Sabtu, 16 November 2013

Karlina Supelli


Foto dari DewiMagazine.com


Senang mendengar pidato kebudayaan yang dilaksanakan setahun sekali oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk tahun ini diisi oleh Ibu Dr. Karlina Supelli.

Saya mengenal Karlina Supelli sejak zaman SMA saya. Saat itu Karlina banyak diliput oleh media massa karena prestasinya sebagai mahasiswi pertama lulusan Astronomi ITB, dan mendapat predikat cumlaude pula.

Saya sampai mendaftar ke jurusan Astronomi ITB karena ngefans sama Karlina. Wkkkkkk...syukur tak lulus. Bisa puyeng kepala saya berurusan dengan matematika dan fisika tingkat tinggi. Mana tahaaaan wkwkwk.

Saya juga rajin mengkliping tulisan Karlina di Kompas, rajin mengkliping majalah yang memuat wawancara dengan Karlina. Gitu deh saya kalo lagi ngefans. Lucu juga mengingat saya sampai merenungkan tulisan-tulisan Karlina di Kompas, padahal mana mudeng saya dengan filsafat. Sekarang saya bisa ngikik guling-guling mengenang hal ini, namun dulu saya serius banget loh merenungkan tulisan Karlina di Kompas.

Ketika ada peringatan Hari Kartini di Institut Teknologi 10 November tahun 80an, ada questioner yang antara lain menanyakan “siapa wanita idola anda”. Tak ragu lagi saya tulis, La Rose dan Karlina Supelli. Wkkkk... jadi geli. Mana sangka saya sekarang suka menulis juga  seperti La Rose, dan suka filsafat juga seperti Karlina. Walau tentu saja filsafat yang saya suka adalah filsafat yang ringan-ringan. Saya suka baca tentang simbol. Saya suka baca buku Dan Brown karena menyangkut simbol. Haiah...ngomong apa sih saya ini, dari mana hingga kemana wkkkkkk...

Beruntung pada pameran buku November 2013 di Istora Jakarta saya menemukan buku “Dari Kosmologi ke Dialog, Mengenal Batas Pengetahuan, Menentang Fanatisme” karya Karlina Supelli. Saya pernah membaca wawancara Karlina Supelli dengan Kompas tentang bagaimana buku ini ditulis.

Hidup terlalu berharga sehingga harus diperjuangkan, Karlina pun bangkit menulis buku dalam keadaan sakit. Syukurlah, Karlina sembuh dari kanker. Saya baca Karlina terkena kanker pada 6 bulan setelah saudara soulmate nya, Alex Supelli, meninggal karena kecelakaan pesawat. Biasanya duka mendalam bisa mencetus kanker...

Saya mengikuti tulisan Karlina di Majalah Pesona walau kadang saya tak mengerti. Filsafat tingkat tinggi boo. Dan saya pernah bertemu muka dengan Karlina saat Karlina menjadi pembicara pada acara Happy Saturday yang diselenggarakan oleh Majalah Pesona.

Beruntung ya saya... Saya sudah bertemu dengan penulis-penulis idola saya, mulai dari Almarhumah La Rose, Karlina, Cak Nun, Anand Krishna, Alberthiene Endah, Dee Lestari, Raditya Dika dll. Pamer booo wkkkkk

Bahkan saya tahu gosip tentang Ibu Karlina. Saudara saya yang mengenal Karlina di ITB bercerita, “Saya tidak sangka Karlina bisa berpisah dengan Ninok Leksono mengingat bagaimana Ninok dulu menguber-nguber Karlina. Mas kawin untuk Karlina saat menikah adalah pembacaan Asmaul Husna oleh Ninok Leksono. Sungguh menyentuh hati.”

Begitulah. Jalan hidup kita tidak tahu. Perjalanan cinta, berapa lama seseorang terikat dalam ikatan suami istri tidak lepas dari utang piutang karma atau takdir.

