Selasa, 12 Juni 2012

Mempertanyakan HypnoParenting 2


Beberapa hari lalu seorang teman baik mengaku, “Setelah 12 tahun perkawinan, aku baru sadar bahwa aku menderita paranoid. Aku ketakutan suamiku meniduri pembantu, aku takut suami meniduri pembantu tetangga, aku takut suami jatuh cinta pada karyawati di kantor. Kalo jalan dengan suami aku bisa pulang sambil menuduh suami main mata dengan wanita yang ditemuinya. Syukur suamiku termasuk orang sabar dan sayang padaku. Aku melawan paranoid ini dengan berbicara pada diri sendiri, “suamiku orang baik, suamiku rajin bekerja untuk membahagiakan anak istrinya, suamiku orang yang bisa dipercaya.”

“Syukurlah saat ini aku sudah tidak paranoid berlebihan. Hampir saja aku bercerai karena paranoidku yang berlebihan. Aku bisa histeris menuduh suamiku selingkuh,” lanjut teman yang sangat manis dan berpenampilan bagai seorang model ini.

Menarik nih. Jadi tertarik untuk wawancara tidak resmi. Teman ini dekat dengan neneknya. Bila neneknya datang menginap ke rumahnya, dia tidur bersama neneknya. “Nenekku suka mengelus kepalaku sambil bercerita atau memberi nasehat hingga aku tertidur. Cerita dan nasehat nenek berkisar tentang pengalaman hidupnya, ”cerita si teman. “Nenek slalu menekankan, “Jangan percaya suami. Jangan percaya teman walaupun teman baik karena dia bisa mengkhianatimu. Teman baik bisa selingkuh dengan suamimu. Wanita lain walau jelek bisa tidur dengan suamimu!”


Nenekku itu trauma karena kakekku menikahi wanita yang sama sekali tidak cantik, dan tidak setara dengan nenekku, ”lanjut teman. “Nenekku cantik. Dari keluarga berada dan terpandang. Beliau sekolah Belanda, pandai memasak, pandai mengurus rumah tangga, pandai mengurus anak. Nenekku terguncang ketika menerima kenyataan tentang kakekku yang telah menikahi wanita yang tidak setara dengannya. Dan yang lebih menyakitkan, kakekku sayang pada istri keduanya itu.

Nenek teman ini memberi nasihat dengan maksud baik, agar cucunya berhati-hati. Tapi maksud baik belum tentu tepat. Betapa teman ini menderita bertahun-tahun karena paranoid hingga histeris ketika menuduh suaminya “meniduri pembantu.”

Kakek, Nenek, Ibu, Bapak umumnya sangat mencintai anak-anaknya, menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, rela berkorban untuk anak-anaknya. Namun yang “terbaik” menurut orang-tua belum tentu “tepat” untuk anak.

Banyak cerita disekitar kita tentang maksud baik orang tua yang berubah menjadi petaka bagi anak.

Saya masih ingat cerita 30 tahun lalu ketika saya masih kost di daerah Klampis Sacharosa Sukolilo Surabaya. Seorang teman kost, Okkie bercerita tentang kakak kelasnya yang tiba-tiba hilang ingatan. Kakak kelasnya itu alumnus FMIPA ITS Surabaya, jurusan Matematika. Setelah lulus, si kakak kelas, Tono (bukan nama sebenarnya) melamar sebagai karyawan ke perusahaan-perusahaan di Surabaya. Mungkin karena belum nasib, Tono belum juga diterima. Pusing karena terlalu lama menganggur, Tono bertekad untuk bekerja dimana saja. Akhirnya Tono diterima sebagai Guru SMP. Dengan gembira, Tono bercerita pada bapaknya bahwa dia telah diterim bekerja sebagai Guru SMP. Bapaknya menjawab, ”Percuma kuliah tinggi-tinggi di ITS bila akhirnya hanya menjadi Guru SMP. Lihat Bapakmu ini. Bukan lulusan ITS tapi bisa menjadi Kepala Sekolah SMP.” Tono stress dan mengurung diri di kamar. Khawatir dengan keadaan Tono yang sudah tiga hari tidak keluar kamar, keluarganya akhirnya mendobrak pintu. Tono melihat ke arah keluarganya dengan wajah tanpa ekspresi. Resmilah Tono menjadi penyandang sakit otak. 

Cerita ketiga *smile. Saat saya sedang Kuliah Kerja Nyata, seorang teman dari jurusan Teknik Mesin bercerita tentang keadaan temannya Anto (bukan nama sebenarnya) yang menyedihkan. “Anto bisa keluar dari toilet tanpa memakai celana, bisa pipis sembarangan. Bagaimana dia bisa melanjutkan kuliah dalam keadaan seperti itu, “cerita teman yang prihatin ini.

“Anto itu orang yang sangat cerdas. Dia ingin melanjutkan kuliahnya di IAIN (sekarang UIN, Universitas Islam Negeri). Namun orang tuanya tidak ingin Anto kuliah di IAIN karena kurang keren. Orang tuanya mengarahkan Anto agar kuliah di ITS, agar bisa kerja di Pertamina atau Perusahaan besar lainya, bisa bergaji besar, bergelar Insinyur. Kasihan ya, daripada kuliah di ITS tapi jadi gak waras mending kuliah di UIN, barangkali dia bisa menjadi ulama besar, “lanjutan cerita si Teman.

Ketiga kisah nyata diatas menjadi renungan saya ketika membaca buku Hypnoparenting. Apakah memberi hipnosis intensif/ hipnosis dosis tinggi/ sugesti berulang-ulang pada anak seperti yang diterangkan pada buku HypnoParenting berdampak baik pada anak? Anak bisa jadi anak yang manis,anak yang penurut sesuai harapan orang tua. Namun apakah orang-tuanya benar?

