Tampilkan postingan dengan label Keadilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keadilan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 08 Mei 2013

Bila Fitnah Merajalela



Kitab suci menyatakan bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Orang akan berpikir-pikir dulu untuk melakukan pembunuhan. Bila ketahuan, bisa mendapatkan hukuman mati. Bila menyebarkan fitnah, apa hukumannya? Kecuali bila yang difitnah adalah orang yang berkuasa dan berduit. Orang yang menfitnah akan disomasi, mungkin digebukin sampai kapok oleh tukang pukul, dan bisa penjara beberapa tahun.

Padahal fitnah lebih kejam daripada pembunuhan...

Ketika Jaksa Agung Baharuddin Lopa meninggal, beredar issue bahwa beliau meninggal di racun. Tentu pihak yang berkepentingan membunuh beliau adalah pihak yang akan mendapatkan hukuman berat akibat pelanggaran hukum yang merugikan masyarakat banyak. Jaksa Agung Baharuddin Lopa meninggal dengan nama harum. Beliau adalah contoh penegak hukum yang berani menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Jaksa Agung Baharuddin Lopa adalah teladan bagi pejabat dan penegak hukum karena beliau menolak gratifikasi dalam bentuk apapun, beliau hidup sangat sederhana.

Bagaimana bila Jaksa Agung Baharuddin Lopa “dibunuh” dengan fitnah ? Misalkan beliau di issue kan melakukan pelecehan seksual, menerima suap dll. Masyarakat yang akan rugi bila “memakan” fitnah tersebut. Tidak ada lagi sosok penegak hukum yang berintegritas, bersih dan dipercaya. Masyarakat yang tidak percaya lagi pada penegakan hukum akan cenderung main hakim sendiri, karena merasa percuma untuk memproses satu kasus secara hukum. Hanya akan membuang-buang duit dan waktu saja! Masyarakat yang kacau tanpa penegakan hukum akan hancur, dan biasanya hanya bisa dikendalikan oleh pemerintahan militer.

Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan...

Misalkan Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini difitnah. Misalkan beliau difitnah selingkuh dengan suami orang atau dengan brondong (amit-amit). Beliau dan keluarganya akan depresi. Masyarakat rugi karena kehilangan sosok pejabat teladan seperti Ibu Tri Rismaharini. Masyarakat akan kehilangan pejabat yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani rakyat, kehilangan pejabat yang hidup sederhana dan menolak gratifikasi...

Demikian pula bila pejabat yang bagus seperti Jokowi dan Ahok difitnah. Masyarakat yang akan rugi karena kehilangan pejabat yang berintegritas.

Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Sebab itu kitab suci mengajarkan, bila ada berita yang sampai pada kita harap diperiksa dulu kebenarannya. Jangan sampai kita berbuat zalim kepada orang yang tidak bersalah. Dan bersikap adil lah kepada siapapun tidak pandang bulu.

Sikap adil adalah syarat utama masyarakat madani atau sipil. Para penegak hukum dan media harus berlaku adil demi kelangsungan masyarakat madani. Bila penegak hukum menerima gratifikasi, pemilik media tidak adil, kehancuran masyarakat sudah bisa ditebak. Masyarakat yang tidak adil akan menjadi bangsa budak atau menjadi masyarakat di bawah pemerintahan militer.

Masyarakat umum tampaknya biasa-biasa saja ketika Pak Anand Krishna difitnah dan kemudian dipenjara. Karena banyak media tidak berlaku adil dengan pemberitaan yang memihak. Padahal fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Satu masyarakat bisa hancur karena fitnah.

Tahukah masyarakat bahwa Bapak Anand Krishna menemukan metode ampuh untuk menyembuhkan kecanduan pada narkoba, obat-obat anti depresi, trauma berkepanjangan.

Punya kerabat yang anaknya narkoba? Langit seakan runtuh bila anak kecanduan narkoba. Anak akan hancur hidupnya, tidak mau belajar, tidak mau bekerja, butuh duit terus-terusan untuk membeli narkoba. Pecandu narkoba akan melakukan apa saja, menipu, mencuri demi mendapatkan narkoba.