Yang pasti, Karlina Supelli adalah salah satu wanita idola saya...
TerimaKasih... Namaste _/l\_
Jumat, 15 November 2013

Cara Asyik Menulis Memoar / Travel Writing a la Agustinus Wibowo




Menarik membaca perbincangan LitBox @literarybox dengan Agustinus Wibowo @avgustin88 tentang menulis memoir pada tanggal 15 November 2013 di twitter;p

Agustinus Wibowo adalah salah satu penulis favorit saya. Rugi deh bila melewatkan buku-bukunya: Garis Batas, Selimut Debu, dan Titik Nol.

Berikut perbincangan LitBox dengan Agustinus Wibowo :

LitBox @literarybox: Apa alasan utama @avgustin88 menulis memoir? #WOTWQA

Agustinus Wibowo @avgustin88 :
1.1. Menulis memoir karena saya sadar memori itu tidak abadi, suatu saat pasti akan pudar dan mati, terkubur bersama pemiliknya.
1.2. Sebelum menulis, saya dibebani begitu banyak memori yang campur aduk, rasanya sangat menyiksa.
1.3. Memori yang campur aduk itu pun bagai masa lalu yang campur aduk, saya jadi penasaran apa makna hidup saya selama ini.
1.4. Memoar buat saya juga adalah perjalanan spiritual untuk menjawab berbagai pertanyaan filosofis dalam hidup, dan bikin saya tetap hidup.
1.5. Memoar terbaru saya tulis sebagai terapi psikologis, untuk membebaskan diri dari depresi karena kehilangan orang yang paling saya cintai.

LitBox @literarybox: 2. Memulis memoir = menuliskan hidup @avgustin88 untuk dibaca banyak orang. Apa saja pertimbangan Mas Agus sebelum menuliskannya?

Agustinus Wibowo @avgustin88:
2.1. Pertimbangan pertama adalah alasan personal, untuk pribadi saya sendiri. mengabadikan memori dan menjawab misteri hidup.
2.2. Dengan menulis memoar, masa lalu yang berantakan itu ditata ulang, seperti puzzle, sehingga menjadi berwujud nyata.
2.3. Menulis memoar juga menyadarkan saya bahwa perjalanan hidup yang telah saya lewati adalah hidup yang layak dijalani.
2.4. Dengan menulis memoar, saya bisa semakin menghargai hidup, menghargai masa lalu, masa kini, dan impian masa depan.
2.5. Alasan kedua, adalah berbagi. Supaya pembaca bisa mendapat hikmah dari perjalanan saya tanpa harus menjalani hidup saya.
2.6. Pertanyaan paling penting dalam menulis memoar adalah “How far would you go?”, “Sejauh mana bisa kau bagikan hidupmu untuk publik?”
2.7. Kurang detail bisa menjadikan memoar kering, tidak nyata. Terlalu detail malah bikin boring dan ga penting.
2.8. Tantangan memoar adalah bagaimana merangkum hidup dalam space yang terbatas. Pembaca juga tak perlu& tidak ingin tahu semua hal.
2.9. Semakin dirangkum, yang kita dapatkan adalah hal-hal yang paling esensial dari hidup kita. Kadang kita gak dapatkan ini kalau bukan untuk berbagi.

LitBox @literarybox: Apakah semua pengalaman yang ditulis @avgustin88 itu nyata, atau untuk alasan tertentu ada yang “diperhalus/disamarkan”?

Agustinus Wibowo @avgustin88:
3.1. Memoar adalah karya non fiksi, jadi semua harus realita, tidak boleh menciptakan realita.
3.2. Memoar yang ada unsur fiksinya,walaupun sedikit, sudah bukan memoar, harus dilabeli sebagai novel/fiksi.
3.3 Intinya adalah penulis memoar harus berusaha semaksimal mungkin setia pada kebenaran memorinya, walaupun memori takselalu benar.
3.4. Memoar juga tidak berarti semua hal harus dituliskan, bisa dipilah, bisa dikurangi detail untuk hal-hal tertentu dsb.
3.5. Banyak pertimbangan untuk menentukan mana yang harus ditulis, mana yang dihapus, tokoh mana yang harus dijaga privasinya.
3.6. Beberapa tokoh saya juga menggunakan nama/identitas samaran, demi melindungi privasi mereka. Dalam memoar  tak masalah.

