Tampilkan postingan dengan label Keadilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keadilan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 08 Mei 2013
Bila Fitnah Merajalela
Kitab suci menyatakan bahwa
fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Orang akan berpikir-pikir dulu untuk
melakukan pembunuhan. Bila ketahuan, bisa mendapatkan hukuman mati. Bila
menyebarkan fitnah, apa hukumannya? Kecuali bila yang difitnah adalah orang
yang berkuasa dan berduit. Orang yang menfitnah akan disomasi, mungkin
digebukin sampai kapok oleh tukang pukul, dan bisa penjara beberapa tahun.
Padahal fitnah lebih kejam
daripada pembunuhan...
Ketika Jaksa Agung Baharuddin Lopa
meninggal, beredar issue bahwa beliau
meninggal di racun. Tentu pihak yang berkepentingan membunuh beliau adalah
pihak yang akan mendapatkan hukuman berat akibat pelanggaran hukum yang
merugikan masyarakat banyak. Jaksa Agung Baharuddin Lopa meninggal dengan nama
harum. Beliau adalah contoh penegak hukum yang berani menegakkan keadilan tanpa
pandang bulu. Jaksa Agung Baharuddin Lopa adalah teladan bagi pejabat dan
penegak hukum karena beliau menolak gratifikasi dalam bentuk apapun, beliau
hidup sangat sederhana.
Bagaimana bila Jaksa Agung Baharuddin Lopa “dibunuh”
dengan fitnah ? Misalkan beliau di issue kan
melakukan pelecehan seksual, menerima suap dll. Masyarakat yang akan rugi bila
“memakan” fitnah tersebut. Tidak ada lagi sosok penegak hukum yang berintegritas,
bersih dan dipercaya. Masyarakat yang tidak percaya lagi pada penegakan hukum
akan cenderung main hakim sendiri, karena merasa percuma untuk memproses satu
kasus secara hukum. Hanya akan membuang-buang duit dan waktu saja! Masyarakat
yang kacau tanpa penegakan hukum akan hancur, dan biasanya hanya bisa
dikendalikan oleh pemerintahan militer.
Fitnah lebih kejam daripada
pembunuhan...
Misalkan Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini difitnah. Misalkan
beliau difitnah selingkuh dengan suami orang atau dengan brondong (amit-amit). Beliau dan keluarganya akan
depresi. Masyarakat rugi karena kehilangan sosok pejabat teladan seperti Ibu
Tri Rismaharini. Masyarakat akan kehilangan pejabat yang mendedikasikan
hidupnya untuk melayani rakyat, kehilangan pejabat yang hidup sederhana dan
menolak gratifikasi...
Demikian pula bila pejabat yang
bagus seperti Jokowi dan Ahok difitnah. Masyarakat yang akan rugi karena kehilangan
pejabat yang berintegritas.
Fitnah lebih kejam daripada
pembunuhan. Sebab itu kitab suci mengajarkan, bila ada berita yang sampai pada
kita harap diperiksa dulu kebenarannya. Jangan sampai kita berbuat zalim kepada
orang yang tidak bersalah. Dan bersikap adil lah kepada siapapun tidak pandang
bulu.
Sikap adil adalah syarat utama
masyarakat madani atau sipil. Para
penegak hukum dan media harus berlaku adil demi kelangsungan masyarakat madani. Bila penegak hukum menerima
gratifikasi, pemilik media tidak adil, kehancuran masyarakat sudah bisa
ditebak. Masyarakat yang tidak adil akan menjadi bangsa budak atau menjadi
masyarakat di bawah pemerintahan militer.
Masyarakat umum tampaknya
biasa-biasa saja ketika Pak Anand Krishna difitnah dan kemudian dipenjara. Karena
banyak media tidak berlaku adil dengan pemberitaan yang memihak. Padahal fitnah
lebih kejam daripada pembunuhan. Satu masyarakat bisa hancur karena fitnah.
Tahukah masyarakat bahwa Bapak Anand Krishna menemukan metode ampuh
untuk menyembuhkan kecanduan pada narkoba, obat-obat anti depresi, trauma
berkepanjangan.
Punya kerabat yang anaknya
narkoba? Langit seakan runtuh bila anak kecanduan narkoba. Anak akan hancur
hidupnya, tidak mau belajar, tidak mau bekerja, butuh duit terus-terusan untuk
membeli narkoba. Pecandu narkoba akan melakukan apa saja, menipu, mencuri demi
mendapatkan narkoba.
