Selasa, 04 September 2012

Makan dan Minum Emas


Sedih membaca tulisan “Demam Emas di Tengah Taman Nasional” pada Harian Kompas Kamis 30 Agustus. Salah satu Taman Nasional yang rusak karena keserakahan manusia adalah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Sulawesi Utara. Betapa paru-paru bumi Nusantara rusak karena manusia sangat serakah.

Taman Nasional adalah konservasi air bersih murni, menyimpan tanaman-tanaman obat. Hutan juga menyediakan serat untuk bahan menenun kain, kopiah, tikar yang digunakan Ibu-ibu marginal untuk kelangsungan komunitasnya.

Apalah artinya kita memakai emas berkilo gram di tubuh tapi kita tidak bisa minum air bersih, tidak bisa makan makanan sehat. Apalah artinya tabungan berlimpah di bank bila kita sakit berat.

Saya yakin semua manusia waras sudah paham bahwa uang bukan segalanya. Menghancurkan Taman Nasional adalah bencana untuk anak-cucu. Namun mengapa manusia tidak bisa berdaya dalam menghadapi keserakahan diri?

Masalah manusia ada dalam diri kan? Ingin dihargai, ingin dicintai, ingin kenyamanan tubuh, ingin cantik, ingin rumah indah, ingin wisata ke manca negara, ingin anak sekolah yang terbaik dst dst. Nafsu tidak akan bisa terpuaskan. Nafsu adalah api, selalu berkobar. Hanya air kesadaran yang dapat menyiramnya. Air kesadaran dapat diperoleh dengan rajin merenung, tafakur, puasa, berdoa, meditasi, yoga.

Saya sangat menghargai masyarakat pedalaman yang animisme. Karena mereka tidak pernah merusak alam, tidak seperti manusia-manusia yang katanya beragama. Masyarakat Indian di Amerika, hingga masyarakat pedalaman di Indonesia begitu harmonis dengan alam. Karena mereka menganggap semua benda bernyawa. Dan mereka benar. Masyarakat pedalaman sepaham dengan Einstein walau mereka tidak paham teori rumit matematika.

Masyarakat pedalaman menghargai pohon, air, gunung, seisi bumi. Mereka menghargai bumi sebagai Ibu. Bila manusia hidup seperti mereka, bumi ini akan tetap indah dan selalu menyediakan kebutuhan manusia untuk hidup sehat dan bahagia. Sayang, manusia terlalu serakah...

Saya bertekad untuk meniru kesederhanaan masyarakat pedalaman dengan hidup sederhana. Makan cenderung vegetarian, makan sayur, buah, telur, ikan. Ayam sekali-sekali, sapi harus lebih jarang. Trus mengurangi pemakaian plastik, mengurangi konsumsi-konsumsi tak perlu yang hanya menambah-nambah sampah pada bumi. Dan bergabung dengan komunitas ramah lingkungan.

Dan yang terpenting saya bertekad untuk melatih diri, duduk hening 20 menit pagi dan sore, semoga bisa mencapai inner peace. Dengan melatih diri sendiri, setidak-tidaknya bumi akan kehilangan satu orang bego serakah yaitu saya. We live in one field of energy, we are all connected. Bila banyak orang sudah inner peace maka otomatis inner peace akan menyebar dan bertambah terus. Sebagaimana fenomena 100 monyet yang bisa mempengaruhi seluruh komunitas monyet pada dua pulau di Jepang.

Dari Inner Peace, trus ke Communal Love dan semoga tercapai Global Harmony.Yuk gabung dengan Komunitas Global Harmony. Mari wariskan bumi yang indah dan damai untuk anak cucu kelak.

TerimaKasih.
Namaste _/l\_

0 komentar:

Posting Komentar

Translate

About Me

Foto Saya
Guruntala
🌹A dam mast qalandar. #BlessingsClinic 🌹Give some workshops: Meridian Face & Body Massage, Aromatherapy Massage with Essential Oils, Make up. 🌹Selling my blendid Face Serum. IG & twitter: @guruntala
Lihat profil lengkapku

Followers

Komentar Terbaru

Visitors

free counters