LitBox @literarybox: 4. Banyak yang suka dan terharu dengan kisah Mama di Titik Nol, @avgustin88. What drive did you have at that time to write & share it in ur book?

Agustinus Wibowo @avgustin88:
4.1. Di saat-saat terakhir, baru saya menyadari kisah  Mama ternyata adalah bagian penting dalam perjalanan saya.
4.2. Perjalanan untuk kebanyakan orang adalah tentang pergi. Tapi pertemuan dengan Mama saat beliau sakit menyadarkan saya perjalanan adalah untuk pulang.
4.3. Saat-saat menemani orang tua yang hendak meninggal adalah saat-saat paling berat sekaligus paling membahagiakan.
4.4. Setelah perjalanan jauh dan pulang untuk melihat rumah/keluarga, saya belajar melihat dari sisi yang berbeda.
4.5. Kita biasa take-for-granted rumah/keluarga, padahal begitu banyak hak yang tidak kita ketahui tentang rumah/keluarga kita sendiri.
4.6. Pada saat ini saya baru mengenal masa kecil mama, mimpinya, cintanya, cemburunya, marahnya, rahasianya, kebahagiaannya dll
4.7. Sosok ibu yang dulu saya  kira  sudah saya kenal dekat, ternyata masih begitu asing. Saya beruntung masih punya sedikit kesempatan mengenal beliau.
4.8. Hikmah inilah yang ingin saya bagikan untuk pembaca. Perjalanan bukan hanya tentang tempat jauh, perjalanan bisa di rumahmu sendiri.

LitBix @literarybox: 5. Ceritain pengalamannya nyamar jadi penduduk Cina supaya bisa masuk ke Tibet dong, @avgustin88. Buat ngejar story?

Agustinus Wibowo @avgustin88:
5.1. Bukan buat ngejar story, tapi terpaksa menyelundup ke Tibet karena aturan yang anti pengunjung asing.
5.2. Jadi orang asing yang ke Tibet harus pake guide dan penerjemah, urus permit yang mahal, sewa mobil dsb. Saya tak ada dana itu.
5.3. Dan saya tidak suka perjalanan yang didikte, saya suka petualangan saya sendiri, jadi saya pilih menyelundup.
5.4. Menyamar jadi warga Cina. Paling takut kalo ada pos milisi/militer karena bisa dihukum/dideportasi . Pernah hampir ketangkap.
5.5. Untunglah karena faktor wajah dan bahasa, saya masih bisa selamat dengan menyamar sebagai warga Cina Selatan.
5.6. Tibet yang menegangkan, di masa awal perjalanan saya adalah proses mengalahkan ketakutan, pembuktian diri, penaklukan tantangan.

6.1. Buku harian, itu kuncinya. Tiap hari dalam perjalanan saya mencatat. Ini kemudian jadi harta karun tak terhingga.
6.2. Saat menulis memori keluarga, saya juga mewawancara banyak orang yang terlibat, sebagai verifikasi apa yang saya ingat.
6.3. Di zaman sekarang ada banyak teknologi untuk membantu memori: kamera, smartphone, videocam, dll. Alat bantu no 1 masih kertas + pena.
6.4. Karena kertas dan pena bisa mencatat detail emosi, perasaan, pemikiran kita saat itu. Alat bantu lain tidak bisa.
6.5. Saat membaca ulang oret-oretan saya dibuku harian, saya sering takjub karena banyak hal sebenarnya sudah  hilang di memori saya.
6.6. Memori tidak abadi. Saya mending kehilangan uang daripada kehilangan buku harian di jalan.
6.7. Saat nulis memori Mama, saya banyak terbantu oleh buku harian & surat-surat yang ditulis Mama. Memori paling otentik adalah tulisan.