Suatu kebahagiaan yang luar biasa
bila seorang anak bisa bersih dari kecanduan narkoba. Banyak peserta di Anand Ashram yang sembuh dari kecanduan
narkoba, dan dari kecanduan obat anti depresi.
Pak Anand Krishna telah menulis
sekitar 150 buku dengan berbagai tema. Ada buku yang membahas tentang
kesehatan, tentang pendidikan, tentang budaya, tentang nasionalisme, tentang
apresiasi berbagai ajaran agama dan kepercayaan. Buku beliau bagus sekali untuk
self
empowerment & wellbeing.
Rugi sekali satu bangsa yang
melempar tai pada seorang guru spiritual. Bagaimana mungkin Metro TV
menayangkan cerita Dewi Yogo yang
mendiagnosa bahwa Pak Anand Krishna melakukan pelecehan, melakukan cuci otak
bla bla bla. Tahukah masyarakat bahwa si pakar Dewi Yogo itu bukan seorang
psikiater bukan psikolog klinis, namun
dia berani mendiagnosa orang seperti seorang Psikiater! Dan Metro TV membiarkan
pelanggaran etika jurnalisme, demikian pula dengan TV One. Tayangan pada tv
lain tidak sempat saya tonton.
Silakan klik FreeAnandKrishna.com untuk mengetahui kejanggalan-kejanggalan pada
kasus Anand Krishna. Silakan mendengar rekaman sidang Hakim Albertina Ho dengan saksi-saksi Tara yang absurd. Bila anak gadis anda mengalami
pelecehan seksual, siapa yang mengurus? Anda atau orang lain yang bukan kerabat
bukan sahabat? Yang mengurus kasus Tara ini adalah seorang mafia kasus yang
memberi uang pada saksi-saksi, membiayai operasional penyerangan fitnah,
membayar demo FPI, mencarikan pengacara dll. Ada seorang gadis, yang menurut
visum virgin, tanpa bukti dan saksi mata tampil di TV One mengatakan bahwa dia
dilecehkan. Setelah tampil di TV One baru lah Tara Pradipta Laksmi lapor
polisi. Hmmmm...
Berhatilah-hatilah masyarakat
yang berlaku zalim kepada seseorang yang tidak bersalah. Mau percaya atau
tidak, silakan. Namun kita semua saling terkait. Kehancuran satu bangsa bukan
karena adanya sekelompok penjahat. Namun karena orang-orang baik di negara itu
diam saja atau tidak peduli. Quote Swami
Vivekananda dan Edmund Burke ini
relevan dan terbukti benar.
TerimaKasih... Namaste _/l\_
Minggu, 21 April 2013
Peringatan ARB kepada Anas Urbaningrum
Menarik wawancara wartawan Harian
Jakarta Post dengan Anas Urbaningrum. RT @jakpost: I asked SBY to stop
engineering my case: Anas http://t.co/fgcnITa6zA
Saya bukan pro Anas atau SBY.
Namun cerita Anas disini menarik. Aburizal Bakrie mengirimkan BBM pada Anas,
“Nas, be careful. Don’t end up like Anwar Ibrahim”.
“Nas, berhati-hatilah. Jangan
sampai bernasib sama dengan Anwar Ibrahim”.
Kita tahu bagaimana Anwar Ibrahim
dibungkam lawan politiknya, Mahathir Muhammad, dengan tuduhan pelecehan
seksual. Tuduhan mau benar atau tidak, yang penting tertuduh dibungkam, dibuat
repot dengan masalah hukum. Waktu, perhatian dan uang tertuduh terkuras dalam
menghadapi masalah hukum. Ketika masalah hukum selesai, si pembungkam sudah
menang dalam pertarungan politik.
Rekayasa pembunuhan agak sulit.
Harus membunuh orang, harus mencari sniper,
harus mencari koordinator lapangan yang teliti agar pembunuhan tidak meleset.
Merekayasa kasus pelecehan seksual sangat mudah. Tokoh Wikipedia, tokoh politik
Perancis, juga Anand Krishna dibungkam dengan kasus rekayasa pelecehan seksual.
Kasus rekayasa pelecehan seksual tidak perlu bukti, tidak perlu saksi mata,
hanya perlu mencari 5 wanita yang bisa berbicara. Dengan modal mulut, pria
korban rekayasa bisa dikirim ke penjara.