Saya mendengar cerita dari teman saya, seorang Psikolog Klinis tentang orang-tua yang harapannya terlampau tinggi pada anak. Ada anak klien beliau yang perkembangannya terganggu namun dipaksa orang-tuanya untuk sekolah dua bahasa, diharapkan lancar membaca menulis berhitung agar “seperti-anak-anak-lain”. Teman saya ini menyerah untuk memberikan terapi pada anak itu karena orang-tuanya menutup mata tentang keadaan anaknya. Anaknya yang berkebutuhan khusus semestinya ditangani khusus, dan tidak dibanding-bandingkan dengan anak orng lain yang “normal”.

Berbincang tentang hipnosis, semua yang masuk lewat indra kita adalah hipnosis. Namun ada hipnosis dosis rendah, ada hipnosis dosis tinggi. Tolong koreksi saya bila keliru *smile. Maklum baru belajar.

Mengapa kita perlu berhati-hati dengan pergaulan kita? Karena pergaulan akan menghipnosis kita, walau dosisnya rendah lama-lama berasa. Kata orang bijak, seseorang bisa ditebak berdasarkan teman-teman dia. Bergaul dengan orang rajin bekerja kita akan tertular rajin. Bergaul dengan orang optimis membuat kita ikutan optimis. Bergaul dengan orang mellow, kita bisa ikutan mellow. Makanya nasehat orang bijak, bergaullah dengan orang yang di “atas’ kita agar kita bisa ikutan naik. “Atas” disini berarti orang di atas kita dalam arti pengetahuan, wisdom, ketrampilan, apapun. Misalnya kita ingin jadi penulis yang baik, bacalah buku orang yang “lebih” dari kita. Bacalah karya Pearl S. Buck, Amy Tan, Alberthiene Endah, Raditya Dika, Ayu Utami, Dee Lestari dll sehingga kita akan bisa menulis sebaik mereka.

TV menghipnosis kita. Oleh sebab itu jangan biasakan tertidur saat TV sedang menyala karena apa yang sedang ditayangkan di TV akan  masuk ke bawah sadar kita. Musik, lagu menghipnosis kita. Untuk itu, sebaiknya kita  menyaring musik yang kita dengar. Lagu mellow membuat kita mellow, lagu rock membuat kita terbawa ke alam rock. Ada musik dan lagu-lagu yang membuat kita “up”, ada yang membuat kita”down”.

Apa yang tertangkap mata bisa menghipnosis kita, akan masuk bawah sadar kita. Untuk itu Ilmu Feng Shui menyarankan untuk meletakkan simbol di bagian rumah terkait. Misalnya meletakkan kura-kura pada bagian karir. Sebagai afirmasi agar karir kita persistence seperti kura-kura. Pada bagian wealth, biasa diberikan tanaman atau simbol kodok, agar keuangan kita tumbuh seperti tanaman, kita bisa mencari makan di air maupun di darat seperti kodok.

Materi pada halaman 25-32 di buku HypnoParenting karya Dewi Yogo Pratomo membuat saya bertanya-tanya. Karena pemberian hipnosis dosis tinggi (sugesti intensif/ berulang saat menjelang tidur) tidak bisa diberikan sembarangan, harus berhati-hati.

Memberikan sugesti pada obyek menjelang deep sleep adalah metode hipnosis yang dikuasai oleh umumnya rekrutmen “pengantin” teroris, dikuasai oleh intel dan kontra intel. Karena metode ini efektif menanamkan “kehendak si penghipnosis” pada obyek.

Nah, bagaimana dengan pemberian sugesti pada anak menjelang dia masuk deep sleep sebagaimana yang diajarkan pada buku HypnoParenting karya Dewi Yogo Pratomo ini? Sebagaimana halnya pisau yang tajam dapat dipergunakan untuk memotong bahan makanan, bisa digunakan dalam surgery, namun bisa pula untuk membunuh orang, maka hipnoterapi pun demikian. Perlu kebijakan dan kehati-hatian.

Teman saya, seorang dokter membawa anak gadisnya ke satu Hipnoterapis yang baik. Lila, nama anak gadis berusia 6 tahun itu, sering merasa takut yang berlebihan. Suara ranting pohon yang bergerak karena ditiup angin bisa membuatnya sangat ketakutan. Saat bertemu dengan Hipnoterapis, Lila diajak ngobrol, diminta menggambar apa yang membuatnya takut. Lila menggambar sambil menangis. Setelah sesi menggambar baru Lila dihipnoterapi. Baru dihipnoterapi satu kali, Lila menunjukkan kemajuan yang berarti. Teman saya belum sempat lagi membawa Lila untuk terapi, beliau sibuk dengan pekerjaan dan sibuk mengambil S3 nya. “Lila sudah oke lho, padahal hanya satu kali dihipnoterapi. Harusnya sih dua kali,” cerita Ibunya Lila.

Jadi Hipnoterapi salah satu metode healing yang oke kan? Namun menerapkan Hipnoterapi perlu keahlian, wawasan, kehati-hatian. Repot juga bila ada seorang Ibu belajar Hipnosis trus langsung praktek padahal wawasannya sempit, atau Ibu itu “sakit”. Kasihan anaknya...

Terimakasih
Salam takzim _/l\_


0 komentar:

Posting Komentar

Translate

About Me

Foto Saya
Guruntala
🌹A dam mast qalandar. #BlessingsClinic 🌹Give some workshops: Meridian Face & Body Massage, Aromatherapy Massage with Essential Oils, Make up. 🌹Selling my blendid Face Serum. IG & twitter: @guruntala
Lihat profil lengkapku

Followers

Komentar Terbaru

Visitors

free counters