7.1. Sementara ini masih fokus di non fiksi, jadi penulis perjalanan. Pengen sih belajar fiksi tapi tidak harus jadi penulis fiksi.
7.2. Lagipula memoar itu bukan biografi, bukan perjalanan kita seumur hidup, tapi hanya satu fragmen saja dari perjalanan.
7.3. Kita hidup 30 tahun, 40 tahun, kalo semua pengalaman/kisah hidup ditulis bisa jadi 10 buku kalo bener mau digali.
7.4. Saya menulis memoar melalui travel writing/narasi perjalanan. Kuncinya adalah tetap melakukan perjalanan.

LitBox @literarybox: 8. Sejauh ini, dimana tempat favorit yang pernah @avgustin88 kunjungi dan kenapa?

8.1. Kalo ini, sebenarnya yang favorit bukan masalah tempat, tapi rasa. Tiap tempat menyisakan rasa berbeda.
8.2. Buat saya, pengalaman paling berkesan adalah ketika jadi relawan di daerah bencana, misal di Aceh dan Kashmir.
8.3. Karena di situ saya bertatapan dengan sifat dasar manusia, bagaimana jika harus dihempaskan ke titik terendah dalam hidup.
8.4. Daerah bencana juga mengajarkan saya akan kehangatan kemanusiaan, semangat berbagi, dan semangat bangkit  dari kehancuran.

LitBox @literarybox 9. Berdasarkan pengalaman @avgustin88, apa resep untuk jadi travel (and memoir) writer yang baik?

Agustinus Wibowo @avgustin88:
9.1. Yang pertama adalah keingintahuan yang besar, banyak bertanya terhadap hal-hal yang bahkan kamu kira kamu sudah tahu.
9.2. Berpikir kritis ini adalah yang paling vital. Tanpa pemikiran, memoar dan catatan perjalanan jadi tidak ada artinya.
9.3. Hal lain adalah menghindari generalisasi. Ingat semua orang unik, punya kisah masing-masing, tidak boleh dipukul rata.
9.4. Terutama dalam tulisan travel, generalisasi sangat berbahaya dan memuakkan, menunjukkan  pemikiran yang sempit dari penulisnya.
9.5. Hal berikutnya adalah jujur. Kalo tulisan kamu ada unsur fiksi, sebutlah novel, jangan dilabeli sebagai catatan perjalanan atau memoar.
9.6. Kebohongan dalam tulisan nonfiksi adalah fatal, merusak kredibilitas. Kalo di LN bisa dituntut.
9.7. Catatan perjalanan yang bagus dari interaksi yang bagus, memoar yang bagus dari perenungan yang dalam. Soal teknik itu urusan belakangan.

LitBox @literarybox: 10. Minta rekomendasi 5 buku memoir yang oke menurutmu dong.

Agustinus Wibowo @avgustin88:
10.1. Pastinya Imperium, karya Ryzard Kapuscinski, memoar + travelwriting tentang Uni Soviet.
10.2. Disini Kapuscinski yang orang Polandia memandang masa kecilnya di zaman perang, lalu dia menjelajahi garis batas Soviet.
10.3. Berikut, Tidak Ada Jalan yang Sama karya Yu Hua.
10.4. Yu Hua adalah novelis China. Buku ini adalah kumpulan tulisan buku harian, dimulai dari kelahiran anak lelakinya.
10.5. Dia menulis perjalanan hidup dirinya, diparalelkan dengan anaknya yang bertumbuh dari bayi jadi dewasa.
10.6. Baghdad without A Map karya Tony Horwitz. Kisah perjalanan jurnalis US berdarah Yahudi di negara-negara Timur Tengah.
10.7. From Beirut to Jerusalem, Thomas Friedman, kisah jurnalis di medan perang Timur Tengah. Evocative banget.
10.9. Even Silence Has an End, Ingrid Betancourt. Kisah capres perempuan Columbia yang ditulis pemberontak, 6 tahun di hutan.