Kasus rekayasa pelecehan seksual
juga akan didukung oleh sebagian besar aktivis perempuan. Bagi sebagian aktivis
perempuan, wanita yang melaporkan tuduhan pelecehan seksual pasti benar.
Padahal sejarah mengenal Zulaikha, wanita pendendam yang menjebloskan Nabi Yusuf
ke penjara. Ada Hindun yang sangat kejam, ada istri Abu Lahab si pengadu domba
yang licik.
Belum lama ini Pakar Hipnosis dan
NLP Willy Wong @wlywong menulis di twitter bahwa ekspresi Adi Bing Slamet dan
Arya Wiguna di video “Demi Tuhan” mengindikasikan ketidak-jujuran. Bila mau
menghancurkan nama seseorang, cukup mencari orang-orang pendendam seperti Adi
Bing Slamet dan Arya Wiguna. Karena ditayangkan di tv-tv berulangkali setiap
hari, masyarakat umum akan mempercayai sebuah kebohongan sebagai satu
kebenaran.
Ada buku yang sangat menarik
berjudul “Meditasi Lilin” tulisan Psikiater Prof. Ni Luh Suryani. Buku yang
diterbitkan oleh Pustaka Populer Obor ini mengajarkan meditasi lilin agar intuisi
kita berkembang. Dengan melihat mata seseorang, kita bisa merasakan emosi
seseorang, apakah orang tersebut bisa dipercaya atau tidak. Mata adalah jendela jiwa, mata tidak bisa
bohong.
Btw, Prof. Ni Luh Suryani menjadi
saksi yang meringankan Anand Krishna pada sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Menurut Psikiater yang berpengalaman menghadapi wanita-wanita yang mengalami
kekerasan seksual ini, seseorang yang benar-benar mengalami pelecehan seksual
tidak akan bisa tampil santai sebagaimana penampilan Tara di tv-tv. Untuk
mendengarkan rekaman sidang sila klik FreeAnandKrishna.com
Selain artis yang jago akting di
sinetron, ada juga jago-jago akting pada
acara talkshow di tv-tv kita. Seorang
teman tertawa terbahak-bahak ketika menyaksikan seorang ibu mengaku dipegang
payudara oleh seorang guru spiritual. Teman saya ini, Lani, jago banget baca
ekspresi wajah seseorang. Kadang seseorang tidak bisa akting secara persistent di tv. Saya terkejut saat
melihat penampilan Tara dan Sumidah di TV One saat episode yang menghadirkan
Ridwan Saidi. Spontan Tara dan Sumidah menampilkan wajah riang saat diminta
Ridwan Saidi untuk memperagakan contoh latihan di Padepokan Anand Ashram.
Semoga kita semua tidak tertipu
oleh jago-jago akting di sekitar kita sehingga menghujat orang yang tidak
bersalah. Amiin
Kita semua saling terhubung.
Menegakkan keadilan untuk satu manusia sama dengan menegakkan keadilan untuk
satu masyarakat. Free Anand Krishna for Justice. Please klik www.FreeAnandKrishna.com
TerimaKasih...Namaste _/l\_
Foto ARB-Anas berasal dari antaranews.com
Minggu, 17 Maret 2013
Jago Akting di Sekitar Kita
Teman saya, dr Ira, terbirit-birit pulang begitu mendapat
telpon dari Mbak ART nya. Padahal dr Ira baru saja sampai di kantor, masih
pukul 9 pagi. Di perjalanan pulang, Ira menelpon suaminya agar segera pulang ke
rumah, “Gawat, si Mbak diperkosa!”
“Perampok tadi datang Bu. Mereka memperkosa saya,” lapor si
Mbak sambil menangis tersedu-sedu. “Ayo ke dokter untuk visum!” ajak Ira. “Buat
apa Bu? Saya mau pulang aja,” tangisan si Mbak semakin kencang.
Suami Ira, Pak Zul datang dengan wajah tegang. “Wah tak boleh
dibiarkan ini. Mari kita langsung lapor polisi!”
Polisi di Polsek tersenyum saat menerima laporan Pak Zul.
“Perampokan kok tak ada tanda-tandanya. Jadi ada perampok datang untuk
memperkosa si Mbak ART? Tindak kekerasan biasanya menyisakan jejak, sementara
tidak ada jejak tindakan paksa di rumah Bapak, “ Pak Polisi menerangkan.