Suatu kebahagiaan yang luar biasa bila seorang anak bisa bersih dari kecanduan narkoba. Banyak peserta di Anand Ashram yang sembuh dari kecanduan narkoba, dan dari kecanduan obat anti depresi.
Pak Anand Krishna telah menulis sekitar 150 buku dengan berbagai tema. Ada buku yang membahas tentang kesehatan, tentang pendidikan, tentang budaya, tentang nasionalisme, tentang apresiasi berbagai ajaran agama dan kepercayaan. Buku beliau bagus sekali untuk self empowerment & wellbeing.

Rugi sekali satu bangsa yang melempar tai pada seorang guru spiritual. Bagaimana mungkin Metro TV menayangkan cerita Dewi Yogo yang mendiagnosa bahwa Pak Anand Krishna melakukan pelecehan, melakukan cuci otak bla bla bla. Tahukah masyarakat bahwa si pakar Dewi Yogo itu bukan seorang psikiater bukan psikolog klinis,  namun dia berani mendiagnosa orang seperti seorang Psikiater! Dan Metro TV membiarkan pelanggaran etika jurnalisme, demikian pula dengan TV One. Tayangan pada tv lain tidak sempat saya tonton.

Silakan klik FreeAnandKrishna.com untuk mengetahui kejanggalan-kejanggalan pada kasus Anand Krishna. Silakan mendengar rekaman sidang Hakim Albertina Ho dengan saksi-saksi Tara yang absurd. Bila anak gadis anda mengalami pelecehan seksual, siapa yang mengurus? Anda atau orang lain yang bukan kerabat bukan sahabat? Yang mengurus kasus Tara ini adalah seorang mafia kasus yang memberi uang pada saksi-saksi, membiayai operasional penyerangan fitnah, membayar demo FPI, mencarikan pengacara dll. Ada seorang gadis, yang menurut visum virgin, tanpa bukti dan saksi mata tampil di TV One mengatakan bahwa dia dilecehkan. Setelah tampil di TV One baru lah Tara Pradipta Laksmi lapor polisi. Hmmmm...

Berhatilah-hatilah masyarakat yang berlaku zalim kepada seseorang yang tidak bersalah. Mau percaya atau tidak, silakan. Namun kita semua saling terkait. Kehancuran satu bangsa bukan karena adanya sekelompok penjahat. Namun karena orang-orang baik di negara itu diam saja atau tidak peduli. Quote Swami Vivekananda dan Edmund Burke ini relevan dan terbukti benar.

TerimaKasih... Namaste _/l\_
Minggu, 21 April 2013

Peringatan ARB kepada Anas Urbaningrum



Menarik wawancara wartawan Harian Jakarta Post dengan Anas Urbaningrum. RT @jakpost: I asked SBY to stop engineering my case: Anas http://t.co/fgcnITa6zA

Saya bukan pro Anas atau SBY. Namun cerita Anas disini menarik. Aburizal Bakrie mengirimkan BBM pada Anas, “Nas, be careful. Don’t end up like Anwar Ibrahim”.

“Nas, berhati-hatilah. Jangan sampai bernasib sama dengan Anwar Ibrahim”.

Kita tahu bagaimana Anwar Ibrahim dibungkam lawan politiknya, Mahathir Muhammad, dengan tuduhan pelecehan seksual. Tuduhan mau benar atau tidak, yang penting tertuduh dibungkam, dibuat repot dengan masalah hukum. Waktu, perhatian dan uang tertuduh terkuras dalam menghadapi masalah hukum. Ketika masalah hukum selesai, si pembungkam sudah menang dalam pertarungan politik.  

Rekayasa pembunuhan agak sulit. Harus membunuh orang, harus mencari sniper, harus mencari koordinator lapangan yang teliti agar pembunuhan tidak meleset. Merekayasa kasus pelecehan seksual sangat mudah. Tokoh Wikipedia, tokoh politik Perancis, juga Anand Krishna dibungkam dengan kasus rekayasa pelecehan seksual. Kasus rekayasa pelecehan seksual tidak perlu bukti, tidak perlu saksi mata, hanya perlu mencari 5 wanita yang bisa berbicara. Dengan modal mulut, pria korban rekayasa bisa dikirim ke penjara.