Agustinus Wibowo @avgustin88:
@literarybox dan semoga teman-teman terinspirasi nulis memoar. You don’t need to be somebody to write a memoar, coz everybody has unique story.

Horeeee... Terimakasih telah berbagi Koh Agustinus Wibowo dan Literary Box.
Terimakasih... Namaste _/l\_
Jumat, 08 November 2013

Malpraktek oleh Terapis


Foto dari Facebook Flower Power


Suami seorang teman membawa istrinya, yang kondisinya semakin kritis, ke Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapore. Setelah pemeriksaan intensif oleh tim dokter di sana, ketahuan bahwa diagnosis dokter di rumah sakit XYZ di Indonesia salah.

Menurut para dokter ahli disana ,” Kok bisa istri bapak didiagnosis stroke. Karena di diagnosis stroke maka obat-obatan yang diberikan adalah untuk penderita stroke. Tidak heran bila kondisi pasien menjadi semakin parah. Bila tidak cepat ditangani ,istri bapak bisa lumpuh.”

Salah diagnosis bisa mengakibatkan lumpuh hingga kematian. Namun suami teman ini tidak akan menuntut para dokter atau rumah sakit XYZ di Indonesia. Siapa yang punya waktu untuk berurusan dengan hukum? Tidak sepadan dengan waktu, tenaga, uang yang harus dikeluarkan.

Dokter di Singapore itu bercerita, “ Kami, para dokter di Singapore, harus hati-hati melakukan diagnosis. Kalau tidak, izin praktek kami dicabut. Saya bisa jadi sopir taxi karena saya tidak punya keahlian lain selain nyetir dan jadi dokter.”

Malpraktek ternyata tidak dilakukan oleh dokter saja. Psikiater, psikolog, hipnoterapis juga bisa melakukan mal praktek, antara lain dengan membuat pasien mendapatkan memori palsu di pikirannya. Oleh karena itu ada perkumpulan di www.fmsf.com yang didirikan oleh Elizabeth Loftus karena banyaknya mal praktek yang dilakukan oleh terapis.

Di Missouri tahun 1992, Beth Rutherford menggugat ayah kandungnya atas tuduhan telah memperkosanya pada usia 7 hingga 14 tahun. Beth Rutherford juga menuduh ayahnya telah memaksanya untuk melakukan aborsi selama 2 kali.

Ayahnya, mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai Pendeta akibat tuduhan yang dilontarkan oleh Beth Rutherford.

Rata-rata orang akan percaya pada si gadis. Tidak mungkin dong seorang anak gadis berbohong mengenai ayah kandungnya sendiri, atas tuduhan pemerkosaan lagi.

Ternyata menurut visum, Beth Rutherford masih virgin pada usianya yang ke 22 tahun. Berarti Beth tidak pernah diperkosa, dan pastinya tidak pernah dipaksa untuk aborsi oleh Bapaknya.

Mengapa Beth Rutherford yakin bahwa dia diperkosa selama 7 tahun oleh ayah kandungnya? Karena dia telah membuat false memory di pikirannya, karena “bimbingan” seorang terapis.

Silakan membaca website  seorang Hipnoterapis terkemuka, Dr. Adi W Gunawan yang berjudul False Memory. Leading question pada seorang terapis, terutama pada sesi hipnoterapi, akan membuat klien membuat memori palsu di alam bawah sadarnya. Kemudian memori palsu ini akan direkam oleh pikiran sadar.

Seorang terapis, psikiater, psikolog, hipnoterapis yang beretika akan berhati-hati melontarkan pertanyaan kepada klien.

Seorang hipnoterapis yang kurang berhati-hati/ kurang beretika akan memakai leading question seperti : “Apakah kamu dipeluk, dicium-cium?”. “Apakah kamu dilecehkan”. Pikiran bawah sadar klien akan membayangkan satu kejadian yang tidak pernah terjadi. Dia akan membayangkan dia dipeluk, dicium-cium secara paksa. Padahal kejadian yang menyeramkan tersebut tidak pernah terjadi. Satu pertemuan biasa antara beberapa orang bisa dibayangkan sebagai satu pertemuan dimana si klien diperkosa sementara beberapa orang lain bisa menjadi pembantu pemerkosa.