Akhirnya si Mbak ART ngaku juga. Dia tidak mau ke dokter
untuk di visum. “ Saya diajak saudara
saya untuk jadi TKI, Bu. Kalau saya pamit pulang, pasti tak boleh sama Ibu, “
si Mbak akhirnya ngaku.
“Bukan main si Mbak ART ku ini ya. Kok sebelum pulang sempat
berakting dulu. Aku sama suami sampe tidak bisa kerja seharian karena ngurus
dia, “ Ira curhat.
Begitulah...jago akting ada di sekitar kita. Mulai dari si
Mbak ART hingga pejabat. Lama-lama saya hapal akting orang hihihi.
Saya pernah dikerjain penyalur ART. “Ibu, saya Ibu Ujang.
Permisi Ibu, ini ibu mertua Mbak Sum mau bicara, “kata Ibu Ujang di telpon. “Assalam
‘alaikum Ibu. Saya mertua Mbak Sum. Suami saya baru saja meninggal, Bu. Boleh
Mbak Sum izin pulang? Nanti balik lagi kok ke tempat Ibu. Terimakasih Ibu,”
kata mertua si Mbak Sum.
Walaupun sedang demam, saya tetap mengantar si Mbak ke tempat
bis sehabis Magrib. Tidak lupa saya ke atm untuk memberi gaji si Mbak 1 bulan,
ongkos pulang dan uang duka sekedarnya. Padahal si Mbak belum sebulan bekerja
di rumah saya. Sebagai orang Timur, rasanya tidak tega untuk hitung-hitungan
gaji pada orang yang sedang berduka.
Sepuluh hari setelah si Mbak pulang kampung, saya menelpon
suaminya. Kebetulan si Mbak pernah memakai telpon saya, jadi nomor hp suaminya
terekam.
“Permisi Mas. Saya mau nanya. Mbak Sum itu mau balik ke rumah
saya atau tidak? Kok sudah sepuluh hari tidak ada kabar. Kalau memang tidak
balik, tolong beritahu agar saya bisa cari Mbak baru”.
“Saya tidak tahu Bu. Kan saya belum ketemu istri saya, “ jawab
suaminya.
Kok aneh ya. Bapaknya meninggal kok dia tidak pulang untuk
memakamkan. Padahal dekat.
“Memangnya yang meninggal siapa Mas?” saya memancing.
“Ibunya, Bu, “ jawab si suami.
“Ibunya siapa?” lanjut saya.
“Ibunya istri saya, “ jawab suami Mbak Sum.
Jelas bohong toh. Langsung deh saya ceramah tentang “jangan
ngerjain orang”. Tak lupa penyalurnya juga saya telpon dengan tema “ceramah”
yang sama. Mereka mau dengar atau tidak, yang penting unek–unek saya keluar
hihihi...
Si Mbak aja bisa akting apalagi orang “pintar”. Saya
geleng-geleng kepala menyaksikan seorang “pakar” bicara dengan meyakinkan di
tv. Bila tidak memegang data-data kebohongan dia, mungkin saya akan percaya
pada dia. Aktingnya meyakinkan! Mungkin dia tidak merasa berbohong karena sudah
terlalu lama hidup di dunia kebohongan.
Bagaimana pendapat teman-teman mengenai hukuman pada
seseorang yang tidak berdasarkan saksi mata atau bukti terkait? Contoh pada
kasus Anand Krishna. Tidak ada bukti apapun! Hasil visum dr Mun’im Idris
menyatakan Tara virgin dengan tubuh
mulus tanpa tanda kekerasan. Bukti tidak ada, baik berupa foto, rekaman suara
atau video yang terkait dengan kasus. Saksi mata tidak ada. Yang ada adalah 4
saksi ibu-ibu usia 40 an yang mengaku pernah dipegang payudara sekitar 5 tahun
yang lalu.
Aktivis-aktivis perempuan berASUMSI bahwa tidak mungkin
seorang wanita berbohong dalam melaporkan kejadian pelecehan terhadap dirinya.
ASUMSI bisa salah, bisa benar.
Bila memang terjadi pelecehan, pelaku wajib dihukum.
Bagaimana bila tidak terjadi pelecehan? Bagaimana dengan seseorang yang
terlanjur dipenjara padahal tidak bersalah?