Kasus rekayasa pelecehan seksual juga akan didukung oleh sebagian besar aktivis perempuan. Bagi sebagian aktivis perempuan, wanita yang melaporkan tuduhan pelecehan seksual pasti benar. Padahal sejarah mengenal Zulaikha, wanita pendendam yang menjebloskan Nabi Yusuf ke penjara. Ada Hindun yang sangat kejam, ada istri Abu Lahab si pengadu domba yang licik.

Belum lama ini Pakar Hipnosis dan NLP Willy Wong @wlywong menulis di twitter bahwa ekspresi Adi Bing Slamet dan Arya Wiguna di video “Demi Tuhan” mengindikasikan ketidak-jujuran. Bila mau menghancurkan nama seseorang, cukup mencari orang-orang pendendam seperti Adi Bing Slamet dan Arya Wiguna. Karena ditayangkan di tv-tv berulangkali setiap hari, masyarakat umum akan mempercayai sebuah kebohongan sebagai satu kebenaran.

Ada buku yang sangat menarik berjudul “Meditasi Lilin” tulisan Psikiater Prof. Ni Luh Suryani. Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Populer Obor ini mengajarkan meditasi lilin agar intuisi kita berkembang. Dengan melihat mata seseorang, kita bisa merasakan emosi seseorang, apakah orang tersebut bisa dipercaya atau tidak. Mata adalah jendela jiwa, mata tidak bisa bohong.

Btw, Prof. Ni Luh Suryani menjadi saksi yang meringankan Anand Krishna pada sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Menurut Psikiater yang berpengalaman menghadapi wanita-wanita yang mengalami kekerasan seksual ini, seseorang yang benar-benar mengalami pelecehan seksual tidak akan bisa tampil santai sebagaimana penampilan Tara di tv-tv. Untuk mendengarkan rekaman sidang sila klik FreeAnandKrishna.com

Selain artis yang jago akting di sinetron, ada juga jago-jago akting  pada acara  talkshow di tv-tv kita. Seorang teman tertawa terbahak-bahak ketika menyaksikan seorang ibu mengaku dipegang payudara oleh seorang guru spiritual. Teman saya ini, Lani, jago banget baca ekspresi wajah seseorang. Kadang seseorang tidak bisa akting secara persistent di tv. Saya terkejut saat melihat penampilan Tara dan Sumidah di TV One saat episode yang menghadirkan Ridwan Saidi. Spontan Tara dan Sumidah menampilkan wajah riang saat diminta Ridwan Saidi untuk memperagakan contoh latihan di Padepokan Anand Ashram.

Semoga kita semua tidak tertipu oleh jago-jago akting di sekitar kita sehingga menghujat orang yang tidak bersalah. Amiin

Kita semua saling terhubung. Menegakkan keadilan untuk satu manusia sama dengan menegakkan keadilan untuk satu masyarakat. Free Anand Krishna for Justice. Please klik www.FreeAnandKrishna.com

TerimaKasih...Namaste _/l\_

Foto ARB-Anas berasal dari antaranews.com
Minggu, 17 Maret 2013

Jago Akting di Sekitar Kita


Teman saya, dr Ira, terbirit-birit pulang begitu mendapat telpon dari Mbak ART nya. Padahal dr Ira baru saja sampai di kantor, masih pukul 9 pagi. Di perjalanan pulang, Ira menelpon suaminya agar segera pulang ke rumah, “Gawat,  si Mbak diperkosa!”

“Perampok tadi datang Bu. Mereka memperkosa saya,” lapor si Mbak sambil menangis tersedu-sedu. “Ayo ke dokter untuk visum!” ajak Ira. “Buat apa Bu? Saya mau pulang aja,” tangisan si Mbak semakin kencang.

Suami Ira, Pak Zul datang dengan wajah tegang. “Wah tak boleh dibiarkan ini. Mari kita langsung lapor polisi!”

Polisi di Polsek tersenyum saat menerima laporan Pak Zul. “Perampokan kok tak ada tanda-tandanya. Jadi ada perampok datang untuk memperkosa si Mbak ART? Tindak kekerasan biasanya menyisakan jejak, sementara tidak ada jejak tindakan paksa di rumah Bapak, “ Pak Polisi menerangkan.

