Selasa, 08 Oktober 2013

Belajar dari Penulis Serba Bisa: Dewi Lestari




Tulisan ini saya kutip dari buku “My Life as Writer” karya Haqi Achmad dan Ribka Anastasia Setiawan. Namanya juga kutipan, isinya hanya sedikit dong dibandingkan dengan bukunya. Yang penasaran silakan beli di toko buku ya...

Penulis fenomenal. Mungkin itu sebutan yang paling pas untuk seorang Dewi Lestari. Awalnya publik lebih mengenal sosoknya sebagai seorang musisi sampai akhirnya di 2001, Dewi melakukan gebrakan besar dengan menerbitkan novel pertamanya Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh.

Setelah novel pertama, langkah Dewi di dunia tulis-menulis seakan tidak dapat dibendung. Dewi melanjutkan langkahnya dengan menerbitkan Supernova: Akar di 2002 dan pada 2005 ia melanjutkan seri Supernova dengan menerbitkan buku berikutnya yang diberi judul Petir.

Dewi menerbitkan kumpulan cerpen Filosofi Kopi di 2006. Di 2007, Dewi membuat novel digital pertama berjudul Perahu Kertas. Pada 2008, Dewi membuat Rectoverso dan di 2009 Perahu Kertas diterbitkan dalam format buku. Tahun 2011 Dewi kembali menerbitkan kumpulan cerpen yang diberi judul Madre dan setahun setelahnya ia menerbitkan buku keempat dari seri Supernova yang berjudul Partikel. Perjalanan Dewi sebagai penulis memasuki titik baru ketika ia menulis skenario film Perahu Kertas yang disutradarai Hanung Bramantyo.

Dewi Lestari terus membuat banyak orang kagum dengan karya-karyanya. Dewi terus membuat semua orang yakin bahwa ia memang juaranya, bahwa apa pun yang dihasilkannya akan selalu menjadi magnet yang menarik banyak orang. (halaman 86).

Dewi mulai menulis sejak ia kelas 5 SD. Pada waktu itu, Dewi memiliki khayalan yang kemudian menggerakkannya untuk mulai menulis.

Jika ada hal paling rutin yang aku lakukan seumur  hidupku, selain makan dan minum, hal itu adalah menulis buku harian.

Dewi rutin menulis buku harian, menuliskan ceritanya dengan tulisan tangan hingga 1995.

Dimuatnya cerpen di majalah Mode dan kemenangan pada lomba menulis di majalah Gadis membuat motivasi Dewi untuk menulis menjadi lebih kuat. Dari motivasi tersebut, Dewi melangkah lebih lanjut.

Penulis handal tidak muncul tiba-tiba. Dia rajin melatih diri. Bisa dengan rajin menulis buku harian seperti Dewi. Bisa dengan rajin membayangkan sebuah cerita dan mulai merangkai cerita itu dengan tekun seperti yang dilakukan oleh JK. Rowling.

Apa yang membuat Dewi memutuskan untuk menjadi penulis?

Pertama, karena menulis adalah sesuatu yang aku bayangkan akan terus aku lakukan sampai tua nanti. Di satu sisi, menulis adalah profesi yang sangat langgeng dibandingkan dengan industri hiburan atau dunia olahraga. Atlet hidupnya sangat terbatas, penyanyi terbatas, model juga terbatas. Tapi kalau menulis, sampai seseorang tua renta, selama fisik dan otaknya dapat bekerja, ia dapat terus menulis. Bahkan ketika seseorang tidak lagi dapat mengetik, ia dapat menyuruh orang untuk mengetik.

Kedua, menulis memberikan kemerdekaan untuk lebih banyak di rumah. Menulis tidak mengharuskanku terjebak macet di jalan. Menulis membuatku tidak perlu tampil menjadi orang lain yang bukan diriku. Dalam artian aku nggak perlu make up atau dandan heboh untuk menunjukkan aku penulis. Sebagai penulis, aku berbicara lewat bukuku.

