Selasa, 08 Oktober 2013

Sendiri di Luar Angkasa: Review Film: Gravity




Indah sekali film “Gravity” ya. Bayangkan kita  menjadi astronot dan melayang di angkasa. Indahnya keheningan. Indahnya angkasa. Indahnya matahari terbit. Indahnya bumi. Subhanallah.

Jadi pingin nonton lagi khusus untuk menyaksikan pemandangan luar angkasa, dan matahari terbit. Film “Gravity” ini dibuat selama 4 tahun. Butuh waktu 2.5 tahun untuk membuat latar belakang film agar tampak seakan-akan nyata.

Cerita film ini sederhana. Seorang bio-medical engineer, Dr. Ryan Stone adalah Mission Specialist pada penerbangan luar angkasa pertamanya ditemani oleh Astronot Matt Kowalski yang memimpin ekspedisi luar angkasa untuk terakhir kali. Pesawat luar angkasa mereka ditabrak oleh benda-benda yang diledakkan dari Anti Satelit Rusia.

Bagaimana Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) berusaha untuk kembali ke bumi sementara pesawat ruang angkasanya hancur? Keren dah akting Sandra Bullock.

Bagaimana bila kita sendiri di angkasa yang maha luas dan tak bisa kembali ke bumi. Saya pernah memimpikan hal itu. Serem!!! Serem karena kita merasa sendiri. Itulah ketakutan terbesar kita, mati dalam kesendirian. Padahal manusia menemui Tuhan sendiri-sendiri kan ya.

Keren abiez Matt Kowalski yang diperankan oleh George Clooney. Jadinya ngefans sama Matt Kowalski atau sama George Clooney gak sih wkkkkk

Saya suka dengan adegan Ryan Stone yang diam terpaku pada Chinese Space Station Tiangong. Arwah  Matt Kowalski mendatanginya, memberi semangat dengan senyum “everything is gonna be okay”. Menurut cerita, kedatangan Matt Kowalski ini adalah halusinasi Ryan Stone. Tapi bisa benaran lho. Ruh orang yang meninggal kan ringan, mau kemana saja bisa, mau keluar angkasa, mau travelling menjelajah manca negara oke aja. Dan, arwah orang yang sudah meninggal biasanya tampil dengan pakaian yang terakhir dikenakannya. Nah, Matt Kowalski ini kan meninggal dalam pakaian astronot, maka dia muncul dalam pakaian astronot.

Tuhan yang Maha Mengetahui, kita kan cuma mengira-mengira. Menurut Master Spiritual sih seperti itu. Ruh orang yang sudah meninggal bisa pergi kemana saja. Bahkan sebelum bereinkarnasi, ruh untuk sementara tinggal di angkasa untuk menerima pelajaran. Benar atau salah, saya tidak bisa memastikan. Alam semesta ini begitu luas, siapa sih kita yang ngotot bahwa kita paham tentang arwah, tentang kehidupan lain sesudah mati dan lain-lain.

Matt Kowalski intinya ngomong ke Ryan Stone, “mau tinggal di sini atau ke bumi untuk memulai hidup baru.” Ryan Stone memang sudah cerita ke Matt Kowalski bahwa dia hidup sendiri, tanpa suami tanpa anak. Anaknya meninggal ketika masih balita. Sejak itu hidup Ryan Stone berkisar pada kerja di kantor dan menyetir mobil.

Jadi berpikir ya, apa makna hidup ini. Orang awam bilang hidup itu untuk anak cucu. Bagaimana bila terjadi sesuatu pada anak cucu, entah kecelakaan, penyakit, atau anak cucu meminggal. Manusia akan berpikir ulang, untuk apa hidup ini. Orang yang hidup, yang berjuang untuk memberikan yang terbaik untuk anak cucu juga akan berpikir di akhir hidupnya. Anak cucu yang oke-oke itu toh akan ditinggalkannya di dunia ini. Hidup di dunia bagaikan orang mampir minum, hanya sekejab. Bagaimana kita menghadapi kematian sendirian. Anak, cucu, suami-istri pasti tak bersedia mendampingi kita menuju kematian...

Btw, selain sangat indah, film ini membuat saya bertanya, bagaimana rasanya mati dalam kesendirian. Mau kemana kita setelah mati? Kita hanya sendiri sementara semesta begitu luas. Luas dan sangat indah.

TerimaKasih... Namaste _/l\_

0 komentar:

Posting Komentar

Translate

About Me

Foto Saya
Guruntala
🌹A dam mast qalandar. #BlessingsClinic 🌹Give some workshops: Meridian Face & Body Massage, Aromatherapy Massage with Essential Oils, Make up. 🌹Selling my blendid Face Serum. IG & twitter: @guruntala
Lihat profil lengkapku

Followers

Komentar Terbaru

Visitors

free counters