Akhirnya si Mbak ART ngaku juga. Dia tidak mau ke dokter untuk di visum. “ Saya diajak saudara saya untuk jadi TKI, Bu. Kalau saya pamit pulang, pasti tak boleh sama Ibu, “ si Mbak akhirnya ngaku.

“Bukan main si Mbak ART ku ini ya. Kok sebelum pulang sempat berakting dulu. Aku sama suami sampe tidak bisa kerja seharian karena ngurus dia, “ Ira curhat.

Begitulah...jago akting ada di sekitar kita. Mulai dari si Mbak ART hingga pejabat. Lama-lama saya hapal akting orang hihihi.

Saya pernah dikerjain penyalur ART. “Ibu, saya Ibu Ujang. Permisi Ibu, ini ibu mertua Mbak Sum mau bicara, “kata Ibu Ujang di telpon. “Assalam ‘alaikum Ibu. Saya mertua Mbak Sum. Suami saya baru saja meninggal, Bu. Boleh Mbak Sum izin pulang? Nanti balik lagi kok ke tempat Ibu. Terimakasih Ibu,” kata mertua si Mbak Sum.

Walaupun sedang demam, saya tetap mengantar si Mbak ke tempat bis sehabis Magrib. Tidak lupa saya ke atm untuk memberi gaji si Mbak 1 bulan, ongkos pulang dan uang duka sekedarnya. Padahal si Mbak belum sebulan bekerja di rumah saya. Sebagai orang Timur, rasanya tidak tega untuk hitung-hitungan gaji pada orang yang sedang berduka.

Sepuluh hari setelah si Mbak pulang kampung, saya menelpon suaminya. Kebetulan si Mbak pernah memakai telpon saya, jadi nomor hp suaminya terekam.

“Permisi Mas. Saya mau nanya. Mbak Sum itu mau balik ke rumah saya atau tidak? Kok sudah sepuluh hari tidak ada kabar. Kalau memang tidak balik, tolong beritahu agar saya bisa cari Mbak baru”.

“Saya tidak tahu Bu. Kan saya belum ketemu istri saya, “ jawab suaminya.

Kok aneh ya. Bapaknya meninggal kok dia tidak pulang untuk memakamkan. Padahal dekat.

“Memangnya yang meninggal siapa Mas?” saya memancing.

“Ibunya, Bu, “ jawab si suami.

“Ibunya siapa?” lanjut saya.

“Ibunya istri saya, “ jawab suami Mbak Sum.

Jelas bohong toh. Langsung deh saya ceramah tentang “jangan ngerjain orang”. Tak lupa penyalurnya juga saya telpon dengan tema “ceramah” yang sama. Mereka mau dengar atau tidak, yang penting unek–unek saya keluar hihihi...

Si Mbak aja bisa akting apalagi orang “pintar”. Saya geleng-geleng kepala menyaksikan seorang “pakar” bicara dengan meyakinkan di tv. Bila tidak memegang data-data kebohongan dia, mungkin saya akan percaya pada dia. Aktingnya meyakinkan! Mungkin dia tidak merasa berbohong karena sudah terlalu lama hidup di dunia kebohongan.

Bagaimana pendapat teman-teman mengenai hukuman pada seseorang yang tidak berdasarkan saksi mata atau bukti terkait? Contoh pada kasus Anand Krishna. Tidak ada bukti apapun! Hasil visum dr Mun’im Idris menyatakan Tara virgin dengan tubuh mulus tanpa tanda kekerasan. Bukti tidak ada, baik berupa foto, rekaman suara atau video yang terkait dengan kasus. Saksi mata tidak ada. Yang ada adalah 4 saksi ibu-ibu usia 40 an yang mengaku pernah dipegang payudara sekitar 5 tahun yang lalu.

Aktivis-aktivis perempuan berASUMSI bahwa tidak mungkin seorang wanita berbohong dalam melaporkan kejadian pelecehan terhadap dirinya. ASUMSI bisa salah, bisa benar.

Bila memang terjadi pelecehan, pelaku wajib dihukum. Bagaimana bila tidak terjadi pelecehan? Bagaimana dengan seseorang yang terlanjur dipenjara padahal tidak bersalah?

Bagaimana bila kasus Anand Krishna ini terjadi pada Tokoh yang kita cintai, pada Jokowi atau Ahok misalnya? Saya tidak rela!!! Amit-amit jabang bayi...