Malpraktek ini juga terjadi di Indonesia. Saya heran membaca wawancara Dewi Yogo di VIVAnews bulan Februari 2010, juga dari pernyataan Dewi Yogo di Metro TV. Dewi Yogo menghipnosis Tara Pradipta Laksmi sebanyak 45 kali! Dan Dewi Yogo melakukan leading question kepada Tara seperti ini “Apa terjadi ini-itu?” maksudnya “Apa terjadi pelecehan?” Kemudian menurut Dewi Yogo, Tara menangis. Dan Dewi Yogo menyimpulkan bahwa Tara dilecehkan.

Cerita Tara ini teringat ketika saya membaca Inferno oleh Dan Brown. Ibu Tara percaya bahwa anaknya dilecehkan karena ada beberapa wanita bercerita bahwa mereka dilecehkan. Memang beberapa wanita ini terlibat dalam rekayasa untuk menjatuhkan guru spiritual.  Bertahun-tahun, pihak X mencari jalan untuk menjatuhkan menjatuhkan guru spiritual. Pihak X akhirnya mendapat jalan setelah mendapat sosok yang tepat, Ibu Wijarningsih dan anaknya Tara.

“Saya selama ini tidak tahu apa-apa. Saya baru tahu bahwa Tara dilecehkan setelah diberitahu oleh Psikiaternya (Dewi Yogo-noted)” demikian Ibu Wijarningsih kepada TV One.

Btw, Ibu Dewi Yogo ini bukan dokter, jadi pastinya dia bukan seorang Psikiater. Dewi Yogo bahkan menulis data fiktif di Linkedin. Untung sudah saya save data-datanya sebelum Dewi Yogo menghapus akun Linkedinnya karena ketahuan menulis data fiktif.

Bila Dewi Yogo ini betul-betul seorang pakar, mengapa harus menulis data fiktif di Linkedin. Dewi Yogo selalu berkilah, bahwa bila mau melihat ijazahnya silakan ke tempat prakteknya. Hahahahaha. Di zaman digital printing yang maju ini, saya bisa mendapatkan ijazah palsu dengan mudah. Mau ijazah palsu Master dan Ph.D dari Harvard, dari Yale?? Gampang!!! Namun orang mudah melacaknya ke universitas yang bersangkutan, kecuali bila mengaku lulusan dari Universitas Timbuktu.

Gila ya, seseorang seperti Dewi Yogo mendapat tempat di media. Yng lucu adalah Kapolri BHD menyebutkan Anand Krishna cabul berdasarkan kesaksian seorang Dewi Yogo. Ampun deh. Kapolri aja bisa tertipu apalagi orang kebanyakan hahahaha.

Jadi bila bangsa ini hancur, saya tidak heran. Kehancuran mulai dari persoalan penegakan hukum. Bagaimana bisa Guru Anand Krishna divonis penjara 2.5 tahun padahal tidak ada bukti dan saksi mata? Hakim bersih Albertina Ho sudah menvonis bebas pada Bapak Anand Krishna. Namun Hakim MA, Hakim Agung Yamanie yang telah dipecat, Hakim Agung Zaharuddin Utama yang terindikasi suap, menvonis Pak Anand Krishna selama 2.5 tahun penjara. Gilaaa banget memenjarakan seseorang tanpa bukti dan saksi mata. Pantas ada hadist yang menyatakan bahwa ,”2 dari 3 hakim masuk neraka”.

Teman saya yang hampir mati karena salah diagnosis oleh dokter di Indonesia saja tidak mau buang waktu untuk menuntut. Kok Tara Pradipta Laksmi, yang menurut visum Dr Mun’im Idris “virgin mulus” menuntut dilecehkan. Yang lebih lucu lagi, Tara tampil di TV One dulu. Bikin roadshow yang diliput oleh TV One dulu baru lapor Polisi. Aneh banget. Hmmm, siapa sponsornya ya...