Kamu ingin menjadi penulis?
Menurut Dewi ada beberapa syarat yang wajib dipunya jika kamu ingin menjadi penulis:
1.      Berani Gagal
2.      Berani Berhasil
3.      Menjadi Pengamat yang Baik.
4.      Jujur dengan diri sendiri.

Kalau dari parameter luar, kesuksesan penulis dapat dilihat ketika bukunya masuk ke kategori bestseller dan dia bisa mandiri dari royalti menulis. Menurutku, itu adalah tolak ukur yang sangat jelas.

Kamu ingin menjadi penulis tapi merasa bahwa kamu tidak memiliki bakat menulis? Jangan sedih! Menurut Dewi, faktor untuk menjadi penulis bukan bakat, melainkan kerja keras.  

Ingin mengintip cara Dewi Lestari dalam menyelesaikan buku?

Tiap ada proyek atau buku yang sedang aku kerjakan, aku harus pakai target, kalau nggak ada target semuanya bisa molor.”

“Menurut aku, kunci jawaban dari segala distraksi ketika menulis adalah tenggat. Kalau ada deadline, kamu akan menemukan berbagai macam cara untuk menyelesaikan tulisanmu. Kalau nggak ada tenggat bisa saja kamu berhenti menulis”

“FYI, aku tidak menulis setiap hari. Aku punya jadwal menulis ketika aku sedang punya proyek atau sedang menyelesaikan buku. Sifatnya lebih ke project based. Aku juga pengin punya rasa bebas dan tidak tiap hari menulis.”

Karena sesungguhnya aku pun punya masalah dengan rutinitas. Seperti sekolah misalnya. Aku, tuh, selalu bertanya-tanya, why do I have to be at the same place at the same time, everyday? Bagiku itu neraka.”

“Menulis pun sama. Tapi ketika aku sudah set up, misalnya,” Oke aku mau nulis proyek baru”, aku benar-benar dalam sekian bulan akan terus menulis dan menjadikannya ritual. Tapi setelah proyek itu selesai aku mau menikmati masa-masa tanpa menulis, hanya baca, main sama anak, dan melakukan hal lain tanpa harus dikejar-kejar nulis.”

Apa manfaat menulis yang telah Dewi dapat?

“Jika ditanya apakah menulis bisa membuat hidupku lebih berkualitas, bermutu, dan berbahagia, jawabanku, ya. Karena ini memang hal yang aku inginkan banget. Dan di sini aku berkembang. Aku bertemu banyak orang karena menulis.

“Dan saat ini bisa dibilang menulis adalah nafkahku, profesiku. Aku tidak banyak lagi ambil job musik yang banyak keluar rumah. Aku lebih banyak nulis di rumah dan sebagian besar pendapatanku adalah dari royalti. Jadi, menulis adalah tempatku mencari nafkah.

Demikian kutipan tentang  Dewi Lestari dari buku My Life as a Writer. Kutipan ini tidak sampai 3 halaman, sementara bukunya setebal iv + 192 halaman. Buku ini berkisah tentang pengalaman Alanda Kariza, Farida, Clara Ng, Vabyo, dan Dewi Lestari dalam meniti karir dan menjalani profesi sebagai penulis. 

Keren kan...
TerimaKasih... Namaste _/l\_


1 komentar:

Unknown mengatakan...

terimakasih info nya sangat bermanfaat, jangan lupa kunjungi kami http://bit.ly/2wDDymQ

Posting Komentar

Translate

About Me

Foto Saya
Guruntala
🌹A dam mast qalandar. #BlessingsClinic 🌹Give some workshops: Meridian Face & Body Massage, Aromatherapy Massage with Essential Oils, Make up. 🌹Selling my blendid Face Serum. IG & twitter: @guruntala
Lihat profil lengkapku

Followers

Komentar Terbaru

Visitors

free counters