Rekayasa pembunuhan saja bisa dilakukan oleh pihak yang kepentingannya terusik oleh sepak terjang tokoh tertentu. Apalagi kasus pelecehan. Tidak perlu bukti dan saksi mata! Hanya perlu 5 suara wanita!

Kisah yang terkenal tentang kisah pelecehan adalah kisah Nabi Yusuf. Wanita yang marah, wanita yang dendam bisa menjebloskan seseorang yang tak bersalah ke dalam penjara dengan kesaksian palsu. Wanita tidak 100 % benar. Wanita bisa digunakan, bisa dikipas, bisa bersaksi palsu dengan motif berbeda-beda. Motif wanita melakukan kesaksian palsu bisa karena dendam akibat tersinggung, bisa karena motif ekonomi, bisa bermacam-macam.

Kompas Sabtu 16 Maret 2013 menayangkan artikel menarik “Kita Lihat Perempuan Hakim Memimpin”.

Berikut kutipannya:

Lihatlah perempuan hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Cantik, anggun, lembut, dan tidak kurang tegasnya. Kepalsuan para terdakwa di depan mereka mudah tercium.

Sebut saja Tati Hadianti yang memimpin sidang Neneng Sri Wahyuni dan Sudharwatiningsih yang memimpin sidang dugaan korupsi bioremediasi PT Chevron Pasific Indonesia.

Di tengah dominasi pria, perempuan hakim ini menarik karena kuatnya karakter mereka. Mereka lihai menguber pertanyaan secara rinci yang kerap terlupakan pria hakim.

Perempuan hakim tidak mudah ditundukkan dengan kesaksian berbelit-belit. Kepalsuan dapat mereka baca karena psikologi dan gerak tubuh mereka pelajari. Lembut, perhatian, dan tegas bersenyawa jadi satu. Namun, ketika kepalsuan tercium, tak akan ada belas kasihan. Terdakwa Neneng yang selalu “manja” di persidangan kena batunya.

Btw, Anand Krishna di vonis bebas dan dikembalikan harkat dan kedudukannya di mata hukum oleh Srikandi Hukum, Hakim Albertina Ho. Namun Jaksa Martha keukeuh mengajukan kasasi padahal kasasi atas vonis bebas tidak dikenal di negara-negara beradab. Kasasi yang berisi copas kasus orang lain (kasus sengketa merk) dikabulkan oleh MA. Dua dari tiga hakim MA yang memberi vonis 2.5 tahun pada Anand Krishna telah mundur dari jabatan Hakim Agung. Hakim ZU terindikasi suap, Hakim Yamanie terbukti curang karena mengubah vonis untuk terdakwa narkoba. Kajari  Jaksel telah mengeksekusi paksa Anand Krishna dengan membawa 50 preman padahal vonis MA #CacatHukum dan #BataldemiHukum karena tak memenuhi pasal 197 KUHAP.

Mohon doanya teman-teman. Free Anand Krishna for Justice. Sila mampir ke FreeAnandKrishna.com
TerimaKasih... Namaste _/l\_

Kamis, 06 September 2012

Manipulasi Kata


Kata-kata adalah abadi, akan bisa diakses kapanpun oleh siapapun yang frekuensinya masih dalam jangkauan kita. Saya berulang-kali mencamkan kalimat ini karena saya sering melupakan betapa penting sekaligus berbahayanya kata-kata. Kata-kata abadi selama waktu ada.

We reap what we sow. Kita akan memanen apa yang kita pikirkan, ucapkan, perbuat.

Beberapa waktu lalu saya membaca rangkaian tweet Fira Basuki, penulis terkenal serta pemimpin redaksi Majalah Cosmopolitan Indonesia. Fira tidak berkenan dengan tulisan satu media yang menuliskan “Fira Basuki terpuruk karena suami meninggal”. Fira sangat tidak suka dengan kata “terpuruk” karena menggambarkan seseorang yang masuk ke dalam jurang dan tidak mampu bangkit lagi. Fira melanjutkan, “Saya sedih namun saya tidak terpuruk.” Fira menerangkan dalam tweetnya, betapa beliau, walau sedih, bisa segera bekerja kembali, bisa terbang ke Madrid untuk urusan pekerjaan, bisa tegar untuk putrinya Syaza dan bayi yang dikandungnya.