Begitulah... Tidak ada negara yang bisa jaya bila para penegak hukumnya tidak menjunjung keadilan.
Terimakasih... Namaste _/l\_

Kesederhanaan adalah Kekuatan


Foto dari Facebook: Flower Power


Matre is in the air... Matre melanda bangsa ini , mulai dari Presiden hingga PRT.

PRT sekarang bertanya dulu, dapat gaji berapa, dapat fasilitas apa baru mau bekerja. Padahal dia belum tentu bisa bekerja dengan baik.

Kenapa matre ya *ngomong sama cermin. Adiguna Sutowo yang kayanya bukan main tidak bahagia juga. Buktinya suka marah-marah, temperamental, pernah menembak orang. Trus, dari berita online, Adiguna mabuk-mabukan dengan istri orang. Padahal istri ada dua orang. Rumah di Menteng. Istri ke dua punya mobil mewah tiga buah. Duit melimpah, kok Adiguna masih suka mengamuk, masih suka mabuk-mabukkan.

Duit bukan jaminan kebahagiaan. Namun kita perlu duit lah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Dan kebutuhan dasar saat ini bukan saja tempat tinggal, baju dan makanan tapi juga uang pulsa, uang transport. Untuk saya tambah uang buku, uang jajan, uang untuk menjalankan hobi saya belajar. Ternyata banyak juga kebutuhan dasar saya. Harus lebih sederhana. Karena kesederhanaan adalah kekuatan.

Baru saja saya berbincang dengan teman baik saja yang gaul abizzz. Teman ini menunjukkan foto di blackberry nya sambil cerita ,”Ini lho si A. Rumahnya keren, mobilnya Alphard. Dia simpanan pejabat X.” Hmmm, ternyata banyak juga wanita yang hidup mewah karena menjadi simpanan pejabat.
Pantas korupsi merajalela...

Kesederhanaan adalah kekuatan. Ternyata tidak mudah untuk sederhana. Saya ingin membeli laptop baru yang keren, ingin beli samsung galaxy terbaru yang keren. Perlu untuk mengganti AC kamar dengan AC dengan watt rendah. Sepatu saya tampaknya sudah butut. Perlu sepatu baru. Tas juga tampak sudah butut. Jadi capek deh dengan nafsu...

Capek dengan nafsu, lupa untuk bersyukur.

Saya memperhatikan Mbak Jul, tukang cuci gosok di rumah tetangga saya. Setiap hari dia bekerja di 3 rumah. Hari minggu dia libur. Libur bagi dia adalah kemewahan.

Hebat Mbak Jul itu. Setiap hari bekerja, tanpa rekreasi, kok bisa ya. Mungkin karena dia tidak neko-neko. Mungkin karena sederhana. Mungkin karena dia bersyukur dengan gaji yang tidak seberapa.
Saya melihat ke diri sendiri. Mengapa lupa bersyukur? Saya bisa jalan-jalan. Saya bisa hang out dengan teman di cafe. Saya bisa beli buku-buku keren yang saya suka. Saya punya kemewahan untuk belajar spiritual. Spiritualitas adalah hal yang paling mewah di dunia ini. Banyak orang yang tidak sempat menyisihkan waktu dan tenaga untuk belajar hal yang paling mewah ini.

Sederhana dan bersyukur...itulah kunci kebahagiaan *ngomong sama cermin. Btw, saya bukan penceramah ya wkkkkkk.

TerimaKasih... Namaste _/l\_

Translate

About Me

Foto Saya
Guruntala
🌹A dam mast qalandar. #BlessingsClinic 🌹Give some workshops: Meridian Face & Body Massage, Aromatherapy Massage with Essential Oils, Make up. 🌹Selling my blendid Face Serum. IG & twitter: @guruntala
Lihat profil lengkapku

Followers

Komentar Terbaru

Visitors

free counters