Bagaimana bila kasus Anand Krishna ini terjadi pada Tokoh yang
kita cintai, pada Jokowi atau Ahok misalnya? Saya tidak rela!!! Amit-amit
jabang bayi...
Rekayasa pembunuhan saja bisa dilakukan oleh pihak yang
kepentingannya terusik oleh sepak terjang tokoh tertentu. Apalagi kasus
pelecehan. Tidak perlu bukti dan saksi mata! Hanya perlu 5 suara wanita!
Kisah yang terkenal tentang kisah pelecehan adalah kisah Nabi
Yusuf. Wanita yang marah, wanita yang dendam bisa menjebloskan seseorang yang
tak bersalah ke dalam penjara dengan kesaksian palsu. Wanita tidak 100 % benar.
Wanita bisa digunakan, bisa dikipas, bisa bersaksi palsu dengan motif
berbeda-beda. Motif wanita melakukan kesaksian palsu bisa karena dendam akibat
tersinggung, bisa karena motif ekonomi, bisa bermacam-macam.
Kompas Sabtu 16 Maret 2013 menayangkan artikel menarik “Kita Lihat Perempuan Hakim Memimpin”.
Berikut kutipannya:
Lihatlah perempuan hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
Jakarta. Cantik, anggun, lembut, dan tidak kurang tegasnya. Kepalsuan para
terdakwa di depan mereka mudah tercium.
Sebut saja Tati Hadianti yang memimpin sidang Neneng Sri
Wahyuni dan Sudharwatiningsih yang memimpin sidang dugaan korupsi bioremediasi
PT Chevron Pasific Indonesia.
Di tengah dominasi pria, perempuan hakim ini menarik karena
kuatnya karakter mereka. Mereka lihai menguber pertanyaan secara rinci yang
kerap terlupakan pria hakim.
Perempuan hakim tidak
mudah ditundukkan dengan kesaksian berbelit-belit. Kepalsuan dapat mereka baca
karena psikologi dan gerak tubuh mereka pelajari. Lembut, perhatian, dan tegas
bersenyawa jadi satu. Namun, ketika kepalsuan tercium, tak akan ada belas kasihan. Terdakwa Neneng yang selalu “manja”
di persidangan kena batunya.
Btw, Anand Krishna di vonis
bebas dan dikembalikan harkat dan kedudukannya di mata hukum oleh Srikandi Hukum, Hakim Albertina Ho. Namun
Jaksa Martha keukeuh mengajukan
kasasi padahal kasasi atas vonis bebas tidak dikenal di negara-negara beradab.
Kasasi yang berisi copas kasus orang lain (kasus sengketa merk) dikabulkan oleh
MA. Dua dari tiga hakim MA yang memberi vonis 2.5 tahun pada Anand Krishna
telah mundur dari jabatan Hakim Agung. Hakim ZU terindikasi suap, Hakim Yamanie
terbukti curang karena mengubah vonis untuk terdakwa narkoba. Kajari Jaksel telah mengeksekusi paksa Anand Krishna
dengan membawa 50 preman padahal vonis MA #CacatHukum dan #BataldemiHukum
karena tak memenuhi pasal 197 KUHAP.
Mohon doanya teman-teman. Free Anand Krishna for Justice.
Sila mampir ke FreeAnandKrishna.com
TerimaKasih... Namaste _/l\_
Kamis, 06 September 2012
Manipulasi Kata
Kata-kata
adalah abadi, akan bisa diakses kapanpun oleh siapapun yang frekuensinya masih
dalam jangkauan kita. Saya berulang-kali mencamkan kalimat ini karena saya
sering melupakan betapa penting sekaligus berbahayanya kata-kata. Kata-kata
abadi selama waktu ada.
We
reap what we sow. Kita akan memanen apa yang kita pikirkan, ucapkan, perbuat.
Beberapa
waktu lalu saya membaca rangkaian tweet Fira
Basuki, penulis terkenal serta pemimpin redaksi Majalah Cosmopolitan Indonesia. Fira tidak
berkenan dengan tulisan satu media yang menuliskan “Fira Basuki terpuruk karena
suami meninggal”. Fira sangat tidak suka dengan kata “terpuruk” karena
menggambarkan seseorang yang masuk ke dalam jurang dan tidak mampu bangkit
lagi. Fira melanjutkan, “Saya sedih namun saya tidak terpuruk.” Fira menerangkan
dalam tweetnya, betapa beliau, walau sedih, bisa segera bekerja kembali, bisa
terbang ke Madrid untuk urusan pekerjaan, bisa tegar untuk putrinya Syaza dan
bayi yang dikandungnya.