Satu kata “terpuruk” bisa membuat seseorang tidak berkenan. Bagaimana bila serangkaian kata tidak etis dilontarkan via media ya?

Contohnya adalah rangkaian manipulasi kata yang dilontarkan pihak penyerang Bapak Anand Krishna. Contoh kata-kata yang tidak etis, playing victim adalah kata-kata yang menjadi headline beberapa media yaitu “Korban Anand Krishna”.

Bisa disaksikan pada youtube rekaman suara Tara Pradipta Laksmi, Farahdiba dkk, dengan kata kunci “Membongkar Rekayasa Kasus Anand Krishna”. Dari rekaman itu jelas Tara tidak pernah dilecehkan seperti yang tertulis pada BAP dia. Jadi siapa yang menuliskan BAP Tara di Polda? Hmmm...

Saya prihatin dengan headline “Korban Anand Krishna menangis bahagia mendengar Anand Krishna dihukum 2.5 tahun penjara.”

Pak Anand Krishna harus menjalani proses hukum selama dua tahun padahal tanpa bukti dan tanpa saksi mata. Tara virgin menurut visum dr Mun’im Idris. Mengapa bisa kasus Anand Krishna ini berlarut-larut di ranah hukum? Bisa di telusuri track record Ibu Polisi yang menyelidiki kasus Anand Krishna hingga track record Jaksa Martha Berliana. Jaksa Martha Berliana mengajukan memo kasasi yang berisi manipulasi, copas kasus orang lain pada memo kasasi Anand Krishna. Anehnya memo kasasi itu tidak butuh waktu lama untuk segera disetujui oleh tiga Hakim MA yang diketuai Hakim Agung Zaharuddin Utama.

Bila seorang guru spiritual, presiden, ulama, pastor, siapapun memang bersalah silakan diadukan dan harus menjalani hukuman bila memang terbukti bersalah. Namun bila tidak bersalah, aneh sekali bila dipaksa untuk menjalani hukuman. Jelas sekali kasus Anand Krishna ini rekayasa karena Jaksa Martha Berliana harus mengarang memo kasasi. Bila sampai copas kasus pihak lain hingga 10 halaman dan dengan memanipulasi data, jelas sekali Jaksa Martha Berliana tidak sedang menegakan keadilan tapi melakukan segala tipu daya untuk memenjarakan Anand Krishna.

Media –media yang “asal” dalam menuliskan berita sedang menggali kuburannya alias tidak dipercaya lagi sebagai sumber berita. Saya menyaksikan ini pada portal media yang asal. Saya tidak paham, apakah mereka tidak mengerti bahwa menyebarkan berita bohong adalah dosa? Mungkin mereka mengerti namun mereka punya banyak alasan untuk membenarkan diri.

Contoh lagi berita yang disebarkan pihak penyerang sebagai berikut “Korban Anand Krishna 45 orang”. “Untuk para korban silakan hubungi Posko Korban Anand Krishna pada hotline xxxxxx.” Dan masih banyak lagi manipulasi kata yang menggambarkan Pak Anand Krishna sebagai dirty old man dst dst.

Selanjutnya apakah ada pembaca yang mendengar kelanjutan berita “Posko Korban Anand Krishna” ? Tidak ada beritanya lagi kan? Karena memang tidak ada korban!!!

Demikian... Note to myself: harus berhati-hati menggunakan kata! Dan bila ada ketidak-adilan di depan mata maka saya harus menyatakan keberatan. Karena memperjuangkan keadilan untuk satu manusia sama dengan memperjuangkan keadilan untuk satu masyarakat. Semoga negeri ini kembali jaya dengan aparat penegak hukum yang jujur dan berintegritas. Amiiin

Terimakasih
Namaste _/l\_

Translate

About Me

Foto Saya
Guruntala
🌹A dam mast qalandar. #BlessingsClinic 🌹Give some workshops: Meridian Face & Body Massage, Aromatherapy Massage with Essential Oils, Make up. 🌹Selling my blendid Face Serum. IG & twitter: @guruntala
Lihat profil lengkapku

Followers

Komentar Terbaru

Visitors

free counters