum. Suami saya baru saja meninggal, Bu. Boleh
Mbak Sum izin pulang? Nanti balik lagi kok ke tempat Ibu. Terimakasih Ibu,”
kata mertua si Mbak Sum.
Walaupun sedang demam, saya tetap mengantar si Mbak ke tempat
bis sehabis Magrib. Tidak lupa saya ke atm untuk memberi gaji si Mbak 1 bulan,
ongkos pulang dan uang duka sekedarnya. Padahal si Mbak belum sebulan bekerja
di rumah saya. Sebagai orang Timur, rasanya tidak tega untuk hitung-hitungan
gaji pada orang yang sedang berduka.
Sepuluh hari setelah si Mbak pulang kampung, saya menelpon
suaminya. Kebetulan si Mbak pernah memakai telpon saya, jadi nomor hp suaminya
terekam.
“Permisi Mas. Saya mau nanya. Mbak Sum itu mau balik ke rumah
saya atau tidak? Kok sudah sepuluh hari tidak ada kabar. Kalau memang tidak
balik, tolong beritahu agar saya bisa cari Mbak baru”.
“Saya tidak tahu Bu. Kan saya belum ketemu istri saya, “ jawab
suaminya.
Kok aneh ya. Bapaknya meninggal kok dia tidak pulang untuk
memakamkan. Padahal dekat.
“Memangnya yang meninggal siapa Mas?” saya memancing.
“Ibunya, Bu, “ jawab si suami.
“Ibunya siapa?” lanjut saya.
“Ibunya istri saya, “ jawab suami Mbak Sum.
Jelas bohong toh. Langsung deh saya ceramah tentang “jangan
ngerjain orang”. Tak lupa penyalurnya juga saya telpon dengan tema “ceramah”
yang sama. Mereka mau dengar atau tidak, yang penting unek–unek saya keluar
hihihi...
Si Mbak aja bisa akting apalagi orang “pintar”. Saya
geleng-geleng kepala menyaksikan seorang “pakar” bicara dengan meyakinkan di
tv. Bila tidak memegang data-data kebohongan dia, mungkin saya akan percaya
pada dia. Aktingnya meyakinkan! Mungkin dia tidak merasa berbohong karena sudah
terlalu lama hidup di dunia kebohongan.
Bagaimana pendapat teman-teman mengenai hukuman pada
seseorang yang tidak berdasarkan saksi mata atau bukti terkait? Contoh pada
kasus Anand Krishna. Tidak ada bukti apapun! Hasil visum dr Mun’im Idris
menyatakan Tara virgin dengan tubuh
mulus tanpa tanda kekerasan. Bukti tidak ada, baik berupa foto, rekaman suara
atau video yang terkait dengan kasus. Saksi mata tidak ada. Yang ada adalah 4
saksi ibu-ibu usia 40 an yang mengaku pernah dipegang payudara sekitar 5 tahun
yang lalu.
Aktivis-aktivis perempuan berASUMSI bahwa tidak mungkin
seorang wanita berbohong dalam melaporkan kejadian pelecehan terhadap dirinya.
ASUMSI bisa salah, bisa benar.
Bila memang terjadi pelecehan, pelaku wajib dihukum.
Bagaimana bila tidak terjadi pelecehan? Bagaimana dengan seseorang yang
terlanjur dipenjara padahal tidak bersalah?
Bagaimana bila kasus Anand Krishna ini terjadi pada Tokoh yang
kita cintai, pada Jokowi atau Ahok misalnya? Saya tidak rela!!! Amit-amit
jabang bayi...
Rekayasa pembunuhan saja bisa dilakukan oleh pihak yang
kepentingannya terusik oleh sepak terjang tokoh tertentu. Apalagi kasus
pelecehan. Tidak perlu bukti dan saksi mata! Hanya perlu 5 suara wanita!
Kisah yang terkenal tentang kisah pelecehan adalah kisah Nabi
Yusuf. Wanita yang marah, wanita yang dendam bisa menjebloskan seseorang yang
tak bersalah ke dalam penjara dengan kesaksian palsu. Wanita tidak 100 % benar.
Wanita bisa digunakan, bisa dikipas, bisa bersaksi palsu dengan motif
berbeda-beda. Motif wanita melakukan kesaksian palsu bisa karena dendam akibat
tersinggung, bisa karena motif ekonomi, bisa bermacam-macam.
Kompas Sabtu 16 Maret 2013 menayangkan artikel menarik “Kita Lihat Perempuan Hakim Memimpin”.
Berikut kutipannya:
Lihatlah perempuan hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
Jakarta. Cantik, anggun, lembut, dan tidak kurang tegasnya. Kepalsuan para
terdakwa di depan mereka mudah tercium.
Sebut saja Tati Hadianti yang memimpin sidang Neneng Sri
Wahyuni dan Sudharwatiningsih yang memimpin sidang dugaan korupsi bioremediasi
PT Chevron Pasific Indonesia.
Di tengah dominasi pria, perempuan hakim ini menarik karena
kuatnya karakter mereka. Mereka lihai menguber pertanyaan secara rinci yang
kerap terlupakan pria hakim.
Perempuan hakim tidak
mudah ditundukkan dengan kesaksian berbelit-belit. Kepalsuan dapat mereka baca
karena psikologi dan gerak tubuh mereka pelajari. Lembut, perhatian, dan tegas
bersenyawa jadi satu. Namun, ketika kepalsuan tercium, tak akan ada belas kasihan. Terdakwa Neneng yang selalu “manja”
di persidangan kena batunya.
Btw, Anand Krishna di vonis
bebas dan dikembalikan harkat dan kedudukannya di mata hukum oleh Srikandi Hukum, Hakim Albertina Ho. Namun
Jaksa Martha keukeuh mengajukan
kasasi padahal kasasi atas vonis bebas tidak dikenal di negara-negara beradab.
Kasasi yang berisi copas kasus orang lain (kasus sengketa merk) dikabulkan oleh
MA. Dua dari tiga hakim MA yang memberi vonis 2.5 tahun pada Anand Krishna
telah mundur dari jabatan Hakim Agung. Hakim ZU terindikasi suap, Hakim Yamanie
terbukti curang karena mengubah vonis untuk terdakwa narkoba. Kajari Jaksel telah mengeksekusi paksa Anand Krishna
dengan membawa 50 preman padahal vonis MA #CacatHukum dan #BataldemiHukum
karena tak memenuhi pasal 197 KUHAP.
Mohon doanya teman-teman. Free Anand Krishna for Justice.
Sila mampir ke FreeAnandKrishna.com
TerimaKasih... Namaste _/l\_
Langganan:
Postingan (Atom)
Translate
About Me
- Guruntala
- 🌹A dam mast qalandar. #BlessingsClinic 🌹Give some workshops: Meridian Face & Body Massage, Aromatherapy Massage with Essential Oils, Make up. 🌹Selling my blendid Face Serum. IG & twitter: @guruntala