Satu
kata “terpuruk” bisa membuat seseorang tidak berkenan. Bagaimana bila serangkaian
kata tidak etis dilontarkan via media ya?
Contohnya
adalah rangkaian manipulasi kata yang dilontarkan pihak penyerang Bapak Anand Krishna.
Contoh kata-kata yang tidak etis, playing
victim adalah kata-kata yang menjadi headline beberapa media yaitu “Korban Anand Krishna”.
Bisa
disaksikan pada youtube rekaman
suara Tara Pradipta Laksmi, Farahdiba dkk, dengan kata kunci “Membongkar
Rekayasa Kasus Anand Krishna”. Dari rekaman itu jelas Tara tidak pernah
dilecehkan seperti yang tertulis pada BAP dia. Jadi siapa yang menuliskan BAP Tara
di Polda? Hmmm...
Saya
prihatin dengan headline “Korban Anand Krishna menangis bahagia mendengar Anand
Krishna dihukum 2.5 tahun penjara.”
Pak
Anand Krishna harus menjalani proses hukum selama dua tahun padahal tanpa bukti dan tanpa saksi mata. Tara virgin menurut visum dr Mun’im Idris.
Mengapa bisa kasus Anand Krishna ini berlarut-larut di ranah hukum? Bisa di
telusuri track record Ibu Polisi yang
menyelidiki kasus Anand Krishna hingga track
record Jaksa Martha Berliana. Jaksa
Martha Berliana mengajukan memo kasasi yang berisi manipulasi, copas kasus
orang lain pada memo kasasi Anand Krishna. Anehnya memo kasasi itu tidak
butuh waktu lama untuk segera disetujui oleh tiga Hakim MA yang diketuai Hakim
Agung Zaharuddin Utama.
Bila
seorang guru spiritual, presiden, ulama, pastor, siapapun memang bersalah
silakan diadukan dan harus menjalani hukuman bila memang terbukti bersalah. Namun
bila tidak bersalah, aneh sekali bila dipaksa untuk menjalani hukuman. Jelas
sekali kasus Anand Krishna ini rekayasa karena Jaksa Martha Berliana harus mengarang memo kasasi. Bila sampai
copas kasus pihak lain hingga 10 halaman dan dengan memanipulasi data, jelas
sekali Jaksa Martha Berliana tidak sedang menegakan keadilan tapi melakukan
segala tipu daya untuk memenjarakan Anand Krishna.
Media
–media yang “asal” dalam menuliskan berita sedang menggali kuburannya alias
tidak dipercaya lagi sebagai sumber berita. Saya menyaksikan ini pada portal
media yang asal. Saya tidak paham, apakah mereka tidak mengerti bahwa
menyebarkan berita bohong adalah dosa? Mungkin mereka mengerti namun mereka
punya banyak alasan untuk membenarkan diri.
Contoh
lagi berita yang disebarkan pihak penyerang sebagai berikut “Korban Anand Krishna
45 orang”. “Untuk para korban silakan hubungi Posko Korban Anand Krishna pada hotline
xxxxxx.” Dan masih banyak lagi manipulasi kata yang menggambarkan Pak Anand Krishna
sebagai dirty old man dst dst.
Selanjutnya
apakah ada pembaca yang mendengar kelanjutan berita “Posko Korban Anand Krishna”
? Tidak ada beritanya lagi kan? Karena memang tidak ada korban!!!
Demikian...
Note to myself: harus berhati-hati menggunakan kata! Dan bila ada
ketidak-adilan di depan mata maka saya harus menyatakan keberatan. Karena
memperjuangkan keadilan untuk satu manusia sama dengan memperjuangkan keadilan
untuk satu masyarakat. Semoga negeri ini kembali jaya dengan aparat penegak
hukum yang jujur dan berintegritas. Amiiin
Terimakasih
Namaste
_/l\_
Langganan:
Postingan (Atom)
Translate
About Me
- Guruntala
- 🌹A dam mast qalandar. #BlessingsClinic 🌹Give some workshops: Meridian Face & Body Massage, Aromatherapy Massage with Essential Oils, Make up. 🌹Selling my blendid Face Serum. IG & twitter: @guruntala

